Menelisik Bahaya Residu AGP pada Manusia

TrubusNews
Syahroni | Followers 2
07 Mar 2018   18:30

Komentar
Menelisik Bahaya Residu AGP pada Manusia

Daging ayam (Foto : Trubus/ Ridwan Syamsyu)

Trubus.id -- Dalam beberapa kondisi, penyakit dengan mudah menyerang manusia. Mulai dari penyakit ringan, hingga penyakit berat yang mengancam jiwa. Dalam kondisi terserang penyakit inilah, biasanya dokter memberikan berbagai obat atau antibiotik.

Penggunaan obat-obatan atau antibiotik dalam banyak hal memang sangat membantu memerangi penyakit di dalam tubuh selama ini. Namun apa jadinya jika tubuh manusia sudah resistensi (kebal) terhadap antibiotik?

Disadari atau tidak, resistensi terhadap antibiotik mulai begitu mencemaskan banyak pihak. Bahkan para ahli menyebut, resistensi terhadap antibiotik adalah akhir dari masa pengobatan modern. Pasalnya, dengan kondisi ini, infeksi biasa akan dapat menghilangkan nyawa manusia.

Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO), Dr Margaret Chan April lalu memperingatkan, apa yang dianggap banyak kalangan sebagai satu ancaman terbesar terhadap kesehatan dunia saat ini adalah peningkatan masalah infeksi biasa yang tidak bereaksi terhadap antibiotik.

Residu AGP, Penyebab Resistensi Antibiotik

Kebutuhan masyarakat akan pakan mengandung protein tinggi semakin hari semakin meningkat. Sumber protein hewani yang berasal dari unggas, hewan ternak lain seperti sapi dan kambing adalah yang terbesar selama ini. 

Namun sayangnya di Indonesia, sumber protein hewani yang aman masih sulit di dapat. Pasalnya, diduga masih ada peternak yang menggunakan Antibiotik Growth Promoter (AGP) atau antibiotik percepatan pertumbuhan, pada pakan hewan ternak peliharaannya.

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Ditjen PKH) mengungkap, penggunaan AGP bisa mengganggu kesehatan manusia yang mengonsumsi produk ternak yang di tubuhnya terendap residu AGP yang sulit tergradasi.

"Saat ini sebanyak 700 ribu orang meninggal tiap tahunnya karena resistensi pada antibiotik. Yang saya pikirkan sekarang adalah, bagaimana generasi kita ke depan jika penggunaan AGP tidak dilarang. Ini tentunya sangat berbahaya," ungkap Dirjen PKH, I Ketut Diarmita dalam keterangan tertulis beberapa waktu lalu.

Menurut WHO, resistensi antibiotika terhadap bakteri menyebabkan terjadinya penyakit yang sangat serius pada manusia. Penyakit itu berupa kegagalan pengobatan terhadap infeksi gastrointestinal yang disebabkan oleh Campylobacter Sp. dan Salmonella Sp.

Kejadian resistensi antibiotika terhadap bakteri yang diisolasi dari pasien penderita diare di beberapa rumah sakit di Indonesia juga telah dilaporkan pada beberapa rujukan ilmiah. Selain itu, beberapa sumber rujukan ilmiah internasional juga menunjukkan bahwa beberapa foodborne bakteri seperti Salmonella Sp., Campylobacter Sp., Enterococci Sp., dan Escherichia coli yang resisten terhadap antibiotika telah terbukti dapat mentransfer gen resisten ke manusia melalui rantai makanan atau secara kontak langsung.

Bahaya Residu AGP Ketika Dikonsumsi Manusia

Pemberian AGP pada ternak memang mampu mempersingkat pembesaran dan menghindari ternak dari berbagai penyakit. Namun sayangnya, dampak yang ditimbulkan tidak setara dengan kelebihannya itu. Yah, di dunia kedokteran pemberian AGP pada ternak yang nantinya dikonsumsi manusia sangat berbahaya.

Menurut dr. Ika Rafika Iskandar, kelarutan dari beberapa jenis antibiotik juga sangat berpengaruh terhadap distribusi obat tersebut di dalam tubuh, sebagai contoh ada beberapa antibiotik yang mudah larut dalam air.

“Sehingga tidak terlalu terdistribusi jauh oleh jaringan tubuh atau dalam arti tidak meningalkan residu pada daging ataupun telur, tapi ada antibiotik yang hanya dapat larut dalam lemak dan akan meninggalkan residu pada ternak ketika dipanen,” ungkapnya kepada Trubus.id, Selasa (6/3).

Hal inilah yang menjadi perhatian karena dampaknya sangat buruk bagi manusia ketika ia mengongumsi ayam yang terpapar residu antibiotik.

“Keadaan diperparah karena residu antibiotik yang terdapat pada jaringan otot ayam atau telur, dapat membuat manusia mengalami resistensi (kebal) pada beberapa jenis antibiotik,” sambungnya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa antibiotik pada AGP dapat membunuh bakteri patogen pada pencernaan ayam seperti Salmonella, Campylobacter, Enterococci dan Escherichia coli. Sedangkan ditemukan sejumlah kasus masalah pencernaan yang terjadi pada manusia diakibatkan oleh bakteri tersebut.

“Bayangkan jika pasien sudah kebal dengan antibiotik seperti Klorafenikol dan Tetrasiklin (golongan antibiotik spectrum luas),” ungkapnya.

Mengenali Daging yang Mengandung Residu AGP

Daging yang mengandung residu AGP memang tidak mudah dikenali. Ahli pakan ternak dari Fakultas Peternakan IPB, Prof. Dr. Ir. Nahrowi, menjelaskan, sulit hanya dengan menggunakan organ manusia seperti mata dan indera lain untuk membedakan daging yang mengandung residu AGP.

Ia mengatakan, analisis daging hanya bisa dilakukan melalui uji laboratorium. Selain itu banyaknya jenis antibiotik yang dikandung dalam ayam yang mengkonsumsi atau diinjeksi antibiotik juga banyak sekali. Karena itulah, tidak mudah mengenalinya.

Pemerintah Indonesia Larang Penggunaan AGP

Ancaman bahaya karena mengkonsumsi daging yang mengandung residu AGP tidak bisa dianggap sepele. Karena itu, pemerintah melalui kementerian pertanian sesuai dengan amanat undang-undang nomor 18/2009 juncto undang-undang nomor 41/2014 mengeluarkan Permentan 14/2017 tentang klasifikasi obat hewan yang memuat pelarangan penggunaan antibitotik sebagai pemacu pertumbuhan.

Pelarangan AGP sendiri sudah resmi diberlakukan sejak 1 Januari 2018 silam. Maka, Kementerian Pertanian (Kementan) mulai memperketat pengawasan terhadap integrator dan peternak di seluruh Indonesia. Bahkan, Kementan telah menyiapkan sanksi tegas bagi yang melanggar.

"Bagi yang melanggar, akan dicabut izinnya. Apalagi, pemerintah telah melakukan pendekatan dengan Asohi (Asosiasi Obat Hewan Indonesia) dan integrator agar lebih displin," ujar I Ketut Diarmita, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, beberapa waktu lalu.

Dampak Pelarangan AGP pada Peternak

Sebelum pemerintah mengeluarkan larangan penggunaan AGP pada pakan ternak, banyak peternak unggas, sapi atau kambing di Indonesia yang menggunakan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan ternak mereka.

Syamsul Ma'arif, Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner mengatakan, peternak juga lazim memberi antibiotik untuk mengurangi risiko kematian. Caranya dengan mencampurkan antibiotik ke air minum ternak, lima hari sebelum masa panen.

"Risiko kematian unggas bisa diantisipasi dengan penerapan biosekuriti tiga zona. Pemisahan zona kontaminasi tinggi dan aman dan aman, bisa meminimalkan kematian ternak," jelas Syamsul.

Sementara itu, ahli pakan ternak dari Fakultas Peternakan IPB, Prof. Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc memperkirakan, para peternak yang khususnya belum menerapkan peternakan tertutup (close house), pada masa awal pelarangan ini, akan mengalami sedikit penurunan dari segi keuntungan.

"Kenapa AGP menjadi penting di Indonesia, karena AGP akan berperan jika peternakannya masih belum bagus, itu berkaitan erat. Nah, jika sekarang AGP nya dilarang dan peternakannya belum baik (belum close house), saya yakin ada penurunan keuntungan," ungkapnya kepada Trubus.id ketika ditemui di kantornya, Bogor, Rabu (7/3).

Ia melanjutkan, penurunan yang terjadi pertama adalah pada sisi pertumbuhan ternak.  Ia memprediksi, penurunannya mencapai 8-12 persen. Selanjutnya dari segi efisiensi juga turun, sekitar 4-8 persen.

Untuk itu, ia menyarankan agar tidak hanya peternak besar yang memiliki kandang tertutup (close house), tapi juga pemerintah atau instansi terkait lainnya bisa memfasilitasi peternakan kecil dalam menyediakan kandang close house.

"Dengan begitu, saya yakin peternak secara signifikan akan meninggalkan penggunaan AGP, karena mereka bisa menanggulangi paparan bakteri dan kebersihannya terjaga," tutupnya.

Alternatif Pengganti AGP 

Kondisi peternak di Indonesia sangat berbeda dengan Eropa yang saat ini sudah melarang penggunaan AGP. Itu karena, lingkungan dan model pemeliharaan unggas di semua negara Eropa sangat mendukung untuk tidak memakai AGP.

Berbeda dengan Indonesia. Model kandang, lingkungan, kualitas air, serta biosekuriti, masih sangat rentan untuk kesehatan ternak, khususnya unggas. Tak heran jika penggunaan AGP pada pakan sangat menguntungkan para peternak.

Namun usai dilarang penggunaannya, sejumlah upaya telah dilakukan untuk mengembangkan alternatif yang sesuai untuk mengatasi dampak yang merugikan peternak. Substansi lain, dikenal dengan natural growth promoter, telah diidentifikasi mempunyai khasiat dan aman untuk menggantikan fungsi antibiotik pemacu pertumbuhan. Belakangan substansi ini disebut juga alternatif growth promoter. 

Saat ini, banyak tersedia dan beredar alternatif growth promoter di pasaran, diantaranya asam organik, immunomodulator, probiotik, prebiotik, enzim NSP, copper dan fitogenik. Semua produk tersebut memiliki potensi meningkatkan kesehatan saluran pencernaan dan performa pertumbuhan.

Pada umumnya, alternatif pengganti AGP memengaruhi mikroflora usus, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Jadi, tujuan utama penggunaan alternatif pengganti AGP untuk membuat dan memelihara keseimbangan mikroflora saluran pencernaan yang melindungi ternak terhadap invasi kuman patogen.

Selain itu, pakan alternatif pengganti AGP dapat juga dapat diselingi dengan ramuan herbal alami seperti kunyit dan bawang putih. Dikenal sebagai jamu herbal untuk ayam atau jamu ayam tradisional. Cara membuat jamu ayam tradisional ini pun tak terlalu sulit karena bahannya mudah didapatkan. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          

Mengenal Magot, Si Pengolah Sampah Organik yang Andal

Binsar Marulitua   Liputan Khusus
Bagikan: