Pakar Gizi IPB: Gizi menjadi Poin Penting Perbaikan SDM

TrubusNews
Astri Sofyanti
14 Jan 2021   09:16 WIB

Komentar
Pakar Gizi IPB: Gizi menjadi Poin Penting Perbaikan SDM

Ilustrasi - Makanan 4 sehat 5 sempurna. (Foto : Unsplash.com)

Trubus.id -- Pakar Gizi Masyarakat IPB University, Prof Ali Khomsan mengatakan, bonus demografi membuat Indonesia memiliki angkatan kerja yang banyak, puncaknya pada tahun 2030 mendatang. Masalahnya, sumber daya manusia (SDM) di Indonesia berkualitas rendah karena 54 persen dari penduduk usia produktif 18 sampai 65 tahun ialah mantan stunting.

“Stunting hanyalah satu di antara tiga problem gizi yang dialami bangsa kita. Dua masalah lainnya ialah semakin merebaknya penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung. Ini akibat gizi lebih dan kekurangan gizi mikro seperti besi dan seng. Ketiganya disebut triple burden of malnutrition,” terang Prof Ali dalam keterangan tertulis yang diterima Redaksi Trubus.id, Rabu (13/1/2021).

Ia menerangkan, moto empat sehat lima sempurna telah digagas oleh Prof Poerwo Soedarmo sejak 1950-an. Pada 1995-1996, diluncurkan Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) oleh Kementerian Kesehatan yang kemudian berevolusi menjadi Pedoman Gizi Seimbang (PGS) pada 2014.

Namun, sampai saat ini, banyak orang masih bingung apabila ditanya konsep gizi seimbang. Kenyataannya, empat sehat lima sempurna lebih mudah dihapal dan dimengerti masyarakat. Ditambah lagi, ternyata Kementerian Pertanian juga memasyarakatkan slogan B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman).

“Keluarga yang sehari-harinya dapat mengonsumsi empat sehat lima sempurna mungkin hanya mereka yang berasal dari kelas ekonomi menengah ke atas. Sementara itu, ada 25 juta lebih rakyat miskin di Indonesia yang tidak tahu besok mau makan apa.  Oleh karena itu pilar gizi pola konsumsi pangan yang baik harus dilandasi pilar gizi,” jelasnya.

Terkait pilar gizi, Prof Ali menjelaskan, pilar pertama ialah keberagaman konsumsi. Pangan yang beranekaragam sangat penting karena tidak ada satu jenis pangan pun yang dapat menyediakan gizi bagi seseorang secara lengkap. Dengan konsumsi pangan beranekaragam, kekurangan zat gizi dari satu jenis pangan akan dilengkapi gizi dari pangan lainnya.

Pilar kedua ialah keamanan pangan. Masyarakat pada umumnya belum memedulikan atau belum mempunyai kesadaran tentang keamanan pangan (dalam arti luas) sehingga belum banyak menuntut produsen (khususnya home-industry) untuk menghasilkan produk pangan yang aman dan bermutu.

“Masyarakat dari golongan sosial ekonomi rendah merasa puas jika dapat membeli produk pangan dengan harga murah, meskipun produk tersebut bermutu rendah dan tidak terjamin keamanannya. Praktik penggunaan formalin, boraks, dan pewarna berbahaya dalam produk pangan, selama ini tidak cukup serius ditangani pemerintah,” terangnya.

Selama bertahun-tahun, lanjut Prof Ali, mungkin kita banyak yang telah terpapar zat berbahaya tersebut tanpa berbuat apa-apa. Pengembangan perilaku konsumsi makanan yang aman memerlukan waktu relatif lama.

Prof Ali juga menyinggung gaya hidup saat ini. Ia mengatakan, saat ini kita memasuki era sedentary lifestyles atau gaya hidup yang ringan-ringan saja. Hal ini mendatangkan risiko meningkatnya kasus obesitas. Apalagi, saat ini di tengah pandemi Covid-19, banyak kegiatan yang terpaksa dilakukan di rumah (work from home), termasuk di bidang pendidikan.

“Obesitas adalah faktor risiko berbagai penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung koroner, hipertensi, asam urat, kanker, dan lainnya. Penyakit-penyakit ini tidak menular, tetapi tertularkan kepada orang lain melalui perubahan pola makan atau gaya hidup,” tambah Prof Ali.

Prof Ali pun menyarankan supaya mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang. “Moderate is the best adalah kiat sehat dalam mengonsumsi makanan agar kita terhindar dari kekurangan atau kelebihan gizi. Kualitas sumber daya manusia dipengaruhi banyak hal.  Gizi menjadi entry point penting untuk perbaikan sumber daya manusia karena gizi erat kaitannya dengan kesehatan,” tambahnya.

Sementara, prasyarat untuk mendapatkan asupan gizi yang baik ialah ketersediaan pangan dan akses (pendapatan) untuk mendapatkan pangan. Di tengah situasi pandemi Covid-19, akses pangan terganggu karena banyak pemutusan hubungan kerja (PHK) dan belum pulihnya pertumbuhan ekonomi. Itulah sebabnya human development index bisa rontok akibat pandemi berkepanjangan yang hingga kini masih mengancam bangsa-bangsa di dunia.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Kementan Ungkap Alasan Harga Pupuk Bersubsidi Naik

Peristiwa   20 Jan 2021 - 09:13 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          

Masalah Subsidi Pupuk, Begini Solusi Pakar IPB

Peristiwa   19 Jan 2021 - 08:37 WIB
Bagikan: