Siapkah Jakarta Menghadapi Gempa Bumi Megathrust M 8,7

TrubusNews
Astri Sofyanti | Followers 1
28 Feb 2018   11:45

Komentar
Siapkah Jakarta Menghadapi Gempa Bumi Megathrust M 8,7

Suasana diskusi ilmiah BMKG di Auditorium BMKG, Rabu (28/2) (Foto : Foto: Trubus.id/Astri Sofyanti)

Trubus.id --  Indonesia rawan terjadi gempa karena letaknya yang dilewati oleh tiga lempeng, yakni lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Indo-Australia. Hal tersebutlah yang mengakibatkan terjadinya gempa bumi di Lebak, Banten, 23 Januari lalu.

Pergerakan lempeng inilah yang mengakibatkan Indonesia kerap dilanda gempa bumi. Kekhawatiran muncul berdasarkan sekmentasi Megathrush (dorongan kuat) yang dapat mempengaruhi kerusakan di sejumlah infrastruktur terutama di Ibukota Jakarta.

Kita ketahui bersama, saat ini terjadi peningkatan Megathrust di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Selat Sunda. Namun sejumlah ilmuwan khawatir dengan Megathrust yang terjadi di wilayah Selat Sunda.

Baca Lainnya : Waspada, Tapanuli Utara Jalur Gempa Aktif di Indonesia

“Jika terjadi bisa menyebabkan gempa yang setara seperti gempa Aceh yang menimbulkan tsunami pada 2014 lalu,” kata Drs. Soebarjo, ketua Ikamega Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam acara seminar bertema Gempa Bumi Megathrust M 8,7 Siapkah Jakarta, di Auditorium BMKG, di Jakarta, Rabu (28/2).

Sebagaimana diketahui, jika tanah yang ada di Jakarta merupakan tanah endapan yang dapat menimbulkan besaran amplitudo sangat dahsyat ketika terjadi gempa bumi. Hal tersebut bisa menimbulkan kerusakan sangat parah terjadi di Ibukota.

Untuk itu, ia mengatakan Jakarta harus siap apabila terjadi gempa 8,7 skala richer (SR). Lalu bagaimana cara mengantisipasi datangnya gempa Megathrust di Jakarta?

Baca Lainnya : Cuaca Buruk, Hujan Es dan Puting Beliung Menerjang Sulawesi

Soebarjo menyatakan, saat ini kita sedang berjuang untuk melakukan transformatif/adaptasi yang terus berkembang. Artinya, apapun kajian para pakar nantinya dipastikan gempa masih akan terus terjadi.

“Akurasi 100 persen gempa terus terjadi termasuk di DKI Jakarta yang banyak gedung-gedung,” kata Prof. Ir. Dwikorita Karnawati M.Sc, Ph.d kepala BMKG.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa kapannya magnitudo atau gempa terjadi di Jakarta masih belum dapat dipastikan. Namun ia menekankan gempa bumi akan tetap terjadi di Jakarta.

“Oleh karena itu pertemuan ini kita bisa mengambil sikap dari ketidakpastian, tapi kita harus pasti dalam bersikap dalam menghadapi gempa,” sambungnya.

Sedimen tanah jakarta adalah tanah lunak atau endapan rawa yang apabila mengalami guncangan gempa akan terjadi getaran cukup kuat. “Jakarta dikepung patahan-patahan aktif dan jika terjadi gempa, kekuatanya sangat dahsyat,” lanjutnya.

Baca Lainnya : Eropa Diterjang Cuaca Dingin Mematikan

Tindakan selanjutnya yang dapat dilakukan adalah langkah yang lebih kongkret untuk upaya mitigasinya. Dwikorita berharap BPBF dan lembaga lainnya dapat melakukan audit gedung-gedung tinggi di Jakarta untuk mengetahui konstruksinya apakah rentan terhadap gempa atau tidak.

Kepala BMKG tersebut juga mengatakan, jika gempa terjadi diharapkan evakuasi bisa dilakukan dengan tepat dan cepat. “Kami berkewajiban memberikan hak hidup bagi masyarakat di Jakarta ketika terjadi gempa,” sambungnya.

Lebih lanjut Ia juga mempertanyakan apakah gedung-gedung tinggi  di Jakarta sudah memiliki jalur evakuasi yang tepat? 

“Edukasi harus selalu dilakukan karena generasi terus berganti,” tambahnya.

Hingga saat ini patahan buta di Jakarta atau para pakar belum bisa mendeteksi patahan aktif yang bersemayam di dalam tanah Jakarta. [NN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: