Imbas Pengalihan Cantrang, Pabrik Surimi Harus Diversifikasi Bahan Baku

TrubusNews
Binsar Marulitua
22 Jan 2018   12:30 WIB

Komentar
Imbas Pengalihan Cantrang, Pabrik Surimi Harus Diversifikasi Bahan Baku

Nelayan berhasil menangkap ikan di lautan. (Foto : Foto: Dok. Ben Chrisman)

Trubus.id -- Pemerintah telah memberikan perpanjangan izin untuk kapal cantrang di Pantura selama proses pengalihan alat penangkap ikan. Meski demikian, pabrik pasta ikan (surimi) di jalur Pantura Jawa Tengah harus mencari diversifikasi bahan baku untuk kepastian dan keberlangsungan usahanya.

"Hampir semua pemilik pabrik surimi hampir bangkrut, hanya bisa mengandalkan stok sisa bahan baku. Itu karena selama ini, mereka mengandalkan para nelayan cantrang saat mencari pasokan bahan baku di lautan lepas," ucap Gatot R Perdana, Kepala Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Jawa Tengah, Minggu (21/1).

Baca Lainnya: Penyumbang Ekspor, Kenaikan Volume Produksi Ikan Kerapu 404 Persen

Maka, perlu dilakukan perluasan ruang lingkup produksi karena kualitas surimi terbaik di dunia berasal dari Indonesia. Jauh diatas Vietnam Kamboja maupun Thailand. Selama ini, ada tujuh pabrik yang hampir gulung tikar akibat hanya bergantung pada nelayan cantrang yang mencari pasokan bahan baku di lautan lepas.

Gatot mengatakan jika belum lama ini, pihaknya menawarkan beberapa alternatif bahan baku. Mulai dari rajungan, ikan tenggiri, cumi dan udang. Hasilnya, para pemilik industri tertarik beralih ke bahan baku tersebut untuk memacu kinerja ekspornya.

"Totalnya di sini ada 48 pabrik pengolahan ikan, tujuh di antaranya memproduksi pasta ikan untuk diekspor ke negara-negara Asia Pasifik seperti Tiongkok, Thailand dan Taiwan," lanjutnya.

Baca Lainnya: Tidak Sekadar Tenggelamkan Kapal, KKP Sumbang 6,75 Persen PDB Nasional

Pada tahun 2017, ekspor surimi mencapai 2.708 ton atau setara Rp 221 miliar. Sedangkan penyumbang ekspor produk perikanan di Jawa Tengah lainnya yaitu rajungan, dengan total mencapai 3.228 ton atau setara Rp 1,2 triliun. Sementara itu, ekspor udang mencapai 3.320 ton atau Rp 515 miliar. [DF]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan: