Sawit Indonesia Diboikot Eropa? Ini Tanggapan Direktur BPDPKS

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 0
23 April 2018   17:45

Komentar

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Beberapa waktu lalu beredar kabar bahwa produk sawit asal Indonesa tengah di boikot oleh Eropa. Alasannya, Eropa menganggap produksi sawit Indonesia menyebabkan persoalan emisi karbon ke udara yang semakin ekstrem.

Menanggapi hal itu, Indonesia sebagai salah satu produsen kelapa sawit terbesar dunia merasa kecewa akan sikap Eropa. Namun meski demikian, kini kondisinya sudah berubah. Uni Eropa dinilai mulai melunak usai Indonesia mengancam akan memboikot produk-produk Eropa. 

Baca Lainnya: Ada Kampanye Hitam Minyak Sawit Indonesia di Eropa, Mentan Minta Tolong PBB

Bayu Krisnamurthi, Direktur Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) yang juga merangkap sebagai Ketua Pengurus Yayasan Bina Swadaya menjelaskan, sebelumnya memang benar ada beberapa perusahaan di Eropa yang telah menyatakan tidak akan menggunakan produk sawit. Bahkan beberapa negara di dunia juga sudah menyatakan bahwa mereka tidak setuju dengan perdagangan sawit.

“Bahkan ada langkah-langkah di parlemen Eropa untuk tidak lagi menggunakan sawit di dalam kebijakan mereka untuk bio diesel,” ujar Bayu kepada Trubus.id.

Namun demikian dikatakan Bayu, sampai saat ini Eropa sebenarnya tidak memboikot sawit Indonesia.

“Bahkan beberapa waktu lalu sekitar dua sampai tiga bulan lalu, kita justru memenangkan perselisihan mengenai sawit di Eropa, dan pengadilan Eropa memutuskan bahwa kebijakan yang menghambat perdagangan sawit Indonesia ke Eropa harus dicabut,” kata Bayu.

Lebih lanjut Bayu menjelaskan, kondisi ini bisa dilihat melalui data ekspor sawit Indonesia ke Eropa tahun 2017. Dalam data itu terlihat grafik meningkat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. 

Baca Lainnya: Mendag: Kampanye Hitam Minyak Sawit Indonesia di Eropa Karena Persaingan Bisnis

Meski masih menemui banyak hambatan, serta beberapa pihak ada yang menyebut jika sawit Indonesia tidak diinginkan, tapi pada faktanya perdagangan sawit masih terus berjalan, bahkan tidak berhenti sama sekali.

Untuk itu, Bayu menekankan bahwa Indonesia harus mengakui ada masalah-masalah yang belum selesai dalam menangani sistem produksi sawit ini.

“Masih ada hal-hal yang masih kita tangani dan perbaiki di dalam sistem produksi sawit kita mulai dari masalah lingkungan kaitannya dengan emisi gas rumah kaca, hubungannya dengan keanekaragaman hayati dan sebagainya itu memang masih harus kita selesaikan,” lanjutnya.

Tapi di sisi lain Indonesia juga harus melihat bahwa kondisi ini merupakan bagian dari kebijakan perang dagang yang dilakukan oleh Eropa untuk melindungi produk-produk mereka sendiri.

“Saya melihat di sini ada kepentingan bisnis di belakanganya, jadi tidak murni hanya berhubungan dengan lingkungan,” papar Bayu lagi.

Lebih lanjut Bayu mengatakan, untuk itu pemerintah Indonesia perlu terus memperbaiki kinerja dalam konteks meningkatkan derajat keberlanjutan dari proses produksi sawit di nusantara.

“Saya ambil contoh bahwa Indonesia saat ini kira-kira menghasilkan sekitar 35 juta ton produk sawit dan sudah ada sekitar 5 juta ton lebih bahkan mungkin sekarang sudah mendekati 6 sampai 7 juta ton produk sawit Indonesia yang telah bersertifikat internasional yang telah diakui oleh Eropa,” tambahnya.

Baca Lainnya: Norwegia Diskriminasikan Sawit, Indonesia Ancam Stop Impor Ikan Salmon

Lebih lanjut pihaknya mengatakan jika proses sertifikasi itu diakui oleh Eropa. Tapi sebelumnya, kira-kira lima tahun lalu, produk sawit Indonesia belum ada yang mendapat sertifikasi dari Eropa.

Kondisi ini membuktikan jika sawit Indonesia progresnya terlihat jelas dan ini akan terus berlanjut dan di dorong sehingga pada waktunya nanti Indonesia akan punya basis produksi sawit yang berkelanjutan. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          

Menhub Budi Karya Apresiasi Petugas Perlintasan di Medan

Thomas Aquinus Krisnaldi   Peristiwa
Bagikan: