Membongkar Praktik Jual Beli Sayuran Sampah

TrubusNews
Syahroni | Followers 0
28 Feb 2018   18:00

Komentar

Pemulung sayuran dari tempat sampah di Pasar Induk Kramatjati. (Foto : Trubus.id/ Syahroni)

Trubus.id -- Budaya mengkonsumi sayuran telah ada sejak jaman dahulu. Jauh sebelum ada ilmu gizi yang menerangkan tentang manfaatnya bagi kesehatan.

Yah, secara garis besar sayuran memang banyak manfaatnya bagi tubuh manusia. Sebagai sumber serat, vitamin, dan mineral dan lain-lainnya yang berkhasiat untuk meningkatkan kesehatan, metabolisme tubuh, melancarkan Buang Air Besar hingga mencegah kanker.

Namun untuk mendapatkan semua manfaat baik sayuran itu, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Salah satunya, kelayakan sayuran yang akan dikonsumsi. 

Baca Lainnya: Waspada, Sayuran dari Tempat Sampah Marak di Pasaran

Sayuran dari Tempat Sampah

Belum lama ini, temuan sayuran yang dipungut pemulung dari tempat sampah sempat membuat gempar warga. Mirisnya, sayuran-syuran yang sudah tidak layak konsumsi itu diperjualbelikan lagi di pasaran.

Jika saja hewan ternak yang memakannya, mungkin tidak menjadi masalah. Namun jika dikonsumsi manusia, itu yang sangat berbahaya. Apalagi jika sampah-sampah sayuran itu sudah tercemar limbah cair berbahaya.

Praktik jual beli sayuran dari tempat sampah dapat dengan mudah dijumpai di Pasar Induk Kramatjati. Di pasar induk terbesar di ibu kota itu, ratusan pemulung setiap harinya mengais rezeki dengan memulung sayuran dari tempat sampah.

Di tumpukan sampah sedalam 1 meter di pelataran parkir tempat truk sayur melakukan bongkat muat barang, Trubus.id melihat mereka bekerja. Dengan cekatan, pemulung-pemulung itu mengaduk-aduk tumpukan sampah yang dibuang ke tempat itu.

Bau busuk serta limbah cair yang menyatu dengan sampah itu, tak menyurutkan semangat mereka. Kumbang, lalat, hingga tikus ikut jadi saingan mereka. Mengerubungi sampah sayuran yang masih tersisa.

"Untuk dijual lagi mas, buat makan uwong (orang)," jelas seorang wanita paruh baya yang tengah memilah sampah wortel ketika berbicang dengan Trubus.id, Kamis (22/2) petang.

Mbah Agus, pemulung sampah sayur lain mengaku, sudah lama ia dan istrinya menjadi pemulung sayur di pasar induk Kramatjati. Setiap harinya ia mengaku bisa mengumpulkan uang dari Rp50 hingga 100 ribu dari hasil menjual sampah sayurannya.

"Yang beli banyak mas, dari yang pakai motor sampai yang pake mobil bagus. Soalnya kan lebih murah dari pada di dalam (los pasar resmi)," ujarnya.

Mbah Agus juga mengakui, pembeli yang kerap jadi langganannya biasa menggunakan sayuran-sayuran sampah darinya untuk dimakan. Pemilik rumah makan pinggir jalan yang ia sebut sebagai langganan.

"Yah dipilihin mas yang masih bisa dimakan aja. Yang beli buat dimasak, buat jualan. Rumah makan," katanya lagi.

Mbah Agus mengaku sudah hampir 10 tahun menjalani profesi ini. Dari hasil memulung, dia dan istrinya bisa menafkahi ke 5 anaknya. Namun sepertinya yang ia tidak pedulikan, dampak kesehatan orang yang mengkonsumsi sayuran dari tempat sampah yang ia perjualbelikan.

Jenis Sayuran dari Tempat sampah yang Diperjualbelikan

Berbagai sayuran bisa ditemukan di tempat sampah sekitaran Pasar Induk Kramatjati. Namun buat para pemulung, ada beberapa sampah yang punya nilai jual tinggi. Rata-rata, sampah sayuran jenis ini yang bereka buru.

Wortel, adalah salah satu sayuran yang paling banyak dicari oleh pemulung. Sampah wortel hasil seleksi pengepul yang sudah tidak layak dijual karena dari segi ukuran yang tidak layak, juga karena ada beberapa bagiannya yang sudah membusuk. Harga wortel di tangan pemulung juga cukup murah. Sekarung kecil wortel hanya di jual Rp5 ribu saja. Bedanya jelas sangat jauh terpaut dengan harga wortel kategori bagus.

Selain wortel, sayuran seperti kentang, kubis, lobak, kol, bawang merah, bawang putih, daun bawang, sawi hingga cabai juga banyak dijual para pemulung ini. Tentu saja, kondisinya tidak sebagus dengan sayuran yang dijual pengepul yang benar-benar menjual sayuran dengan kualitas bagus. 

Paino, seorang pedagang Sayur di Pasar Tebet, Jakarta Selatan yang ditemui di Pasar Induk Kramatjati mengakui, harga yang dijual pemulung ini memang sangat menggiurkan. Namun sayangnya, untuk kembali dijual di pasaran sebagai bahan makanan, hal itu sulit dilakukan.

"Nggak laku mas kalau buat dijual lagi di luaran. Soalnya kan kondisinya sudah jelek. Makanya yang beli itu pemilik rumah makan. jadi langsung di masak," katanya kepada Trubus.id. 

Sampah Sayur Pasar Induk Kramatjati

Maraknya pemulung sayuran sampah di Pasar induk Kramatjati tak lepas dari ketersedian sampah di pasar tersebut. Selama ini, Pasar Induk Kramatjati memang menyandang predikat sebagai pasar penyumbang sampah organik terbanyak.

Asisten Direktur Tekhik PD Pasar Jaya Kramatjati, Sumina kepada Trubus.id, Senin (26/2) lalu mengatakan, setiap hari, jumlah total sampah organik bisa mencapai 260 meter per kubik. Jika dikonversi, sama dengan 55 sampai 60 ton.

"Hampir 75 hingga 80 persen komposisinya sampah organik. Baik dari sayur mayur, buah-buahan, dan merang padi. Sisanya paling kayu-kayu hasil pengepakan dan kardus lainnya," jelasnya.

Bahaya Sayuran dari Tempat Sampah

Bahaya mengkonsumsi sayuran yang berasal dari tempat sampah tidak bisa dianggap sepele. Bahkan dosen gizi masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia IPB, dr. Naufal M Nurdin, M.Si mengatakan, sayuran yang tercemar limbah mengandung bakteri karena diambil dari tempat sampah sangat berbahaya bagi tubuh manusia. 

Tumpukan sampah menjadi tempat mencari makan hewan pembawa penyakit seperti tikus.

"Memang sayuran yang sudah terkena limbah cair dan air kencing hewan seperti tikus, sudah tidak layak konsumsi lagi. Terlebih dengan kencing tikus yang mengadung banyak penyakit," jelasnya kepada Trubus.id ketika ditemui di kantornya, Bogor, Senin (26/2).

Ia menambahkan, apabila seseorang tetap mengonsumsi sayuran ini, bukan tidak mungkin penyakit berbahaya menjangkiti. Bahaya penyakit yang mengintai diantaranya seperti diare hingga keracunan logam berat yang bisa menyebabkan kanker.

"Hal yang paling umum terjadi biasanya diare. Lalu jika sayuran itu sudah tercemar limbah, apalagi limbah itu kan banyak bahan kimianya ya, dan jika terus dikonsumsi dalam jangka waktu lama dan banyak, tentu akan bersifat toxic dan efeknya bisa muncul 20-30 tahun kemudian," tandasnya.

Beda Masakan dari Sayuran Segar dan Sayuran Tak Layak

Untuk mencegah kontaminasi zat berbahaya yang masuk melalui makanan yang diolah dari sayuran yang berasal dari tempat sampah, dibutuhkan ketelitian. Hal itu diungkapkan Ibu Apsah, pemilik katering di bilangan Kampung Duku, Kramatjati, Jakarta Timur.

Ia mengatakan, dari segi warna, sayuran yang sudah dimasak dengan sayuran layak jelas bisa terlihat. 

"Kalau kacang panjang yang segar, warnanya tetap hijau. Kalau yang dari tempat sampah kan udah nggak bagus yah, jadi warnanya agak gelap," ujarnya kepada Trubus.id.

Ia menambahkan, dengan melihat kuah sayuran juga bisa dibedakan mana sayuran yang bagus dan yang buruk. 

"Kalo sayuran sampah itu kalo kita sayur beda kuahnya. Kita rasa itu agak-agak bau-bau gitu, walaupun bumbunya enak tetep rasanya beda. Dan kalau sudah 2 sampai 3 jam dimasak dia keluar busa gitu. Kan mengandung gas dari limbah sampah tadi itu," jelasnya lagi.

Karena itu ia menyarankan, jika hendak makan, lihat dulu sayuran yang disajikan. Jika memiliki ciri-ciri tersebut di atas, lebih baik dihindari.

Regulasi Sayuran Sampah Menurut YLKI

Maraknya penjualan sayuran yang berasal dari tempat sampah jelas merugikan pembelinya. Karena temuan berasal dari pasar, hal itu merupakan wewenang Pemda PD Pasar Jaya. Demikian diutarakan Natalya Kurniawati, seorang Peneliti di YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia).

“Harus ada regulasi yang benar soal sampah. Pemisahan sampah organik dan non-organik harusnya jelas di semua pasar. Dan yang paling penting, tidak boleh ada akses bagi siapapun, kecuali petugas yang membersihkan semua sampah tersebut. Ini bisa memutus rantai pemulung ke penadah. Yang jelas, harus ada pengawasan lebih ketat lagi.” ujarnya kepada Trubus.id.

Mengenai hak konsumen, Natalya mengatakan, konsumen yang apabila menemukan sayuran sampah untuk konsumsi lagi, bisa melapor ke YLKI. Nantinya, pihaknya akan melakukan penyelidikan dan meneruskan hasil temuan ke pihak Pemda. 

"Atau, bisa juga melakukan pelaporan ke pihak Pemda PD Pasar Jaya langsung,”, tambahnya.

Meski demikian, Natalya juga menghimbau konsumen untuk selektif memilih sayuran yang akan dibeli.

“Kembali ke pilihan masing-masing konsumen. Dalam memilih barang apapun, terutama yang untuk dikonsumsi, harus lebih hati-hati. Pilih sayuran segar layak konsumsi yang dijual oleh pedagang resmi di pasar, di mana pengelolaannya juga terawasi.” kata Natalya. 

Pagpag, Makanan Olahan dari Tempat Sampah

Sayuran dari tempat sampah memang sangat berbahaya. Namun untuk sebagian orang hidup di bawah garis kemiskinan, makanan ini bisa menjadi penyelamat hidup. Seperti yang dilakukan warga miskin di Filipina.

Di kalangan pemulung di Tondo, Manila terdapat istilah yang sangat populer untuk makanan olahan dari tempat sampah. Pagpag mereka menyebutnya. Secara harfiah, Pagpag berarti "puding" atau makanan daur ulang yang didapat dari tempat sampah.  

Para pemulung di sini, selain mencari barang bekas di antara sampah mereka juga mengumpulkan makanan di antara sampah untuk memberi makan keluarganya.

"Banyak pemulung menjual makanan daur ulang yang mereka ambil dari sampah lainnya. Ini adalah praktik umum di sekitar sini, "kata penghuni Tondo, Amy Ignacio, yang telah mengumpulkan sampah dari sebuah restoran makanan cepat saji selama enam tahun terakhir.

Ia merasa sayang melihat sisa-sisa daging ayam yang terbuang sia-sia. Dia memasaknya kembali untuk memberi makan anak-anaknya. Meski begitu, Ignacio mengaku tak satupun dari ketiga anaknya sakit karena mengonsumsi makanan daur ulang ini.

Jangan Tergiur Harga Murah

Maraknya penjualan sayuran dari tempat sampah tidak serta merta terjadi. Harga murah yang membuat banyak pedagang nakal yang memanfaatkan kondisi ini. Karena itu, waspadahal dengan harga sayuran yang jauh dari harga pasaran. Karena ada pepatah mengatakan, 'Ada harga ada rupa,'.

Nah, untuk memastikan sayuran yang masuk ke tubuh anda memang layak, ada baiknya memilih sayuran yang masih tampak segar. Perhatikan juga bagian batang sayur. Biasanya, sayuran yang masih segar itu, bagian batangnya tidak mudah dipatahkan atau lembek. Ketika membeli sayuran, perhatikan jika daunnya dalam keadaan utuh, tidak berlubang dan tidak ada bercak hitam bekas limbah.

Namun yang paling penting dari itu semua, jangan terlena dengan harga sayuran yang sangat murah yah. [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: