Menguak Tabir, Penyebab Jakarta krisis Air

TrubusNews
Syahroni | Followers 2
21 Feb 2018   18:30

Komentar

Ilustrasi (Foto : Trubus/ Ridwan Syamsyu)

Trubus.id – Masalah air bersih sudah lama menjadi problematika di hampir semua negara di dunia. Namun bedanya, di beberapa negara, penanganan secara komprehensif sudah lama dilakukan. Hasilnya pun sudah mulai terlihat.

Di negara-negara maju yang sudah lebih dulu mengenal teknik pengolahan air baku, air bersih hasil olahan itu sudah bisa langsung dikonsumsi tanpa khawatir adanya ancaman penyakit yang akan menjangkiti.

Sayangnya di Indonesia, khususnya Jakarta sebagai Ibu Kota negara, masalah air bersih ini seperti dipandang sebelah mata. Belum terlihat hasil yang signifikan dari program-program penanganan masalah air bersih yang diklaim sudah dilakukan pemerintah.

Padahal bahayanya, setiap tahun kebutuhan warga Jakarta akan air bersih, terus meningkat. Menurut prediksi yang di dasari proyeksi dari PBB yang dilansir BBC, kebutuhan dunia akan air bersih akan meningkat 40% pada tahun 2030 mendatang.

Banyak faktor yang mempengaruhi peningkatan ini. Namun disebutkan, perubahan iklim, prilaku manusia serta pertumbuhan populasi yang jadi penyebab cepatnya laju peningkatan ini.

Jakarta di Daftar 11 Kota yang Krisis Air Bersih

Sejak tahun 2014 lalu, PBB melakukan survei terhadap 500 kota besar di dunia. Hasilnya diketahui, dari daftar kota-kota yang ada dalam kondisi krisis air bersih ini, nama ibu kota Indonesia ada di dalamnya.

Berikut daftar 11 kota yang diprediksi akan mengalami kekurangan air berdasarkan survei tersebut. 

1. Sao Paulo, Brazil

Ibu kota Brazil ini mengalami kelangkaan air bersih pada tahun 2015 silam dengan pasokan air di waduknya hanya mencapai kurang dari 4%. Pada puncak krisis, kota berpenduduk 21,7 juta orang itu hanya memiliki pasokan yang cukup untuk 20 hari. Walaupun krisis dinilai sudah berakhir pada 2016, tapi pasokan air kembali kurang dari 15% pada Januari 2017.

2. Bangalore, India

Pertumbuhan properti di kota ini sangat pesat, tapi tidak diikuti kesiapan di sisi pengelolaan air dan pembuangan limbah. Selain itu, jalur pipa airnya sudah tua sehingga separuh air bersihnya terbuang percuma. Danau-danau yang ada di kota itu juga tidak layak minum maupun mandi.

3. Beijing, Cina

Menurut Bank Dunia, sebuah kota disebut kekurangan air ketika pasokan air bersihnya kurang dari 1.000 meter kubik per orang. Pada 2014, masing-masing penduduk Beijing yang jumlahnya 20 juta orang hanya mendapat 145 meter kubik air bersih.

4. Kairo, Mesir

Sungai Nil yang sempat menjadi sumber peradaban dunia debit airnya terus menyusut seiring meningkatnya pertanian yang tidak dikelola dengan baik dan limbah rumah tangga. Data WHO menyebutkan Mesir merupakan salah satu negara berpendapatan rendah dengan tingkat kematian akibat polusi air yang cukup tinggi. PBB memperkirakan Kairo akan mengalami krisis air terburuk tahun 2025.

5. Jakarta, Indonesia

Seperti kota-kota pesisir lainnya, Jakarta menghadapi ancaman naiknya permukaan laut. Tetapi, kondisi ini diperparah dengan perilaku manusianya. Separuh penduduknya yang berjumlah 10 juta orang memiliki akses ke jaringan air bersih, maka penggalian sumur secara ilegal sangat lumrah terjadi. Akibatnya, air tanah Jakarta terus berkurang dan 40% daratan ibu kota Indonesia ini sekarang berada di bawah permukaan laut.

6. Moskow, Rusia

Sekitar 25% persediaan air bersih dunia ada di Rusia. Tapi sayangnya negara ini masih dilanda masalah polusi warisan era Soviet. Moskow menjadi kota yang paling terdampak, di mana 70% pasokan airnya sangat bergantung pada air yang ada di permukaan.

7. Istanbul, Turki

Pasokan air di Turki disebut sudah mencapai titik terendah dengan tingkat pasokan per kapita berada di bawah 1.700 meter kubik pada 2016. Para ahli memperkirakan situasinya akan lebih parah lagi dan bahkan diprediksi mengalami kelangkaan air pada 2030. Persediaan air di waduk kota mencapai kurang dari 30% kapasitas asli pada awal 2014.

8. Mexico City, Mexico

Kota berpenduduk 21 juta orang ini sudah lama mengalami kekurangan air, di mana 1 dari 5 orang penduduk hanya mendapat pasokan air selama beberapa jam dalam sepekan. Ibu kota Meksiko ini mendatangkan 40% airnya dari sumber mata air di lokasi yang cukup jauh.

9. London, Inggris

Dengan curah hujan sekitar 600 mm setahun, London mengambil 80% airnya dari sungai-sungai di sekitar seperti Thames dan Lee. Pemerintah setempat memperkirakan kota itu akan mengalami masalah air serius pada 2025 dan kekurangan air parah pada 2040.

10. Tokyo, Jepang

Ibu kota Jepang ini menikmati curah hujan yang tinggi. Namun, hujan terkonsentrasi hanya pada empat bulan setiap tahunnya. Menjadi rumah bagi lebih dari 30 juta orang, sekitar 70% pasokan air Tokyo bergantung pada air di permukaan seperti sungai, danau, dan salju yang meleleh.

11. Miami, Florida

Pada awal abad ke-20, sebuah proyek yang dilakukan untuk mengeringkan rawa-rawa ternyata membuat air dari Samudera Atlantik mengontaminasi air di waduk kota. Padahal, waduk tersebut menjadi sumber air bersih Miami. Walaupun sudah terdeteksi sejak 1930-an, tapi air laut masih terus masuk. Apalagi, permukaan laut di kota ini juga terus meningkat. 

Kebutuhan Air Bersih Warga Jakarta

Dalam daftar 11 kota di atas, Jakarta menduduki rangking ke 5. Untuk sebagian orang yang membaca daftar tersebut pasti penasaran, berapa sebenarnya kebutuhan air masyarakat Jakarta dan berapa yang dihasilkan setiap harinya.

Perusahaan Air Minum (PAM) Jaya selaku perusahaan yang terlibat untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Jakarta menyebut, defisit air di ibukota kini mencapai 4.500 liter per detik dari jumlah kebutuhan mayarakatnya. Direktur Utama PAM Jaya, Erlan Hidayat, mengatakan jumlah kebutuhan air bersih di Jakarta saat ini mencapai 22.500 liter per detik.

Sementara itu, air bersih yang dikelola saat ini oleh PAM Jaya hanya sebanyak 18.000 liter per detik atau kurang sebanyak 4.500 liter per detik dari jumlah kebutuhan.

"Kami akan dorong PAM Jaya untuk mempercepat pembangunan WTP di kawasan Hutan Kota, Penjaringan, Jakarta Utara. Kalau selesai sesuai perencanaan pada awal 2019, diharapkan bisa mendapat 500 liter per detik," kata Erlan, Selasa (13/2).

Ia menambahkan, target di tahun 2022, dengan tambahan suplai air dari berbagai wilayah, kapasitas air sebanyak 22.500 liter per detik bisa dihasilkan. Namun demikian, jika target itu tercapai, Jakarta tetap akan kekurangan air bersih karena permintaannya yang terus meningkat setiap tahun. 

Penyebab Krisis Air Ibu Kota

Perubahan iklim, prilaku manusia serta pertumbuhan populasi disebut PBB sebagai faktor yang mampu mempercepat naiknya kebutuhan air bersih di dunia. Namun di Jakarta, ada banyak faktor lain yang berperan meningkatkan kebutuhan air. Penurunan permukaan tanah dan buruknya pengelolaan air contohnya.

Banyak air tanah yang dimanfaatkan warga, membuat permukaan tanah semakin menurun. Dampaknya, menurut data yang diperoleh dari Geodesi ITB dan Perpustakaan Nasional, pada tahun 2050 diprediksi 35,61 persen daratan Jakarta akan terendam air laut.

Jika hal ini terjadi, sumber air tanah sudah pasti tidak layak di konsumsi. Seperti yang kini terjadi di beberapa wilayah di Jakarta Utara saja contohnya. Dari data di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) diketahui, 80 persen air tanah di wilayah Cekungan Air Tanah (CAT) Jakarta tidak memenuhi standar Permenkes Nomor 492 Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.

Dari berbagai wilayah ini, Jakarta Utara tercatat sebagai wilayah terparah. CAT Jakarta Utara mengandung unsur Fe (besi), Na (Natrium), Cl (Klorida), TDS (Total Disolve Solid) dan DHL (Daya Hantar Listrik) yang tinggi akibat adanya pengaruh dari intrusi air asin.

Hasil pemantauan yang dilakukan Badan Geologi melalui Balai Konservasi Air Tanah, dalam dua tahun ke belakang dari 200 titik sumur pengamatan (sumur pantau, sumur produksi, sumur gali dan sumur pantek) menunjukkan bahwa sekitar 80 persen air tanah di wilayah CAT Jakarta tidak memenuhi standar tersebut.

Penanganan

Salah satu langkah menanggulangi masalah krisis air di Jakarta adalah dengan meningkatkan pengelolaan air baku menjadi air bersih siap konsumsi. PAM Jaya sendiri mengaku pihaknya masih sedikit kewalahan menangani masalah ini. Ketersediaan air baku yang jadi kendalanya.

Namun belum lama ini, Pemprov DKI menemukan solusi mengatasi masalah tersebut. Guna menyediakan suplai air baku di ibu kota, Pemprov DKI Jakarta melakukan kerja sama dengan beberapa wilayah di sekitarnya. Salah satunya dengan menggandeng Kabupaten Tangerang.

Diketahui, kerja sama ini merupakan perpanjangan kontrak antara DKI Jakarta dengan Kabupaten Tangerang dengan durasi kontrak 20 tahun. Program kerja sama ini akan fokus dalam penyediaan air bersih bagi warga di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Selatan.

Pencegahan

Selain membuat program penanganan, Pemprov DKI juga sempat membuat beberapa program pencegahan agar krisis air bersih bisa dihindari. Mulai dari pembangunan embung-embung di berbagai wilayah yang berguna menampung air, hingga menggalakkan program biopori di pemukiman padat penduduk yang berguna untuk menyerap air hujan.

Tak hanya itu, Pemprov DKI juga telah memperbanyak ruang terbuka hijau sebagai kawasan serapan air hujan. Selain itu, regulasi tentang pemanfaatan air tanah juga tengah dilakukan. Terutama kepada pengelola gedung-gedung tinggi di ibu kota.

Ancaman Penyakit

Seperti kita ketahui, krisis air bersih bukanlah perkara sepele. Bahkan untuk menentukan standar kelayakannya saja, pemerintah mengeluarkan peraturan yang tertuang melalui Permenkes Nomor 492 tahun 2010.

Disebutkan, standarisasi air minum yang layak konsumsi memiliki beberapa aspek yakni tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak beracun atau secara mikrobiologi tidak mengandung radio aktif.

Wajar peraturan itu dibuat mengingat dampak akibat mengkonsumsi air yang tidak layak bisa mengancam kesehatan.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Indonesia, dr. Imran Agus Nur Ali, Sp.Ko menjelaskan, banyak penyakit yang bisa timbul ketika seseorang mengonsumsi air dengan kualitas buruk atau yang tidak layak.

“Banyak penyakit yang ditimbulkan karena mengonsumsi air yang tak layak konsumsi. Seperti diare, Cacingan, tifoid ataupun hepatitis A,” kata dr. Imran ketika dihubungi Trubus.id, Rabu (21/2).

Untuk itu, dibutuhkan pola hidup yang baik agar terhindar dari bahaya akibat konsumsi air bersih ini. Salah satu caranya dengan memperbaiki pola sanitasi dan kebersihan diri, tidak sembarangan mengambil air dari sumber mata air yang kotor, serta mendatangi puskesmas apabila timbul gejala penyakit.

Peran Serta Masyarakat

Permasalah air bersih memang tidak bisa sepenuhnya dibebankan pada pemerintah. Sudah menjadi kewajiban masyarakat juga untuk mulai bijaksana menggunakan air dalam kehidupannya.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencegah krisis air semakin cepat terjadi. Dengan menghemat pengunaan air dalam kehidupan sehari-hari contohnya.

Selain penghematan, banyak cara lain yang bisa dilakukan seperti membangun tempat penampungan air yang bersih dan bebas pencemaran, mengurangi pencemaran air terutama dari limbah rumah tangga hingga menanam pohon yang berfungsi menyaring air tanah.

Jadi mulai sekarang, hargai air bersih yah! [RN]

  0


Anda belum login, masuk atau mendaftar disini


Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: