Penegakan Hukum Lemah, Penganiaya Hewan Bebas Berulah

TrubusNews
Syahroni | Followers 2
28 Mar 2018   17:00

Komentar
Penegakan Hukum Lemah, Penganiaya Hewan Bebas Berulah

Kucing dilempar ke sungai oleh seorang pelajar. (Foto : Foto: Instagram/ @monicaaky)

Trubus.id -- Sebaik-baiknya keadaan hewan adalah ketika ia hidup bebas secara liar di habitat aslinya. Di sana, hewan mampu memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Baik dari segi makanan untuk keberlangsungan hidup, hingga psikologinya.

Dengan insting dan nalurinya, hewan di alam liar tumbuh dan berkembang menjalani hidup yang sehat dan sejahtera. Namun semua itu bisa saja sirna dengan kehadiran manusia.

Yah, terkadang manusia membutuhkan hewan dalam kehidupannya. Contohnya, kuda dibutuhkan untuk transportasi, anjing untuk menjaga rumah, dan kucing sebagai hewan peliharaan. Namun sayangnya, ketika hidup berdampingan dengan manusia, hewan kadang mendapat perlakuan yang tidak semestinya. Kondisi ini akhirnya membuat fisik dan psikologi mereka terluka.

Semua hewan adalah mahluk hidup yang memiliki rasa dan karsa. Mereka bisa merasakan sakit juga. Karena itu, pantas kah mereka teraniaya hanya agar manusia bisa tertawa? Atau untuk sekedar jadi pelampiasan amarah manusia?

Dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan tadi, muncul pertanyaan baru. Dimana peran pemerintah atau penegak hukum dalam menanggulangi masalah yang kerap terjadi ini?

 

Kesejahteraan Hewan

Secara sederhana, kesejahteraan hewan adalah keadaan fisik dan psikologis yang sehat dan sejahtera bagi satwa-satwa yang berinteraksi dengan manusia. Menurut Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE), kesejahteraan satwa adalah bagaimana hewan mengatasi kondisi lingkungannya.

Perawatan anjing di Chambaraya. (Foto: Trubus.id/ Ridwan)

Sementara menurut UU No. 18/2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan didefinisikan sebagai segala urusan yang berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu diterapkan dan ditegakkan untuk melindungi hewan dari perlakuan setiap orang yang tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia.

Dari sini jelas bahwa kesejahteraan satwa bukan hanya memastikan tidak adanya penyiksaan fisik, melainkan juga mencakup upaya kita untuk memastikan bahwa secara psikologis dan mental satwa tersebut dapat memenuhi kehendak alaminya.

Sementara itu, terdapat setidaknya empat kategori hewan yang termasuk dalam cakupan tanggung jawab manusia untuk menjamin kesejahteraannya, termasuk diantaranya, hewan liar dalam kurungan (lembaga konservasi, hiburan, laboratorium), hewan ternak dan hewan potong, hewan kerja dan hewan peliharaan.

 

Penganiayaan Hewan

Kasus penyiksaan terhadap hewan di Indonesia hingga kini masih marak terjadi. Berkat kemajuan teknologi informasi, kasus ini banyak yang terkuat ke publik. Sebagai contoh, kasus pengunjung Kebun Binatang Bandung yang memberikan rokok ke orang utan bernama Ozon beberapa waktu lalu.

Pengunjung Kebun Binatang Bandung memberi rokok pada orang utan. (Foto: Youtube)

Sebelumnya, penganiayaan terhadap hewan juga pernah terjadi di Taman Safari Indonesia. Di sana, pengunjung terekam kamera memberikan minuman keras ke hewan-hewan di areal tempat wisata konservasi dan pendidikan itu.

Selain di 2 lokasi yang seharusnya hewan dapat terlindungi, penganiayaan juga kerap terjadi pada hewan jalanan. Februari silam, sebuah video yang diposting pemilik akun Facebook Yusuf Dan Emy juga sempat bikin geram pecinta hewan.

Dalam video itu tampak seekor kucing dengan kondisi tangan dan leher terikat dilarungkan dalam kardus di bantaran sungai Bolango, Gorontalo. Tak hanya fisik, psikis hewan itu jelas tersakiti karena ulah keji manusia-manusia seperti ini. 

Kasus-kasus penyiksaan terhadap hewan membuktikan kalau masih banyak masyarakat yang belum peduli terhadap salah satu ciptaan tuhan itu. Karena itu, banyak aktivis pecinta hewan mulai rutin menggelar kampanye untuk menjaga, melindungi serta tidak menyakiti hewan-hewan yang tidak berdosa untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap hewan.

 

Psikologi Penganiaya Hewan

Tindakan keji manusia yang dengan sengaja menganiaya hewan dilandasi banyak faktor. Namun yang mengejutkan, satu diantaranya ternyata terkait masalah kejiwaan. Hal itu diungkapkan Kriminolog Unibersitas Indonesia, Josias Simon.

Warga Jakarta Barat terekam kamera menganiaya Bruno, anjing peliharaannya. (Foto: Youtube/ Nadya)

Kepada Trubus Id ketika dihubungi Selasa (27/3) malam, Josias mengatakan, ada saja kemungkinan pelaku penganiayaan mengindap penyakit kejiwaan. Namun banyak pula faktor lain yang menentukan. Seperti keisengan semata contohnya.

"Terkait dengan gangguan kejiwaan, memang kita lihat sebagian itu memang ada yang mengarah ke sana, tapi juga ada juga yang hanya sekedar iseng atau have fun saja, itu semua tergantung sejauh mana kasusnya," ujar Josias.

Mengenai kekerasan terhadap hewan peliharaan, Josias menilai jika para pelakunya memandang objek yang terdekat dari mereka dalam hal ini hewan peliharaan sebagai sebuah pelampiasan emosional. Dan hal itu bisa terjadi kepada non human, dalam hal ini hewan yang ada di sekitarnya.

"Nah itu dia, konsep animal rights ini belum semua orang mengerti dan memahami. Kalau kita berbicara perlakuan kepada binatang yang tadi, karena mereka tidak menghargai konsep animal rights itu, dan mereka melihat hewan sebagai objek yang bisa di eksploitasi," lanjutnya. 

 

Jerat Hukum Pelaku Penganiaya Hewan

Untuk sebagian orang, menyiksa hewan tentu bukan hal yang tabu di lakukan. Sebagian menyebut untuk mendisiplinkan hewan tersebut. Namun sebagian lagi ada yang hanya sekedar iseng belaka. Padahal yang mereka kurang pahami, ada jerat hukum mengintai mereka yang melakukan hal ini.

Kriminolog Universitas Indonesia, Josias Simon mengatakan, ada beberapa perbedaan jerat hukum yang berlaku di negara ini. Ia menyebut, hukuman bagi penganiaya hewan dilindungi dengan penganiaya hewan peliharaan biasa jelas berbeda.

"Kalau animal abuse yang terjadi di kebun binatang itu saya kira jelas harusnya jelas lah peraturannya. Dan kalau ada yang melanggar ya harus ada sanksinya, selama ini kurang adanya penegakan hukum yang baik, jadi ya terus berulang," paparnya.

Lantas, terkait pelaku penganiaya hewan peliharaan, Josias menjelaskan, hewan peliharaan dalam hal ini hewan yang dipelihara untuk dikonsumsi atau peliharaan jual beli sebenarnya juga sudah punya aturan sendiri.

Sementara itu, dikutip dari hukumonlien.com, ada beberapa undang-undang yang bisa menjerat para pelaku penganiayaan hewan. Di Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), pada Bab XIV – Kejahatan terhadap kesusilaan, ada pasal 302 yang mengatur masalah ini.

Dalam ayat 1 pasal tersebut disebutkan, penganiaya hewan bisa diancam dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah karena melakukan penganiayaan ringan terhadap hewan.

Sementara di Ayat 2, disebutkan, Jika perbuatan itu mengakibatkan sakit lebih dari seminggu, atau cacat atau menderita luka-luka berat lainnya, atau mati, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan, atau pidana denda paling banyak tiga ratus rupiah, karena penganiayaan hewan.

Di ayat 3, dijelaskan lagi, jika hewan itu milik yang bersalah, maka hewan itu dapat dirampas. Sementara di pasal 4 disebutkan kalau percobaan melakukan kejahatan tersebut tidak dipidana.

Selain Pasal 302 KUHP, jerat hukum lain juga dicatat di Undang-Undang No. 6 Tahun 1967 Tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Pada pasal 22 Undang-undang tersebut lebih banyak ditujukan pada hewan untuk komoditas peternakan. Isinya juga berisi ketentuan-ketentuan tentang tempat dan perkandangan, pemeliharaan dan perawatan, pengangkutan, penggunaan dan pemanfaatan, cara pemotongan dan pembunuhan dan perlakuan dan pengayoman yang wajar oleh manusia terhadap hewan.

Dari segi perundang-undangan, bisa dikatakan bahwa pada prinsipnya Indonesia merupakan negara yang ramah satwa. Tapi sayangnya, penegakkan hukum di bidang kesejahteraan hewan masih sangat jauh dari memadai. Karena beberapa kali, pelaku penganiayaan yang dilaporkan, pada akhirnya bisa lolos dari jeratan.

 

Kepedulian Manusia Terhadap Hewan

Kucing memang hewan piaraan yang sangat disukai selain anjing, burung atau ayam. Nyaris tiap orang akan meleleh melihat perilaku kucing yang lucu. Karena itu banyak yang menggemari hewan satu ini. Seperti yang dilakukan perempuan berusia 49 tahun dari Malaysia ini.

Azizah Ibrahim dengan kucing yang ia adopsi dari jalanan. (Foto: Istimewa)

Perempuan yang bernama Azizah Ibrahim ini setiap hari ia mengurus sendiri kucing-kucing yang berjumlah 90 ekor di rumahnya, di Kepong, Kualalumpur. Untuk mengurus kucing-kucing itu ia harus rela mengeluarkan uang sebanyak 10 sampai  14 juta rupiah setiap bulannya.

Semua kucing yang tinggal di rumahnya diambil dari jalanan. Mereka semua mempunyai kisah kelam yang membuat orang tak tahan mendengarnya. Menurut Azizah, beberapa kucing yang ia ambil dari jalanan dalam keadaan terlantar. Ada yang kelarapan, ada yang sakit bahkan ada yang berdarah-darah karena ulah orang-orang yang tak bertanggung jawab.

Setelah dirawat hingga sehat, kucing-kucing itu bisa diadopsi. Ia berharap dengan cara ini ia yakin kucing yang telah ia selamatkan berada di tempat yang tepat. Ia kini bekerja sama dengan kementerian kesehatan untuk beberapa sponsor untuk membiayai kucing-kucing yang dirawat di rumahnya.

 

Tips Memperlakukan Hewan Peliharaan

Memiliki hewan sebagai peliharaan memang menyenangkan. Namun untuk pemula atau baru berencana untuk memelihara hewan, tentu ada beberapa hal yang wajib diperhatikan agar hewan yang akan diperlihara dapat perlakuan yang layak. Karena itu perhatikan dulu beberapa hal berikut ini.

Perawatan anjing Chambaraya. (Foto: Trubus.id/ Ridwan)

Pertama, pilih hewan yang cocok dengan situasi tempat tinggal. Kedua, sesuaikan hewan peliharaan dengan kepribadian. Ketiga, perhatikan cara merawat karena tiap hewan memiliki karakteristik dan perbedaan. 

Ketika bicara soal perawatan, hewan memerlukan perlakuan yang spesifik loh agar bisa hidup sehat dan bahagia. Beberapa hal yang pantas diperhatikan agar hewan piaraan tetap sejahtera diantaranya adalah, selalu memberi makanan sehat, jaga kebersihan tubuh dan kandang, rawat hewan ketika sakit, dan yang terakhir, pelihara dengan kasih sayang.

Di tengah isu animal abuse yang sedang marak, kamu bisa mulai perubahan dengan memperlakukan piaraanmu dengan baik. Perlakukan mereka dengan layak dan mereka pun tahu caranya membalas budi. Jadi mulai sekarang, Stop Kekerasan pada hewan yah. [TIM]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: