Menanti Pertanggungjawaban, Sumber Pencemaran di Teluk Balikpapan

TrubusNews
Syahroni | Followers 2
18 April 2018   17:45

Komentar
Menanti Pertanggungjawaban, Sumber Pencemaran di Teluk Balikpapan

Tumpahan minyak di Teluk Balikpapan. (Foto : Foto: Doc/ KLHK)

Trubus.id – Api membumbung tinggi di atas perairan Teluk Balikpapan, Kampung Baru, Kota Balikpapan, Sabtu (31/3) siang. Asap pekat dengan jelas terlihat dari pesisir pantai hingga ke pusat kota Balikpapan. Warga pun berdatangan. Namun bau menyengat seperti solar memaksa mereka melangkah mundur.

Akibat kejadian itu, 2 nelayan ditemukan tewas. 16 warga negara China, Anak Buah Kapal ever Judger yang berada di tengah kobaran berhasil dievakuasi. 3 diantaranya meregang nyawa kemudian karena luka bakar yang cukup parah. Total, 5 nyawa melayang saat itu.

Kebakaran di Perairan Teluk Balikpapan

Kobaran api di tengah lautan memang bukan pemandangan yang biasa terjadi. Karena itu, polisi mulai melakukan penyelidikan. Hasilnya diketahui, api yang berkobar di tengah perairan Teluk Balikpapan ternyata muncul karena ada tumpahan minyak yang mengapung di lautan.

Asap hitam terlihat membumbung tinggi dari Kota Balikpapan saat tumpahan minyak terbakar, Sabtu (31/3). (Foto: Istimewa)

Tumpahan minyak sendiri pertama kali diketahui Sabtu (31/3) dinihari. Gumpalan-gumpalan minyak hitam menyebar di tengah lautan. Nahas, saat matahari terbit, sekelompok nelayan pencari ikan mendatangi lokasi. Tanpa tahu dampak yang akan terjadi, mereka mematik api. Kebakaran pun terjadi.

PT Pertamina (Persero) sebagai salah satu perusahaan pemilik kilang minyak di lokasi itu awalnya membantah kalau tumpahan minyak tersebut berasal dari salah satu kilang mereka. Dalam jumpa pers Sabtu (31/3) sore, General Manager Pertamina Refinary Unit V Balikpapan, Togar MP Manurung menyebut, minyak yang ada di teluk itu diduga berasal dari bahan bakar kapal atau Marine Fuel Oil (MFO).

"Dari sampel yang diambil, diidentifikasikan bahwa cairan minyak itu MFO atau bahan bakar minyak dari kapal, bukan minyak mentah dari kilang," katanya pada wartawan.

Penyelidikan Awal Dimulai

Dengan adanya bantahan dari PT Pertamina (Persero) sebagai salah satu perusahaan yang memiliki kilang minyak di Teluk Balikpapan, pemerintah akhirnya harus bekerja ekstra keras menyelidiki sumber masalah.

Polisi mengambil sampel minyak di Teluk Balikpapan. (Foto: Antara)

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) juga kemudian turun tangan. Sampel tumpahan minyak diselidiki. ‘Sidik jari’ minyak itu diteliti untuk mengetahui asal pencemaran minyak tersebut.

Karena dampaknya yang sangat berarti, KLHK bahkan langsung menurunkan tiga Direktur Jenderal (Dirjen) nya ke Teluk Balikpapan.

Mereka adalah Dirjen Pengendalian dan Pencemaran Kerusakan Lingkungan (P2KL), Dirjen Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Gakkum) dan Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE).

Menteri LHK, Siti Nurbaya Bakar mengatakan, dalam kejadian ini tanggungjawab KLHK adalah mengawasi pemegang ijin/swasta untuk tanggung jawab mengatasi pencemaran sambil menghitung ganti rugi. Sementara, Gakkum KLHK akan mengikuti proses untuk melihat pelanggaran dan unsur-unsur pelanggaran serta sanksi. 

Sementara Dirjen konservasi diminta melihat dampak terhadap sumberdaya hayati. Sambil melakukan evakuasi dan penelitian lanjutan. Tak hanya itu, KLHK juga berkoordinasi dengan Bakamla untuk meminta data pergerakan kapal-kapal tanker minyak di lokasi pada saat kejadian. Data ini penting untuk mengetahui sumber-sumber tumpahan.

Sumber Tumpahan Diketahui

Tak butuh waktu lama, usaha berbagai pihak untuk mengetahui sumber tumpahan minyak akhirnya menemui titik terang. Meski sebelumnya membantah, PT Pertamina (Persero) akhirnya mengakui bahwa tumpahan minyak di Teluk Balikpapan berasal dari kilang minyak mereka.

Pertamina melakukan penyisiran sisa minyak di Teluk Balikpapan. (Foto: Doc/ Pertamina)

Tumpahan minyak terjadi karena patahnya pipa penyalur minyak mentah mereka yang melintas dari di bawah laut dari Terminal Lawe-lawe di Penajam Paser Utara ke Kilang Balikpapan.

GM Pertamina Refinery Unit V Balikpapan, Togar MP mengakui, sebelumnya PT Pertamina tidak mengetahui tumpahan minyak di Teluk Balikpapan berasal dari minyak yang diproduksi perusahaannya. Namun setelah uji sampel terakhir, baru hal itu terbukti.

"Kami uji sampel dari minyak tumpahan saja. Sebelumnya kami belum mengetahui pipa baja yang terputus, diameternya 20 inci, dengan ketebalan 12 milimeter di kedalaman 25 meter," kata Togar dalam konferensi pers bersama Polda Kaltim, Rabu (4/4).

Ia menjelaskan, pipa penyalur itu juga masih dibungkus casing semen agar tidak berkarat ketika terendam air laut. Casing semen itu juga berfungsi menambah kekuatannya menahan tekanan air. Pipa penyalur minyak mentah itu dipasang tahun 1998 atau sudah berusia pakai 20 tahun.

Penyebab Patahnya Pipa Minyak Diselidiki

Patahnya pipa penyalur minyak mentah milik PT Pertamina menjadi sumber pencemaran di Teluk Balikpapan. Namun demikian, pihak kepolisian sendiri masih menyelidiki penyebab patahnya pipa tersebut. 

Petugas membersihkan minyak di pesisir pantai Teluk Balikpapan. (Foto: BBC)

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Polri, Brigjen Pol Mohammad Iqbal menjelaskan, hingga saat ini, 22 orang sudah diperiksa sebagai saksi usai kejadian terjadi. Iqbal mengakui, belum ada tersangka dalam kasus tumpahnya minyak milik kilang PT Pertamina ini. 

Sementara itu, Direktur Kriminal Khusus Polda Kaltim, Kombes Pol Yustan Alpian menjelaskan, perlu kekuatan yang sangat besar untuk menarik pipa hingga patah. Karena itu muncul dugaan, pipa itu patah karena tertarik jangkar kapal besar yang berlabuh di sekitar lokasi.

Hal senada juga disampaikan Direktur Jendral Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Djoko Siswanto. Dalam jumpa pers di kantor Kementerian ESDM, Kamis (5/4) lalu, Djoko menyebut, seharusnya kapal dilarang memasang jangkar di lokasi tersebut.

Meski demikian, KLHK menduga ada hal lain yang menyebabkan patahnya pipa penyalur minyak mentah milik pertamina. Karena itu, selain karena jangkar, KLHK juga sempat menyelidiki kemungkinan lain.

Menteri LHK, Siti Nurbaya Bakar menyebut, kemungkinan lain penyebab tumpahan minyak di Teluk Balikpapan selain karena tertarik jangkar juga terkait kualitas pipa itu sendiri. 

"Ada dua kemungkinan, betul bahwa dia kena jangkar, ketarik, atau memang ada persoalan integritas di situ, misalnya kualitas pipa atau apa. Itu yang harus ditemukan oleh KLHK," ujar Siti di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (9/4).

Dampak Tumpahan Minyak

Tak hanya menimbulkan korban jiwa, Dampak tumpahan Minyak juga mengganggu kesehatan warga karena baunya yang menyengat. Warga di pesisir pantai Kecamatan Penajam pun sudah banyak yang melaporkan mengalami gangguan pernapasan, muntah, dan pusing karena bau minyak yang sangat menyengat hidung.

1. Biota Laut    

Tak hanya itu, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalimantan Timur juga mengingatkan, ekosistem laut sangat terdampak oleh peristiwa ini. Teluk Balikapapan juga dihuni oleh sejumlah flora dan fauna. Contohnya, pesut, tumbuhan Rhizopora mucronata, Sonneratia, Avicenna dan berbagai spesies mangrove. Di hutan mangrove juga hidup bekantan (Nasalis larvatus).

Seekor pesut ditemukan mati akibat tumpahan minyak. (Foto: Imeida Tandrine/ Reuters)

Di laut, ada terumbu karang dan padang lamun. Cukup terkenal terumbu karang Batu Kapal yang sebelumnya sudah sering dilaporkan rusak karena aktivitas perusahaan di sekitarnya di bagian hulu Teluk Balikpapan.

2. Pencemaran Pantai

Sementara itu, selain biota laut, KLHK dalam laporannya mengemukakan, pihaknya melakukan survei dilakukan di sepanjang pantai di Teluk Balikpapan mulai dari pantai Lamuru sampai dengan pantai Banua Patra yang mencapai panjang 12.600 meter.

Pantai tercemar tumpahan minyak. (Foto: Jawapos)

Dari survei itu, tim KLHK memperkirakan luas pantai yang terkontaminasi bahan beracun berbahaya (B3) minyak bumi mencapai 22.733,8 meter persegi. Sementara itu, perkiraan volume tanah yang terkontaminasi limbah B3 minyak bumi mencapai 12.145,4 meter persegi. 

Menteri LHK, Siti Nurbaya menyebut, untuk bagian barat Teluk Balikpapan yang terkena dampak lainnya meliputi wilayah dari Melawai (depan kantor P3EK) sampai pulau Balang (kawasan Industri Kariangaw). 

3. Petambak 

Dampak langsung tumpahan minyak juga dilaporkan para petambak lobster di sekitar daerah terdampak. Basrun, petambak lobster di RT 17 Kerok Laut, Kelurahan Penajam, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur mengaku, akibat tumpahan minyak itu, ia rugi sampai Rp500 juta. 

Lobster di tambak warga mati akibat tercemar minya. (Foto: Procal)

Kepala Bidang Perikanan Tangkap dan Perizinan Dinas Perikanan setempat, Mulyono mengatakan, akibat tumpahan minyak di Teluk Balikpapan, 73,5 hektare tambak di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur jadi tercemar. Tambak itu berupa budidaya udang dan bandeng milik 12 warga Kabupaten Penajam Paser Utara.

Tak hanya tambak, Dinas Perikanan Kabupaten Penajam Paser Utara juga mencatat, ada sekitar 123 kolam milik 12 warga, serta 5 petak keramba tancap dan 17.000 bibit tanaman bakau di wilayahnya yang terdampak tumpahan minyak tersebut.

4. Nelayan 

Peristiwa tumpahnya minyak di peraitan Teluk Balikpapan seketika berdampak pada nelayan yang biasa melaut di wilayah itu. Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan (DPP) Balikpapan, Yusmianto mengatakan, sejak insiden terjadi, 162 kapal nelayan tidak melaut lagi. 

"Ada beberapa yang tidak bisa melaut, kebanyakan nelayan dari Balikpapan Barat yang tidak bisa melaut. Untuk nelayan wilayah Balikpapan Timur masih ada yang melaut," kata Yosmianto usai rapat tanggap darurat tumpahan minyak bersama DPR, Pertamina dan unsur muspida lainnya, Selasa (3/4). 

5. Hasil Evaluasi KLHK Terakhir

Siti menerangkan, dampak tumpahan minyak yang telah diidentifikasi KLHK hingga kini adalah peristiwa kebakaran di perairan laut teluk Balikpapan dan kapal MP Ever Judger 2 bermuatan batubara yang menimbulkan 5 korban jiwa.

Petugas menangani tumpahan minyak dengan teknik water bombing. (Foto: Doc/ Pertamina)

Hasil evaluasi lapangan Tim KLHK di area terdampak juga menunjukkan tingkat kerusakan pada ekosistem mangrove seluas kurang lebih 34 Ha di Kelurahan Kariangau. Namun berdasarkan perhitungan overlay data tutupan mangrove yang terdampak mencapai 270 Ha di wilayah Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara.

Kerusakan juga terjadi pada 6.000 batang dan 2.000 bibit mangrove milik warga Kampung Atas Air Margasari, 53 Ha tambak udang masyarakat di Kab. Panajam Paser Utara, 40 petak tambak kepiting di Kota Balikpapan, 32 keramba jaring apung lobster di Kab. Panajam Paser Utara, 15 Rengge di Kota Balikpapan dan 200 bubu di Kota Balikpapan.

Sebelumnya masyarakat juga melaporkan adanya seekor ikan pesut yang mati di Pantai Banua Patra dan seekor Bekantan mati di Kelurahan Kariangau. Untuk mengetahui peyebabnya, KLHK mengambil langkah nekropsi satwa yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi Konservasi Sumberdaya Alam, Badan Litbang dan Inovasi, di Semboja Balikpapan.

Pelanggaran dan Sanksi

Dalam rapat Kerja dengan DPR RI, Senin (16/4) lalu, Menteri LHK menjelaskan, saat ini KLHK lebih memfokuskan pada upaya pengawasan terhadap penanggung jawab usaha atau kegiatan di sekitar teluk Balikpapan untuk pengendalian pencemaran, sambil menghitung proyeksi ganti rugi dan sebagainya. 

Menteri LHK, Siti Nurbaya Bakar saat menghadiri Raker dengan Komisi VII DPR RI. (Foto: Doc/ KLHK)

KLHK juga masih mengikuti perkembangan dan dampak tumpahan minyak terhadap sumberdaya hayati. Namun terkait penegakkan hukum, KLHK mengakui, hingga kini pihaknya masih mengikuti proses penyelidikan polisi untuk melihat adanya unsur-unsur pelanggaran.

Terkait dokumen, dari hasil pengawasan lingkungan hidup yang dilakukan KLHK ditemukan, Dokumen Lingkungan tidak mencantumkan dampak penting alur pelayaran pada pipa.

"Pada Dokumen Lingkungan juga tidak mencantumkan kajian perawatan pipa, inspeksi pipa juga tidak memadai hanya untuk kepentingan sertifikasi, tidak memiliki sistem pemantauan pipa otomatis, dan tidak memiliki sistem peringatan dini," jelas Siti, Selasa (17/4).

Selanjutkanya, KLHK akan menindaklanjuti temuan tersebut dengan menerbitkan sanksi administrasi kepada PT. Pertamina RU V Balikpapan untuk melakukan kajian resiko lingkungan dan audit lingkungan wajib. Kajian ini harus difokuskan pada keamanan pipa penyalur minyak, kilang minyak dan sarana pendukung.

Selain itu, PT. Pertamina RU V Balikpapan juga harus melanjutkan kegiatan penanggulangan tumpahan minyak dan pemulihan lingkungan akibat kebocoran pipa minyak hingga selesai.

Proses penegakan hukum lingkungan hidup, KLHK akan melanjutkan tindakan pengawasan terhadap penaatan kewajiban di dalam perizinan lingkungan hidup.
Penyelidikan dan penyidikan tindak pidana terhadap tumpahan minyak di laut yang akan dikoordinasikan dengan POLDA Kaltim yang didukung oleh Ditjen Penegakan Hukum, KLHK.

Tugas mereka melakukan penyelidikan mendalam untuk menentukan faktor penyebab patahnya pipa guna menentukan pihak/subyek hukum yang bertanggung jawab dalam kasus pencemaran lingkungan ini.

Bentuk Pertanggungjawaban

Di akhir rapat kerja, Komisi VII DPR RI meminta Menteri ESDM, Menteri LHK, Dirut PT. Pertamina untuk menuntaskan tindakan yang telah dilaksanakan atas terjadinya bencana tumpahan minyak ini bersama pihak terkait, agar terjadi kepastian hukum bagi semua pihak.

KLHK juga diminta untuk menyiapkan sanksi administratif dan gugatan perdata kepada pihak yang melakukan pencemaran atau kerusakan lingkungan di teluk Balikpapan. Langkah antisipatif dan proaktif harus dilaksanakan oleh Menteri ESDM, Menteri LHK, Dirut PT. Pertamina, agar kejadian yang sama tidak terulang kembali.

Terakhir, Komisi VII DPR RI juga meminta KLHK mewajibkan penanggung jawab kawasan yang beresiko tinggi, untuk membuat analisis resiko lingkungan sesuai dengan ketentuan Pasal 47 Undang-undang Nomor: 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. [TIM]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

Mengenal Magot, Si Pengolah Sampah Organik yang Andal

Binsar Marulitua   Liputan Khusus
Bagikan: