Tidak Dapat Pasangan di Hari Valentine, Romeo Si Katak Langka Bisa Punah

TrubusNews
Syahroni | Followers 0
14 Feb 2018   08:30

Komentar
Tidak Dapat Pasangan di Hari Valentine, Romeo Si Katak Langka Bisa Punah

Romeo, katak langka paling kesepian di dunia (Foto : Foto: Doc/ Guardian)

Trubus.id -- Hari Kasih Sayang atau Valentine Day tidak serta merta dirayakan manusia saja. Katak sekalipun, ingin merasakan hari cinta kasih yang jatuh tepat hari ini (14/2). Yah, para ilmuwan di Bolivia belum lama ini meluncurkan aplikasi pencarian jodoh untuk seekor katak agar dia bisa merasakan cinta kasih selayaknya mahluk hidup lainnya. 

Adalah Romeo, nama katak tersebut. Para ilmuan ini khawatir, jika sampai Romeo tidak mendapat pasangan, dunia akan kehilangan spesies katak unik itu. Yah, Romeo memang unik. Pasalnya, katak jantan itu diperkirakan hanya tinggal satu di dunia. Benar, Romeo adalah katak langka. Karena itu, jika ia tidak mendapat pasangannya, Romeo akan jadi katak terakhir dalam spesiesnya. 

Baca Lainnya: Aneh, Katak Ini Memangsa Ular Sebagai Makanannya

Romeo sendiri adalah seekor katak air Sehuencas. Ia sudah lama menghuni Bolivia Natural History Museum. Jelang valentine kali ini, peneliti di museum itu meluncurkan aplikasi match.com untuk mencari pasangan untuk Romeo. 

Aplikasi Match.com sendiri menghimpun dana untuk usaha pencarian jodoh bagi Romeo di habitat aslinya tepat pada hari valentine, 14 Februari 2018. Dengan sumbangan itu, peneliti mencari katak betina di sungai-sungai untuk dipasangkan dengan Romeo sebelum terlambat.

Katak air Sehuencas biasanya hidup sekitar 15 tahun. Romeo sendiri kini sudah berusia 10 tahun. Mungkin waktunya untuk menemukan jodoh tersisa hanya 5 tahun lagi untuk bereproduksi sebelum dia mati.

"Kami terus berharap bahwa ada katak betina sejenis di luar sana sehingga kami dapat membangun program pembiakan untuk menyelamatkan spesies ini," kata Arturo Munoz, seorang ilmuwan konservasi, kepada berita AFP.

Baca Lainnya: Apa Beda Katak dan Kodok, 7 Poin Ini Menjelaskannya

Saat Bumi menghadapi apa yang oleh beberapa ahli disebut "kepunahan massal keenam," amfibi, seperti katak, termasuk yang paling terancam. Sekitar setengah dari spesies amfibi (termasuk kodok, salamander, katak, dan kadal) dilaporkan mengalami penurunan populasi drastis setiap tahunnya.

Tahun lalu, 10.000 spesies "katak skrotum" terancam punah yang hidup di Danau Titicaca di perbatasan antara Bolivia dan Peru mati secara massal. Di AS, ilmuwan federal mengatakan populasi amfibi keseluruhan menyusut sebesar 3,8 persen setiap tahun. Tren itu terus berlanjut sejak 1960-an, karena adanya perubahan iklim, penggunaan pestisida, dan penyakit seperti jamur menular yang dapat dengan cepat mengurangi populasi amfibi ini. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: