Ilustrasi (Istimewa)

Tanggul Jebol Tak Kunjung Diperbaiki, Ratusan Petani Trowulan 'Beraksi Sendiri'

Trubus.id -- Sejak Desember 2017 silam, tanggul sungai Watukucur di Mojokerto sepanjang 30 meter jebol akibat tak sanggup menahan debit air di musim penghujan saat itu. Dampaknya, aliran air dari Dam Candi Limo juga terpaksa ditutup di pintu air Paroh. Jika tidak, air akan meluber di tanggul sungai Watukucur yang jebol.

Akibat penutupan pintu air ini, pasokan air ke 8 desa di Kecamatan Trowulan, Mojokerto jadi terputus juga. Kondisi ini jelas mempengaruhi pengairan untuk 600 hektare lahan pertanian di sana.

Baca Lainnya: Tanggul Tak Kunjung Diperbaiki, 2.000 Hektare Sawah di Karawang Kekeringan

Sayangnya, kondisi ini dinilai petani tidak mendapat perhatian serius dari pemerintah. Padahal akibat kejadian itu, ratusan petani di desa tersebut banyak yang gagal panen. 

Kini, setelah berbulan-bulan berlalu menunggu janji pemerintah yang mau memperbaiki tanggul yang jebol, akhirnya para petani bergerak sendiri. Ratusan petani di Dusun/Desa Beloh, Trowulan yang terdampak akhirnya turun tangan memperbaiki tanggul secara swadaya yang dimulai Senin (16/4).

Salah seorang petani, Suprayitno (60) mengatakan, wilayah terdampak jebolnya tanggul ini meliputi Desa Beloh, Temon, Trowulan, Jatipasar, Wonorejo, Kejagan, Tawangsari dan Balongwono. Lahan pertanian di 8 desa ini mengandalkan suplai air dari sungai Watukucur.

Putusnya pasokan air, lanjut Suprayitno, mengakibatkan ratusan petani gagal panen. Suprayitno pun merasakan sendiri dampak jebolnya tanggul tersebut. Hasil panen tanaman padi miliknya seluas 1 hektar di Desa Trowulan, anjlok hingga 75 persen.

Karena kondisi ini, Suprayitno mengaku kerugian yang dia tanggung mencapai Rp 3 juta. Padahal jika pasokan air cukup, rata-rata lahan miliknya menghasilkan 4 ton gabah dalam sekali panen.

"Awal April kemarin panen saya hanya dapat 5 kwintal (0,5 ton) gabah kering. Bulir padi tak ada isinya karena kekurangan air," ungkapnya.

Tak sampai di situ, lanjut Suprayitno, tak adanya pasokan air membuatnya tak berani bercocok tanam lagi. Menurutnya, jika dipaksakan tanpa pasokan air, tanaman bakal mati kekeringan. Dampaknya akan menambah kerugian.

"Katanya pihak pengairan bulan 2 (Februari, red) diperbaiki, tapi sampai bulan ini tak ada kepastian, makanya kami perbaiki sendiri," cetusnya, Senin (16/4) di lokasi.

Sementara itu, saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Mojokerto, Didik Pancaning Argo menjelaskan, sungai Watukucur menjadi kewenangan Dinas PU Sumber Daya Air Jatim. 

Baca Lainnya: Baru Masuk Awal Musim Kemarau, 150 Hektare Lahan di OKU Sudah Kekeringan

"Ini masuk bencana, harus ada surat keterangan kebencanaan dari BPBD Kabupaten Mojokerto. Surat sudah disampaikan ke provinsi," paparnya.

Terkait tak kunjung adanya perbaikan, tambah Didik, hanya persoalan waktu. Menurut Didik, Dinas PU Sumber Daya Air Jatim harus mengerjakan perbaikan di tempat lain.

"Harus bertahap, tak di situ saja. Kalau bencana mungkin dari hulu sampai hilir. Kepastiannya kapan saya tak tahu karena ini kewenangan provinsi," tandasnya. [RN]



Bagaimana reaksi kamu tentang artikel ini ?

Senang

0%

Bahagia

20%

Terinspirasi

10%

Bangga

10%

Sedih

10%

Kaget

10%

Takut

20%

Marah

20%

KOMENTAR ANDA