Keberhasilan Dua Peneliti LIPI Mengembangkan Teknologi Cegah Tanah Longsor

TrubusNews
Binsar Marulitua | Followers 0
15 Mei 2018   09:23

Komentar

Trubus.id -- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berhasil mengembangkan dua teknologi untuk mendeteksi pergerakan tanah yang kemungkinan bisa menyebabkan dan mencegah tanah longsor. Kedua alat tersebut dikembangkan oleh peneliti Geoteknologi, Adrin Tohari bersama peneliti Pusat Penelitian Fisika LIPI, Suryadi.

Kedua alat pengembangan deteksi bencana tersebut dinamakan LIPI Wireless Sensor Network for Landslide Monitoring (LIPI Wiseland) dan Teknologi Mitigasi Longsor Berbasis Drainase Siphon (The Greatest).

"Tujuan dari pengembangan ini adalah menyediakan teknologi pemantauan gerakan tanah yang lebih efektif dan andal dalam memantau dan memberikan peringatan dini dari ancaman berbagai jenis gerakan tanah di daerah yang luas," kata peneliti Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Adrin Tohari dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (13/2).

The Greatest adalah metode rekayasa drainase bawah permukaan untuk menurunkan muka air tanah. Alasannya karena, salah satu penyebab tanah longsor dalam adalah kenaikan muka air tanah yang biasanya terjadi pada musim penghujan.

"Alat ini menggunakan metode yang sama dengan pipa siphon atau pipa pindah, sebuah alat untuk memindahkan cairan dari sebuah wadah yang tidak dapat direbahkan. Contohnya, memindahkan bensin dari tangki motor ke dalam jerigen," kata Adrin.

Prinsip kerja The Greatest adalah mengisap air tanah berdasarkan perbedaan ketinggian muka air tanah. Komponen yang diperlukan adalah sumur siphon, selang siphon dan flushing unit.

"Alat khusus yang kami kembangkan hanya flushing unit, berfungsi untuk memompa air yang dialirkan dari sumur siphon melalui selang. Alat ini bekerja berdasarkan tekanan air sehingga tidak perlu menggunakan listrik," tuturnya.

The Greatest sudah diuji coba di laboratorium maupun di lapangan. Kesimpulan uji coba laboratorium menyatakan, semakin banyak jumlah sumur siphon, semakin rendah muka air tanah. Semakin kecil luas zona rembesan, maka akan semakin tinggi kestabilan lereng.

Uji coba lapangan dilakukan di Lereng Cibitung, Pangalengan. Berhasil menurunkan muka air tanah secara signifikan pada beberapa sumur siphon yang memiliki muka air tanah awal dangkal.

Sedangkan mengenai sensor nirkabel LIPI Wiseland, Suryadi mejelaskan, alat deteksi tersebut terdiri atas empat elemen, yakni ekstensometer, tiltmeter, sensor modul dan pengukur hujan. Teknologi juga dilengkapi dengan gateway dan alarm serta web monitoring.

"LIPI Wiseland dapat mendeteksi pergerakan tanah, perbedaan kemiringan lereng dan tinggi muka air tanah untuk memperkirakan kemungkinan tanah longsor," kata Suryadi.

LIPI Wiseland sudah dikembangkan hingga generasi ketiga. Telah diuji coba juga di Pangalengan, Jembatan Cisomang, dan Jalan Tol Cipularang. Nantinya, teknologi tersebut dapat digunakan untuk mendeteksi pergerakan jembatan.

Adrin dan Suryadi berharap, hasil penelitian tersebut dapat diterapkan secara massal untuk mencegah tanah longsor yang ada di Indonesia.

"Sudah ada dua pihak yang ingin melakukan kerja sama untuk menggunakan dan mengembangkan penelitian ini. Satu perusahaan swasta di bidang energi dan juga PT Kereta Api Indonesia, sudah menyatakan minatnya menggunakan teknologi ini," kata Adrin. [DF]


 

0   0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: