Kampanye Hitam Sawit di Eropa, Bisnis, Politis Atau Popaganda?

TrubusNews
Syahroni | Followers 2
25 April 2018   17:30

Komentar
Kampanye Hitam Sawit di Eropa, Bisnis, Politis Atau Popaganda?

Ilustrasi (Foto : Foto: Pixabay/ tristantan)

Trubus.id -- Industri sawit di Indonesia dan beberapa negara penghasil sawit dunia tengah membara. Hal itu terjadi usai munculnya ‘kampanye negatif’ terhadap minyak sawit di negara-negara Uni Eropa.

Kondisi ini sendiri bermula usai muncul resolusi berjudul "Palm Oil and Deforestation of the Rainforests" (Kelapa Sawit dan Deforestasi Hutan Hujan) yang diajukan oleh Parlemen Eropa. Resolusi ini muncul atas dasar tudingan bahwa pengembangan industri kelapa sawit menjadi penyebab utama deforestasi dan perubahan cuaca.

Namun demikian, tidak semua negara di dunia ini percaya, masalah deforestasi dan perubahan cuaca yang membuat Uni Eropa mengalihkan pandangannya dari minyak sawit. Ada juga yang percaya, masalah ini timbul hanya karena persoalan bisnis semata. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai sebuah drama propaganda.

Sejarah Penggunaan Minyak Nabati

Saat ini, minyak sawit masih memuncaki Top Four dari 17 minyak nabati dunia yang pangsa pasarnya paling besar di dunia. Posisinya berada di atas minyak kedelai, minyak bunga matahari dan minyak rapeseed.

Menurut beberapa literatur, pada tahun 1965 pasar minyak nabati dunia dikuasai minyak kedelai dengan pangsa sebesar 65 persen. Kemudian disusul minyak nabati Eropa yakni minyak rapeseed dan minyak bunga matahari. Posisi dominasi minyak kedelai ini masih berlangsung sampai tahun 2006.

Sejak saat itu, Indonesia berhasil merebut posisi penting dalam perekonomian dunia. Yah, saat kebutuhan minyak nabati meningkat, Indonesia muncul menjadi produsen terbesar minyak sawit dunia sekaligus menjadi produsen terbesarnya. Dua gelar pun diraih. Pertama sebagai “raja” minyak sawit dunia mengalahkan Malaysia dan “raja” minyak nabati dunia mengalahkan minyak kedelai Amerika Serikat. 

Tahun 2016, pangsa minyak sawit dalam pasar minyak nabati dunia mencapai 40 persen, meninggalkan minyak kedelai yang pangsanya menurun menjadi hanya 33 persen. Kini konsumsi minyak nabati dunia didominasi minyak sawit dan produsen minyak sawit terbesar dunia adalah Indonesia dengan pangsa 54 persen. Ini adalah suatu revolusi minyak nabati dunia, yang oleh Byerlee (2017) dari Stanford University menyebutnya sebagai revolusi minyak nabati tropis.

Keunggulan Minyak Sawit

Tergusurnya minyak kedelai bukan karena produksi minyak kedelai turun atau luas kebun kedelai berkurang. Sebaliknya, kebun kedelai naik tajam dari 25.8 juta hektar tahun 1965 menjadi 123 juta hektar tahun 2016. Sementara kebun sawit dunia hanya naik dari 3.6 juta hektar menjadi 20.2 juta hektar dalam periode yang sama.

Namun produktivitas minyak sawit 8-10 kali lipat dari produktivitas minyak dari kebun kedelai. Keunggulan produktivitas minyak dari kebun sawit tersebut, membuat harga minyak sawit juga jauh lebih murah dari pada harga minyak kedelai maupun minyak nabati Eropa.

Baca Lainnya: Kontroversial, Ini Dia Manfaat Sehat Minyak Sawit

Selain itu, karakteristik kebun sawit yang berupa pohon yang produktif menghasilkan minyak sampai umur 25-30 tahun, membuat pasokan minyak sawit jauh lebih stabil dan tidak terlalu berpengaruh (dibanding minyak nabati lain) dengan perubahan iklim.

Revolusi pasar minyak nabati dunia (produksi dan konsumsi) yang ditandai dengan munculnya minyak sawit sebagai minyak nabati utama dunia (menggantikan minyak kedelai) juga merembet ke pasar produk hilir minyak nabati dunia. Sebagaimana diketahui, minyak nabati digunakan untuk bahan pangan (oleofood), oleokimia (sabun, deterjen, toiletries, bahan kosmetika, dll ) dan biodiesel.

Baca Lainnya: Tidak Lagi Avtur, Maskapai Penerbangan Ini Akan Menggunakan Bioavtur, Bahan Bakar Berbasis Sawit

Saat ini, hampir 60 persen dari pangan olahan dunia sudah menggunakan minyak sawit. Demikian juga produk-produk oleokimia tersebut juga telah bergeser menggunakan minyak sawit. Bahkan penggunaan minyak sawit pada biodiesel dunia sebagai bahan bakunya pun makin meningkat porsinya.

Resolusi Sawit Parlemen Eropa

Parlemen Uni Eropa telah mengajukan resolusi soal kelapa sawit pada Selasa (4/4/2017) silam. Dalam resolusi ini, ada poin yang salah satunya mewajibkan sertifikasi tunggal untuk minyak sawit yang diekspor ke Uni Eropa.

Resolusi berjudul Palm Oil and Deforestation of the Rainforests (Kelapa sawit dan Deforestasi Hutan Hujan) itu sendiri diajukan didasarkan pada tudingan bahwa pengembangan industri kelapa sawit menjadi penyebab utama deforestasi dan perubahan cuaca.

Baca Lainnya: Sawit Indonesia Diboikot Eropa? Ini Tanggapan Direktur BPDPKS

Selain itu, resolusi tersebut juga mendesak agar minyak sawit tak dimasukkan sebagai bahan baku untuk program biodiesel Uni Eropa pada 2020 mendatang. Tindakan itu dinilai bertentangan dengan posisi Uni Eropa yang menganut prinsip perdagangan yang adil (fair trade).

Resolusi tersebut juga dinilai sebagian negara penghasil sawit sebagai kampanye hitam. Salah satu contohnya poin yang menyebut bahwa sawit adalah persoalan besar yang dikaitkan dengan isu korupsi, pekerja anak, pelanggaran hak asasi manusia (HAM), penghilangan hak masyarakat adat. Resolusi tersebut juga merekomendasikan perlunya investasi dari komoditas sawit ke sunfloweroil dan rapeseed oil.

Kampanye Hitam Sawit Indonesia Dimulai

Resolusi Parlemen Uni Eropa untuk menghentikan penggunaan minyak kelapa sawit pada 2021 mulai diterapkan sejumlah ritel. Jaringan Supermarket Inggris Iceland. Co telah memulai melakukan kampanye tersebut mulai akhir 2018.

Iceland Co merupakan salah satu jaringan supermarket terbesar di Eropa dengan total jumlah gerai mencapai 857 unit di seluruh Eropa. Perusahaan ritel ini memiliki sekitar 2,2% pangsa pasar makanan di Inggris.

Selain Iceland, diskriminasi produk sawit asal Indonesia di Eropa juga dilakukan negara Eropa lainnya. Salah satunya adalah Norwegia. Di negara tersebut, pengadaan biofuel berbasis sawit sudah mulai dihentikan.

Gelombang Penolakan Resolusi Sawit Eropa

Upaya menjegal sawit lewat Resolusi parlemen Eropa dirasakan benar oleh negara-negara penghasilnya. Beberapa negara termasuk Indonesia bahkan kini sudah bersatu menyuarakan penolakan atas resolusi tersebut.

Presiden RI, Joko Widodo dalam pidatonya di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-40 antara Asean - Uni Eropa di Manila beberapa waktu lalu bahkan dengan tegas meminta penghentian diskriminasi atas kelapa sawit ini.

"Resolusi Parlemen Uni Eropa beserta sejumlah negara Eropa mengenai kelapa sawit dan deforestasi serta berbagai kampanye hitam, tidak saja merugikan kepentingan ekonomi, namun juga merusak citra negara produsen kelapa sawit," tegas Presiden Jokowi kala itu.

Baca Lainnya: 5,3 Juta Petani Sawit Indonesia Terancam Akibat Kebijakan Uni Eropa

Jokowi menilai, isu kelapa sawit erat kaitannya dengan upaya pengentasan kemiskinan, mempersempit jarak pembangunan, serta pembangunan ekonomi yang inklusif. Menurut data, 17 juta orang Indonesia masih menggantungkan hidupnya, baik langsung maupun tidak langsung di industri sawit. Di mana, 42 persen lahan perkebunan kelapa sawit dimiliki oleh petani kecil.

Pernyataan pidato Presiden Jokowi ini juga mendapat dukungan penuh dari Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak. Tak hanya Malaysia, Ghana juga sepakat bekerja sama melawan kampanye negatif ini. 

Hal itu dikemukakan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi saat bertemu dengan Wakil Menteri Pertanian dan Pangan Ghana Kennedy Osei Nyarko di sela-sela perhelatan Forum Indonesia-Afrika (Indonesia-Africa Forum/IAF) hari kedua di Nusa Dua Bali Convention Center, Rabu (11/4) lalu.

Baca Lainnya: Indonesia dan Ghana Sepakat 'Pasang Badan' untuk Resolusi Sawit Eropa

Retno mengatakan bahwa dalam pertemuan itu banyak dibahas mengenai industri minyak kelapa sawit karena Indonesia dan Ghana merupakan negara-negara produsen kelapa sawit. Menurut Dia, pemerintah Ghana menyatakan kesediaan untuk bersama-sama menghadapi tantangan kampanye negatif terhadap produk sawit.

Gelombang Aksi Perlawanan

Resolusi Parlemen Uni Eropa untuk menghentikan penggunaan minyak kelapa sawit pada 2021 mulai diterapkan sejumlah ritel. Jaringan Supermarket Inggris Iceland. Co telah memulai melakukan kampanye tersebut mulai akhir 2018. 

Menanggapi hal ini, Council of Palm Oil Producer Countries (CPOPC) atau Dewan Negara Produsen Kelapa Sawit yang beranggotakan 10 negara ini memprotes kebijakan Iceland Co karena dinilai diskriminatif dan mendiskreditkan citra positif kelapa sawit di Eropa.

Baca Lainnya: Uni Eropa Segera "Phasing Out" Sawit, Indonesia Pasang Badan

Direktur Eksekutif CPOPC, Mahendra Siregar melayangkan protes keras kepada Managing Director Iceland Foods Ltd, Richard Walker melalui surat resmi. Dalam surat itu Mahendra mewakili CPOPC menilai kebijakan Iceland Co akan menyesatkan konsumen secara global.

Sementara itu, terhadap Norwegia yang telah menghentikan pengadaan biofuel berbasis sawit, Pemerintah Indonesia juga mengancam balik. Bahkan pemerintah Indonesia tidak menutup kemungkinan akan mengugat kebijakan Norwegia ini ke World Trade Organization (WTO).

Tak hanya itu, sebagai langkah menjawab diskriminasi itu, pemerintah juga berencana menghentikan impor ikan salmon dari Norwegia. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Oke Nurwan, di kantor Kemendag, Selasa (20/3) lalu menerangkan, salah satu komoditas impor dari Norwegia adalah ikan salmon.

Baca Lainnya: Norwegia Diskriminasikan Sawit, Indonesia Ancam Stop Impor Ikan Salmon

Jika rencana penghentian impor salmon dari Norwegia dilakukan, maka Indonesia perlu mencari negara penggantinya agar kebutuhan ikan salmon di Indonesia tidak terganggu.

Resolusi Sawit Parlemen Eropa, Persaingan Bisnis?

Menteri Perdagangan RI, Enggartiasto Lukita menyebut, kampanye hitam berupa pelarangan penggunaan minyak sawit asal Indonesia di Uni Eropa diduga akibat persaingan bisnis. Pasalnya, Uni Eropa sendiri menilai, minyak sawit mentah Indonesia lebih murah daripada minyak nabati lain yang harganya cenderung lebih mahal.

"Kalau saya lihat ini ada persaingan bisnis ya, mereka memproduksi rapeseed oil dimana harganya lebih mahal, sedangkan CPO kita kan lebih murah," kata Enggar di Kantor Wakil Presiden, (9/4).

Baca Lainnya: Mendag: Kampanye Hitam Minyak Sawit Indonesia di Eropa Karena Persaingan Bisnis

Kemudian, produksi minyak sawit mentah, juga menggunakan lahan yang lebih sedikit ketimbang rapeseed oil. Karenanya, Enggar menilai, ada persaingan tidak sehat dalam ancaman larangan CPO oleh Uni Eropa tersebut. Pemerintah merasa, rencana itu sangat diskriminatif karena membedakan penghapusan minyak nabati olahan dari sawit lebih awal.

Perkembangan Produksi Sawit Indonesia

Diterpa berbagai isu miring sepanjang tahun tak membuat industri sawit di Indonesia melemah. Terbukti, menurut catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), sepanjang tahun 2017 lalu, ekspor kelapa sawit masih naik.

Menurut data yang dikeluarkan GAPKI, produksi CPO 2017 Indonesia mencapai 38,17 juta ton serta PKO sebesar 3,05 juta ton. Jika ditotal, keseluruhan industri kelapa sawit Indonesia sebesar 41,98 juta ton.

Baca Lainnya: Meski Diterpa Isu Miring, Industri Sawit Indonesia Tetap Meningkat

Angka tersebut menunjukkan bahwa terjadi peningkatan produksi sebesar 18 persen dari tahun lalu yang hanya sekitar 35,57 juta ton. Sementara itu, harga rata-rata CPO 2017 tercatat sekitar USS 714,3 per metrik ton atau meningkat sekitar 2 persen dibanding tahun 2016 lalu.

Sementara itu, produksi kelapa sawit pada tahun 2018 diproyeksikan naik sebesar 10 persen. Hal tersebut diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Togar Sitanggang. Peningkatan produksi kelapa sawit terjadi akibat curah hujan tinggi pada 2017 lalu.

Baca Lainnya: Emil Salim: Nilai Industri Sawit untuk Siapa?

Jika dilihat dari nilai ekspor crude palm oil (CPO) sepanjang 2017, mengalami peningkatan cukup signifikan sebesar 23 persen, menjadi 31,05 juta ton dari 25,11 juta ton pada 2016 lalu. 

Tidak heran jika minyak sawit menyumbang devisa negara. Bahkan, devisa yang dihasilkan dari produk sawit selalu mengalami kenaikan, seiring volume ekspor dan harga minyak sawit yang saat ini cukup baik. [**]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

Mengenal Magot, Si Pengolah Sampah Organik yang Andal

Binsar Marulitua   Liputan Khusus
Bagikan: