Ilustrasi Terumbu Karang di Pulau Tomia,Wakatobi (Trubus.id / Binsar Marulitua)

Wisata Bahari Kian Digemari, Terumbu Karang Tersakiti?

Trubus.id -- Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki keindahan pantai dan laut yang indah. Tak hanya dipermukaan, di kedalaman laut pun, keindahan alam indonesia tak kalah menawan. Beragam jenis terumbu karang dan biota laut lainnya, sudah lama menjadi magnet buat para wisatawan pecinta olahraga menyelam dari seluruh penjuru dunia. 

Yah, berada di jantung segitiga terumbu karang dunia, Indonesia memiliki ekosistem terumbu karang hingga 2.517.818 hektare. Tak kurang dari 55 tujuan wisata selam dengan 1.500 titik menyelam pun tersedia dan siap dikunjungi.

Dengan semakin maraknya peminat olah raga menyelam belakangan ini, sektor pariwisata di bidang ini pun mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Tak hanya pemilik agen wisata besar, warga yang terlibat dalam industri ini juga terkena imbasnya. Penghasilan mereka pun ikut bertambah.

Namun sayangnya, perkembangan olah raga menyelam di Indonesia bak pisau bermata dua. Di satu sisi, sektor pariwisata di beberapa wilayah yang memiliki spot menyelam memang berkembang. Di sisi lain, keberlangsungan terumbu karang kian terganggu. Ancaman kerusakan parah tidak bisa dihindarkan.

Instruktur Fisheries Diving Club (FDC) IPB, Budi Hascaryo mengatakan, kerusakan terumbu karang biasanya terjadi akibat ulah penyelam atau diver pemula. Pasalnya, biasanya penyelam pemula belum terlalu memahami cara menjaga ekosistem terumbu karang di dasar laut dengan baik dan cara mengindari kerusakan akibat kegiatan menyelam.

“Banyak diver pemula suka menyentuh terumbu karang, atau secara tidak sengaja menginjak terumbu karang. Terumbu karang yang terinjak pasti akan rusak,” ungkap Budi, di Balai Sidang Jakarta, Sabtu (10/3) lalu.

Ia menambahkan, prilaku penyelam pemula yang kerap berfoto di bawah laut sambil memegang terumbu karang juga beresiko merusak terumbu tersebut. 

Dhanang Puspita, founder Salty Fish Diving Club menambahkan, minimnya keterampilan atau skill menyelam juga berkontribusi besar menyumbang kerusakan pada terumbu karang. Dhanang menyebut, keterampilan keseimbangan (Bouyency) yang baik salah satunya.

"Kelalaian dari penyelam, mungkin saja memotret atau dipotret dekat atau sambil memegang karang, jika bouyency-nya buruk bisa menyenggol dan mematahkan karang. Atau rasa ingin tahu dengan cara menyentuh atau memegang karang. Biasanya faktor bouyency buruk dimana finn atau tangki bisa menghantam karang," jelasnya di kesempatan yang sama.

Sementara itu, Kordinator Bidang Lingkungan, Perkumpulan Usaha Wisata Selam Indonesia (PUWSI), Salma Nurhayati menjelaskan, wisata menyelam selama ini memang berkontribusi besar pada industri pariwisata nasional. Soal dampak kerusakan yang diakibatkan kegiatan ini juga sudah dituangkan dalam bentuk Peraturan Menteri Pariwisata Republik Indonesia NOMOR 7 Tahun 2016 yang berisi soal pedoman penyelengaraan wisata selam rekreasi. 

"Jadi peraturan tersebut mengatur operasional prosedur yang bertujuan mengatur pelaksanan kegiatan dan pengawasan penyelaman yang dilakukan oleh pengusaha wisata selam dan wisatawan guna memenuhi aspek keselamatan, keamanan, serta pelestarian alam dalam kegiatan wisata selam rekreasi," jelasnya.

Karena itu, dia menyarankan agar operator menyelam atau pemandu wisata selam menghitung daya dukung suatu lokasi menyelam melalui pendekatan Bisnis Ecosystem. Tujuannya agar tercipta suatu regulasi yang berwawasan lingkungan, di mana regulasi tersebut memuat kebijakan conservation, yang sustainable, danequitable baik untuk bisnis wisata maupun konservasi.

Salma juga menyebut, operator wisata menyelam juga berkewajiban merubah paradigma bahwa terumbu karang adalah modal yang diberikan oleh ekosistem sehingga bisa dieksploitasi tanpa batas.

Wisata Bawah Laut Indonesia

Adalah anugerah memiliki kekayaan laut tak ternilai seperti Indonesia. Karena itu banyak wisatawan mancanegara yang sengaja datang ke sini untuk ikut menikmati keindahan alam bawah lautnya.  

Menurut data Kementerian Pariwisata (Kemenpar) destinasi yang menjadi magnet wisatawan dunia adalah Kepualauan Raja Ampat (Papua Barat), Kepulauan Komodo, Rinca (Nusa Tenggara Timur), Selat Lembeh, Bitung (Sulawesi Selatan), Kepulauan Bunaken (Sulawesi Utara), Tulamben (Bali), Nusa Peninda (Bali), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Derawan (Kalimantan Timur), Pulau Menjangan (Bali Barat), Pulau Sangean, Sebuku, Sebesi (Banten) dan Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Air, Gili Nanggu (NTB).

"Indonesia menargetkan 20 juta wisatawan mancanegara sampai pada tahun 2019. Di mana wisata bahari masih menjadi unggulan dan Raja Ampat selalu jadi senjata yang didorong percepatan pembangunannya oleh Kemenpar," jelas Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata (Kemenpar), I Gde Pitana kepada Trubus.id belum lama ini.

Konsultan Pariwisata Berkelanjutan Berwatak Wirausaha Sosial dan Founder Aborek Diving Shop, Githa Evangelista Anathasia pun mengamini. Ia mengatakan bahwa kegiatan diving di Raja Ampat mengalami perkembangan sangat pesat, baik dari turis lokal maupun mancanegara. 

Seperti diketahui, Raja Ampat memiliki titik penyelaman dengan ragam keindahan terumbu karang. Tak kalah hebatnya, berbagai jenis ikan juga bisa ditemui di sana. Tak salah jika lokasi ini kerap mendapat penghargaan dari berbagai asosiasi bawah laut tingkat dunia.

Githa menambahkan, ada beberapa titik terbaik yang disukai para wisatawan. Diantaranya adalah Blue Magic, Oceanic Manta Rays Cape Kri the most biggest coral fish diversity found by  Mr.Gerry Allen, Manta Sandy, Melissa Garden, Magic Mountain. 

“Kerapatan terumbu karang dan varietas dari ikan karang. Tutupan karang yang luar biasa, serta ikan-ikan besar seperti manta ray, hiu, paus dan dugong juga banyak disini," jelas Githa.

Ia juga menyebut, wisatawan mancanegara yang ke Raja Ampat tak hanya dari Asia. Wisatawan dari Eropa juga banyak yang datang berwisata ke sana. 

“Kalau dari negara lain itu yang paling banyak dari Perancis, Jerman. Asia seperti China dan India,” katanya kepada Trubus.id.

Namun Githa mengakui, kunjungan turis dalam jumlah besar juga disebutnya tidak baik karena bisa mempengaruhi kebersihan lingkungan di tempat tersebut.

“Efek dari mass tourism disini sangat terasa sekali. Banyak yang masih belum paham mengenai bahaya sampah plastik. Dari kami sendiri berusaha mengurangi penggunaan sampah plastik dengan melakukan underwater beach clean up dan beach clean up di kampung (Aborek) kami,” jelasnya lagi.

Selain faktor kebersihan lingkungan, Githa juga mengkritisi para pelaku wisata menyelam atau fun diving yang belum mengetahui regulasi bagaimana ketentuan dalam menyelam. Dampaknya bisa buruk untuk ekosistem terumbu karang.

“Sangat berpengaruh, karena mereka belum terlatih. Jadi memang harus dibuat regulasi siapa dan bagaimana etika berwisata di Raja Ampat,” katanya. 

Menurutnya, Fun dive, discovery scuba dive dan try scuba mempunyai ketentuan menyelam dengan kedalaman maksimal hingga 12 meter. Selain itu, kegiatan ini juga harusnya dilakukan di perairan yang tidak berarus dan bukan lokasi dengan tingkat kerapatan karang yang tinggi.

Karena itu, guna mencegah kerusakan pada terumbu karang, dibutuhkan pemahaman bersama sebelum kegiatan penyelaman dilakukan. Githa menyampaikan, langkah yang kerap ia ambil dalam hal ini diantaranya adalah, sebelum menyelam ia tak pernah lupa melakukan briefing kepada para peserta.

Ketentuan-ketentuan penting dalam menyelam seperti Dive level certification, Dive logs, Dive experiences, Dive locations, Dive in locations, Marine life dan SOP diving yang ia sampaikan dalam briefing tersebut. 

Kondisi Terumbu Karang

Indonesia adalah salah satu negara Mega Biodiversity yang dikaruniai Keanekaragaman hayati dengan tingkat endemisme dan organisme dalam struktur geografi yang sangat tinggi. Di lautan, negara dengan bentang kepulauan ini pun dipuja sebagai "heaven under the sea" karena masuk di dalam kawasan segitiga karang dunia, sekaligus pemilik 53 persen ekosistem tersebut.

Kepala Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O LIPI), Dirhamsyah mengatakan, karang keras (ordo Scleractinia) di Indonesia memiliki kekayaan jenis paling tinggi. Jumlahnya mencapai 569 jenis dari 82 marga dan 15 suku dari total 845 jenis karang di dunia. Jenis karang famili Fungiidae misalnya, 90 persennya ditemukan di perairan Indonesia atau 41 jenis dari total 43 jenis yang ada di dunia.

Dirhamsyah menyebut, luas bentangan terumbu karang di Indonesia bisa mencapai 2.517.858 hektare. Riniciannya, Bali 8,37 hektare, Jawa 67,869 hektare, Kalimantan,119,304 hektare, Maluku  433,110 hektare, Nusa Tenggara 272,123 hektare, Papua 269 hektare, Sulawesi 862 hektare dan Sumatra 478,587 hektare.

Ia menambahkan, dari luasan tersebut, tersebar beberapa karang endemis Indonesia. 

"Ada empat jenis karang endemis, Acropora suharsoonoi, Isapora  togeanensis, Indophyllia Macassarensis dan Euphilia baliensis. Kekayaan terumbu karang seharusnya ini bisa menjadi salah satu modal dasar pembangunan yang berkelanjutan jika dimanfaatkan dengan bijak," tambahnya.

Akan tetapi, Dirhamsyah menyayangkan kondisi terumbu karang Indonesia saat ini. Meskipun terbilang kondisinya terus membaik, akan tetapi dari pantauan 1064 stasiun, terdapat 374 titik yang berada di kondisi jelek atau sekitar 35,15 persen dari total keseluruhan ekosistem terumbu karang di Indonesia. 

"35,06 persen dalam kondisi cukup, 23,40 persen dalam kondisi baik, dan hanya sekitar 6,39 persen terumbu karang yang masih dalam kondisi sangat baik," tambahnya. 

Pengukuran kondisi karang ini didasarkan pada persentase tutupan karang hidup. Pada kategori sangat baik, tutupan karangnya berkisar 76-100 persen. Kategori baik di kisaran 51-75 persen, cukup 26-50 persen, dan kategori jelek dengan tutupan di bawah 25 persen.

Secara umum diakui, memang terjadi kecenderungan peningkatan kondisi terumbu karang Indonesia ke arah yang lebih baik. Pada 2016 tercatat kenaikan sebesar 1,39 persen. Kenaikan ini dilihatnya sebagai indikasi peningkatan luasan dan efektivitas kawasan konservasi perairan, serta upaya rehabilitasi dan pengelolaan terumbu karang di Indonesia.

Akan tetapi, di penghujung 2016 terjadi sedikit penurunan. Menurut Dirhamsyah, hal ini disebabkan pada 2015 dan 2016 hampir di seluruh perairan Indonesia dilaporkan terjadi pemutihan karang yang diikuti dengan infeksi penyakit dan serangan hama.

"Kejadian pemutihan karang ini disebabkan oleh kenaikan suhu air laut akibat fenomena anomali cuaca el-Nino, dan para ahli memperkirakan pemutihan karang akan sering terjadi di masa yang akan datang akibat kombinasi dengan perubahan iklim dan pemanasan global," ujar Dirhamsyah.

Ia melanjutkan, hasil pengamatan di lapangan, pada beberapa lokasi masih ditemukan aktivitas perusakan. Seperti penangkapan ikan menggunakan bom, pencemaran, dan peningkatan pengembangan di wilayah pesisir.

"Karang masif tumbuh rata-rata 1 sentimeter per tahun. Jika suatu koloni karang masif setinggi 1 m hancur, dibutuhkan waktu 100 tahun untuk tumbuh seperti semula. Jadi kami sangat menyayangkan mundurnya KKP dari upaya penegakan hukum," tambahnya.

Ia kembali menjelaskan, hingga kini, konsentrasi sebaran terumbu karang tertinggi berada di bagian tengah dan timur perairan Indonesia. Wilayahnya meliputi perairan Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara, dan Maluku.

Upaya Konservasi 

Kerusakan terumbu karang memang sudah terjadi. Karena itu, upaya konservasi terus dilakukan untuk memperbaikinya. Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Andi Rusandi mengatakan, KKP menargetkan memiliki kawasan konservasi seluas 20 juta hektare pada 2020. Hal ini sebagai langkah nyata untuk mengimplementasikan Coral Triangle Initiative (CTI).

"Di dalam program perlindungan karang kami menerapkan program kawasan konservasi. Semula target rencana jangka panjang menuju 20 juta pada tahun 2020. Tetapi Ibu Menteri Susi Pudjiastuti meminta 20 juta kawasan segara direalisasikan pada tahun 2018 ini. Saat ini angka yang telah tercapai adalah 19,1 hektare," jelasnya. 

Ia menjabarkan, saat ini perlindungan terumbu karang juga sudah masuk ke dalam 172 kawasan konservasi yang terdiri dari Cagar Alam (CA),Cagar Alam Laut (CAL), Taman Wisata (TW), Taman Wisata Alam (TWA), Taman Wisata Laut (TWA), Taman Wisata Alam Laut (TWAL), Taman Nasional (TN), Taman Nasional Laut (TNL), Taman Laut (TL), Suaka Margasatwa (SM), Suaka Margasatwa Laut (SML).

Sebelumnya, KKP juga sudah meresmikan Kawasan Konservasi Perairan di Nusa Penida, Provinsi Bali. Langkah ini dilakukan untuk melindungi kekayaan kehidupan laut dan pesisir, serta mendorong keberlanjutan pariwisata bahari dan perikanan guna menjamin sumber mata pencaharian masyarakat di sana.

Sebelum ditetapkan sebagai kawasan konservasi, Perairan Nusa Penida seluas 20.057 hektare sudah dijadikan sebagai kajian ekologi laut yang dilakukan sejumlah pakar kelautan dunia seperti, Emre Turak dan Gerry Allen pada 2009. Hasilnya, ada 296 jenis karang dan 576 jenis ikan, di mana lima di antaranya merupakan spesies ikan baru.

Berdasarkan survei TNC Indonesia Marine Program, Perairan Nusa Penida menyimpan 1.419 hektare terumbu karang,dan 230 hektare hutan mangrove dengan 13 jenis mangrove. Kini, kawasan konservasi itu sudah pada tahap pembuatan zonasi, perencanaan pengelolaan jangka panjang, pembentukan badan pengelola, dan mekanisme pendanaan jangka panjang. Tahap selanjutnya, baru akan dikeluarkan Peraturan atau Surat Keputusan Menteri.

Patut diketahui, Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) dilandasi Peraturan Presiden (Perpres) 16 tahun 2017, tentang Kebijakan Kelautan Indonesia (KKI), yang menyebutkan bahwa penataan ruang laut pesisir, darat terpadu dan zonasi wilayah pesisir termasuk program atau kegiatan prioritas nasional.

Pembentukan konservasi tersebut merupakan kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Klungkung Bali, beserta masyarakat Nusa Penida, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta The Nature Conservancy (TNC) Indonesia Marine Program dengan didukung oleh USAID - Coral Triangle Support Partnership.

"Di samping Kawasan Konservasi Nusa Penida, KKP telah berhasil menyiapkan perangkat regulasi, SDM serta blue print dan road map pengelolaan kawasan konservasi TNP Laut Sawu seluas 900 ribu hektare, Laut Aru, Laut Banda, Anambas sesuai dengan target tahun ini," kata Andi. [RN] 



Bagaimana reaksi kamu tentang artikel ini ?

Senang

4%

Bahagia

13%

Terinspirasi

17%

Bangga

17%

Sedih

13%

Kaget

17%

Takut

13%

Marah

8%

KOMENTAR ANDA