Menelusuri Siklus Panjang, Parasit di Ikan Kaleng Siap Hidang

TrubusNews
Syahroni | Followers 2
04 April 2018   16:45

Komentar
Menelusuri Siklus Panjang, Parasit di Ikan Kaleng Siap Hidang

Produk ikan kaleng. (Foto : Istimewa)

Trubus.id – Ikan sudah lama dijadikan sumber pemenuhan kebutuhan protein untuk manusia. Mengkonsumsi ikan pun sudah berabad-abad lalu dilakukan. Namun seiring perkembangan zaman, tren mengkonsumsi ikan segar mulai beralih ke produk ikan olahan.

Proses pengemasan ikan kaleng. (Foto: istimewa/ resepsardenkaleng.com)

Dengan beralihnya tren ini, produk ikan kalengan pun mulai membanjiri pasaran. Kemudahan dalam segi pengolahan, praktis dan rasa yang tak kalah dengan ikan segar, akhirnya menempatkan ikan kaleng di daftar belanja hampir semua orang, khususnya di Indonesia.

Sayangnya, dengan tingginya permintaan pasar akan produk ikan kaleng sepertinya tidak disertai dengan pengendalian kualitas yang baik. Buktinya, beberapa kali ditemukan produk ikan kaleng yang bermasalah. Seperti yang kini tengah ramai jadi pergunjingan contohnya.

Yah, belum lama ini ditemukan ikan kaleng yang terkontaminasi parasit Anisakis sp di kawasan Riau. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Pekanbaru, Riau dan produsen produk tersebut kemudian menarik produk makanan olahan itu dari pasaran. Tak hanya hanya itu, BBPOM juga langsung bergerak melakukan sweeping produk ini ke swalayan-swalayan di seluruh penjuru Riau.

Tidak butuh waktu lama, kabar tentang ikan kaleng terkontaminasi ini merebak ke seluruh penjuru nusantara. Hal yang sama akhirnya dilakukan petugas terkait di lingkungan mereka. Hasilnya, produk ikan kaleng terkontaminasi cacing ini ternyata juga banyak ditemukan di wilayah-wilayah lain di luar Kepulauan Riau.

 

Apa Itu Parasit Anisakis sp?

Temuan produk ikan kaleng yang mengandung cacing membuat resah masyarakat. Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI pun menyebut, cacing yang mengontaminasi produk ikan kaleng itu adalah sejenis parasit bernama Anisakis sp. Namun sayangnya, belum banyak yang tahu apa Anisakis sp itu.

Siklus hidup parasit Anisakis sp hingga masuk ke tubuh manusia. (Foto: Ilustrasi/ CDC)

Ahli kimia pangan dari Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Prof. Dr. Nuri Andarwulan mengatakan, parasit Anisaskis sp itu sebenarnya memang sering menginfeksi ikan laut yang menjadi bahan utama produk ikan kaleng.

Nuri melanjutkan, jenis ikan yang dikalengkan itu omnivora dan karnivora. Kedua jenis ikan itu memang banyak ditemukan cacing, karena mereka memakan hewan kecil seperti udang atau ikan kecil lainnya yang sudah lebih dulu terinfeksi larva cacing.

"Biasanya cacing itu ditemukan dalam saluran pencernaan ikan. Memang bagian itu harus dibuang bersih. Nah untuk kasus ikan sarden itu kan karena kemungkinan besar proses pembersihan saluran pencernaannya kurang bersih sewaktu di pabrik," tandasnya.

Nuri menambahkan, parasit Anisakis sp ini bisa berpindah ke tubuh manusia dan menyebabkan penyakit. Penyakitnya disebut Zoonosis atau penyakit yang disebabkan dari hewan. Yang membuatnya semakin berbahaya, jika parasit ini masih hidup di dalam tubuh.

“Jika masih hidup kita bisa kena penyakit cacingan. Kemudian ada dimana larva itu? Ketika kita makan udang atau ikan laut dalam keadaan belum matang atau setengah matang sepeti sushi atau sashimi. Itu jika pengawasan mutu dagingnya tidak ketat bisa ada, karena itu lazim ada di ikan tidak hanya di dalam produk sarden saja. Seperti hering, tuna, bahkan salmon pun," tegasnya.

 

Parasit pada Ikan Laut

Dihubungi langsung oleh Trubus.id, Vini Awilia orang yang pernah melakukan penelitian terhadap parasit cacing pada ikan laut menjelaskan, bahwa kecil kemungkinan kalau kasus tersebut merupakan cacing pita seperti yang sempat dituduhkan sebelumnya.

Parasit Anisakis sp pada ikan kaleng. (Foto: Istimewa/ Kaskus)

“Parasit pada ikan laut itu kan mengikuti daur hidup organisme laut, jadi cacing sampai dewasa membutuhkan beberapa inang. Nah mulai dari telur biasanya adanya di plankton nanti kan dimakan sama ikan kecil kemudian dia akan berkembang menjadi larva 1 sampai larva 4 bisa ditemukan di ikan. Baru kemudian kalau dia sampai larva 4 ini (masuk dalam rantai makan ikan). Sampai dia ketemu dengan inang terakhirnya biasanya (ukuran) dewasa bisa di ikan yang besar, mamalia laut, elasmobranch dan burung laut,” jelasnya.

Vini yang pada tahun 2002 pernah melakukan penelitian melalui program Marine Science Training kerjasama dengan DAAD dan FPIK IPB ini mengungkapkan, 100 persen sampel yang diuji dari ikan laut konsumsi di perairan Bangka memiliki parasit cacing dalam tubuhnya. Termasuk Anisakis sp.

“Kalau ikan sarden biasanya yang ditemukan itu bisa cacing gilig (Nematoda) itu, tapi kemungkinan biasanya stadiumnya itu larva 1 atau 2. Kalaupun seandainya ada cacing pita dalam sarden itu biasanya dalam stadium larva, jadi belum akan dewasa dan bentuk larvanya pun bukan seperti cacing pita," lanjutnya.

 

Penyebab Meledaknya Populasi Anisaskis sp

Temuan 27 merek ikan kaleng yang terkontaminasi parasit Anisakis sp membuat masyarakat penasaran. Bagaimana parasit ini bisa mengontaminasi produk-produk ikan kaleng yang diproduksi berbagai negara itu secara bersamaan. 

Untuk itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengaku akan menelusuri asal usul ikan sarden dan makarel yang terkontaminasi cacing ini.

“Sekarang KKP bersama BPOM tengah mempelajari karakteristik parasit cacing ini,” jelas Direktur Jendral Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP, Nilanto kepada wartawan di Jakarta, Kamis (29/3) lalu.

Namun lebih lanjut ia mengatakan, ke 27 merek ikan kaleng yang beredar diketahui menggunakan ikan dari satu sumber yang sama.

“Kami menduga berasal dari satu kesatuan penangkapan ikan di laut pada waktu yang bersamaan, waktu tertentu, dan musim tertentu, karena ledakan polulasi cacing seperti ini tak lazim terjadi, tapi semua masih dugaan karena masih proses penelitian lebih lanjut,” ucap Nilanto.

Namun demikian, Nilanto menduga faktor merebaknya populasi cacing akibat perubahan musim yang disinyalir menjadi penyebab meledaknya populasi cacing ini di lautan.

“Karena ada yang bilang pemicunya karena perubahan musim sehingga populasi meledak dan ikan makarel menjadi salah satu inang cacing,” ungkapnya. 

 

Berbahayakan Anisakis sp?

Banyak yang berfikir, ikan yang terkontaminasi Anisakis sp berbahaya buat tubuh. Vini kembali menjelaskan, ada satu jenis cacing dari spesies Anisakis, sp. yang dapat menyebabkan sakit perut  bila masuk dalam keadaan hidup ke usus.

Indikasi cacing Anisakis sp pada ikan kaleng. (Foto: Doc/ KKP)

“Namun kebiasaan makan ikan masyarakat kita pasti dimasak kan? jadi selama proses memasaknya sampai ikan matang sempurna, maka meskipun ada si Anisakis ini dalam ikan yang kita makan, kita tetap akan baik-baik saja, kecuali kita makan ikan mentah.” jelasnya dari keterangan yang diterima Trubus.id.

Vini menambahkan, temuan parasit ini pada ikan sarden sebenarnya sudah lumrah. Adanya cacing Anisakis mengindikasikan bahwa bahan baku ikan tersebut telah terkontaminasi dengan cacing tersebut. Kalau ditemukan dalam ikan (yang sudah diproses dengan prosedur yang baik) sebenarnya si cacing tersebut sudah mati.

“Cuman memang secara estetika, apalagi kalau perusahaan itu memiliki HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point)  harusnya bersih, karena cacing ini ditemukan di rongga perut. Jadi harusnya pada pembersihan ikan itu harus bersih”, ujarnya.

 

Langkah BPOM RI

Beredarnya produk ikan kaleng yang terkontaminasi cacing Anasikis sp membuat resah warga Indonesia. Yang bikin gerah, disinyalir produk ikan kaleng yang mengandung cacing tidak hanya ditemukan di 3 merek yang beredar di Kepulauan Riau saja.

Keresahan itu akhirnya mendapat tanggapan serius Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI. Mereka kemudian menguji ratusan produk ikan serupa. Dari 541 sampel ikan kaleng yang terdiri terdiri dari 66 merek diteliti. Hasilnya diketahui kalau 27 merek produk ikan makarel di pasaran positif mengandung parasit cacing Anasikis sp.

"Sementara waktu 16 merek produk impor tersebut di atas dilarang untuk dimasukkan ke dalam wilayah Indonesia dan 11 merek produk dalam negeri proses produksinya dihentikan sampai audit komprehensif selesai dilakukan," kata Kepala BPOM RI, Penny K. Lukito, Kamis (29/3) lalu.

 

Kandungan dan Manfaat Ikan Kaleng

Di Indonesia, ikan kaleng memang punya banyak peminatnya. Dari 2 jenis ikan kaleng yang beredar di pasaran, ikan jenis makarel dan sarden yang menguasai penjualan. Mulai dari yang sifatnya pencegahan sampai pengobatan, ikan sarden memiliki banyak manfaat beragam.

Kandungan gizi ikan sarden. (Foto: Istimewa/ anaknelayan.blogspot)

Dalam setiap produknya sendiri tertera, ikan sarden kalengan mengandung energi, protein, lipid atau lemak, kalsium, besi, magnesium, fosfor, kalium, natrium dan seng. Sementara itu, menurut penelitian juga diketahui, vitamin dalam sarden meliputi thiamin, riboflavin, niasin, vitamin B6, folat, vitamin B12, A, D, E dan vitamin K.

Selain itu, sarden juga rendah kalori dan mengandung zat antioksidan yang mencegah radikal bebas untuk melindungi kesehatan organ. Asam lemak dalam ikan sarden, termasuk lemak total yang jenuh, lemak tak jenuh tunggal, lemak tak jenuh ganda dan kolesterol. Asam lemak, vitamin dan mineral dapat membantu dalam pencegahan berbagai penyakit dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.

Secara umum, zat gizi makro dan mikro nutrisi dalam ikan sarden yang tanpa kandungan lemak tinggi sangat bermanfaat bagi tubuh. Dengan mengkonsumsi ikan sarden kaleng diketahui bisa mencegah penyakit jantung, mencegah pembekuan darah, mengurangi resiko degenerasi makula yang terkait usia, bersifat anti kanker, memperkuat tulang, membuat sistem kekebalan tubuh sehat, serta resistensi insulin.

 

Beda Sarden dan Makarel

Sejak merebak temuan ikan kaleng terkontaminasi cacing, masyarakat jadi lebih sleektif memilih ikan kaleng. Seperti diketahui, ada 2 jenis ikan yang biasa dijual dalam bentuk produk ikan kaleng. Ikan Sarden dan ikan Makarel. Apa yang membedakan keduanya?

Ikan Sarden sendiri adalah ikan golongan keluarga Clupeidae, kerabat ikan haring. Ikan ini merupakan ikan berminyak berukuran kecil yang paling umum dikonsumsi manusia. Di Indonesia, nama lokal lain untuk ikan yang dikategorikan sarden adalah lemuru dan tembang. 

Gerombolan ikan sarden. (Foto: Rebecca Katz)

Sementara dari segi fisik, ikan sarden lebih berwarna dibandingkan ikan makarel. Ikan sarden diklasifikasikan sebagai ikan bertulang sejati. Tidak punya sisik di kepala, serta punya satu sirip pendek di dekat bagian punggung tengah. Makanannya adalah plankton sehingga minim kontaminasi merkuri. 

Sementara itu, Ikan makarel adalah sebutan bagi sekelompok ikan laut yang terdiri dari beberapa marga anggota famili Scombridae. Makerel sejati terdiri atas dua genus, Scomber dan Rastrelliger.

Di Indonesia makerel kadang disebut juga ikan kembung (terutama Rastrelliger). Makerel pindang biasa disebut ikan cue/cuwe. Ikan mirip makerel besar yang dikenal sebagai "Spanish mackerel" di luar negeri, di Indonesia disebut tenggiri.

Gerombolan ikan makarel. (Foto: Fissues.org)

Makerel adalah ikan pelagis yang umumnya hidup jauh di laut lepas. Spesies makerel yang biasa ditangkap di Indonesia adalah Scomber australasiaticus, makerel biru atau juga ada yang menyebut ikan slengseng.

Makerel Atlantik (Scomber scombrus) yang lebih besar biasa diimpor dan dijual di supermarket dengan nama Norwegian mackerel atau saba. Makerel Pasifik (Scomber japonicus) yang tidak ada di perairan Indonesia diimpor untuk bahan ikan kaleng.
Di Indonesia, kedua jenis ikan ini banyak dijumpai dalam bentuk kemasan kaleng.

Persamaannya Ikan sarden dan ikan makarel mendiami perairan terbuka yang terhampar antara pantai dan tepian landas kontinen. Pada kedalaman 20-400 meter, jenis ikan pelagis seperti keduanya hidup. Ikan pelagis seperti sarden dan makarel identik dengan aktivitas migrasi. Kondisi ini yang akhirnya membuat keduanya rentan terinfeksi parasit Anisakis sp.

 

Saran YLKI untuk Konsumen Ikan Kaleng

Sejak dinyatakan positif terkontaminasi parasit, BPOM menarik puluhan mereka ikan kaleng dari pasangan. Namun demikian, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai, langkah BPOM dirasa belum cukup. Karena itu YLKI menghimbau masyarakat untuk menghindari mengonsumsi produk serupa untuk sementara waktu hingga ada jaminan keamanan dari pemerintah.

“Sampai saat ini masyarakat belum mendapat jaminan pasti dari pemerintah tentang kualitas produk ikan makarel dalam kaleng yang masih beredar,” ujar Wakil Ketua Harian YLKI, Sudaryatmo kepada wartawan di Jakarta, Kamis (29/3) lalu.

Untuk itu, pihaknya mengimbau kepolisian untuk lebih masif dan membantu penarikan produk ikan makarel kaleng yang terkontaminasi cacing dari pasaran untuk meminimalisir kerugian konsumen.

Selain itu, YLKI juga meminta pihak kepolisian untuk melakukan langkah pro aktif untuk mengusut dengan tuntas dan menindak dengan pidana para importir produk tersebut karena dinilai telah melanggar Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

Mengenal Magot, Si Pengolah Sampah Organik yang Andal

Binsar Marulitua   Liputan Khusus
Bagikan: