Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Patahan Lembang Berpotensi Picu Gempa 6,8 SR

Trubus.id -- Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) mempublikasikan hasil penelitian mereka, yaitu adanya potensi terjadinya gempa bumi berkekuatan tinggi hingga 6,8 Skala Ritcher (SR) pada patahan atau sesar di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Gempa sebesar itu berpotensi menyebabkan kerusakan seperti yang terjadi di Yogyakarta pada tahun 2006.

Deputi Bidang Geofisika BMKG Muhamad Sadly menjelaskan, patahan Lembang memiliki jalur patahan mencapai 30 km. Hasil kajian BMKG menunjukan, terdapat pergeseran patahan Lembang mencapai 5 mm per tahun.

"Adanya potensi gempa bumi di jalur patahan Lembang dengan magnitudo maksimum M=6,8 merupakan hasil kajian para ahli. Kita patut mengapresiasi hasil penelitian tersebut," kata Sadly kepada trubus.id, Senin (14/8/2017).

Lanjutnya menerangkan, BMKG kemudian melakukan pemodelan peta dengan skenario gempa dengan kekuatan 6,8 SR dengan kedalaman hiposenter (titik pusat gempa) 10 km di zona sesar Lembang (garis hitam tebal). Hasilnya menunjukan, dampak gempa dapat mencapai skala intensitas VII-VIII MMI (setara dengan percepatan tanah maksimum 0,2 – 0,4 g) dengan diskripsi terjadi kerusakan ringan pada bangunan dengan konstruksi yang kuat.

"Dinding tembok dapat lepas dari rangka, menara roboh, dan air menjadi keruh. Sedangkan untuk bangunan sederhana non struktural dapat terjadi kerusakan berat, bahkan dapat menyebabkan bangunan roboh. Secara umum skala intensitas VII-VIII MMI dapat mengakibatkan terjadinya goncangan sangat kuat dengan kerusakan sedang hingga berat," tuturnya.

Berdasarkan hasil kajian sesar aktif ini, ia mengimbau pemerintah untuk memperhatikan peta rawan bencana sebelum merencanakan penataan ruang dan wilayah. Perlu ada upaya serius dari berbagai pihak dalam mendukung dan memperkuat penerapan building code dalam membangun struktur bangunan tahan gempa.

Menurutnya, saat ini building code di Indonesia mengacu kepada peraturan SNI 1726-2012. Upaya pembaharuan peraturan ini sedang dalam proses melalui Tim Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN) yang melibatkan lintas bidang dan lintas sektoral, termasuk BMKG berperan aktif di dalamnya.

Yang terpenting, hasil kajian potensi bencana ini jangan sampai membuat masyarakat yang bermukim di dekat jalur sesar ketakutan. Justru dia menyarankan agar masyarakat harus meningkatkan kemampuan dalam memahami cara penyelamatan saat terjadi gempa dan mengikuti arahan pemerintah dalam melakukan evakuasi.

katanya lagi, kegiatan sosialisasi di daerah rawan gempa harus masif dilakukan. Dengan begitu, masyarakat akan lebih siap bertindak saat terjadinya bencana. "Kesiapan dalam menghadapi bencana terbukti dapat memperkecil jumlah korban," tukasnya.

Namun dia meminta kepada masyarakat agar tidak mudah terpengaruh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. "Pastikan informasi gempa bumi berasal dari lembaga resmi pemerintah, dalam hal ini BMKG," ujarnya. [MLV/AS]



Bagaimana reaksi kamu tentang artikel ini ?

Senang

0%

Bahagia

24%

Terinspirasi

8%

Bangga

6%

Sedih

8%

Kaget

22%

Takut

24%

Marah

6%

KOMENTAR ANDA