IPB University Soroti Gejolak Harga Kedelai yang Meresahkan UMKM

TrubusNews
Astri Sofyanti
09 Jan 2021   07:15 WIB

Komentar
IPB University Soroti Gejolak Harga Kedelai yang Meresahkan UMKM

Ilustrasi - Kedelai. (Foto : pixabay.com)

Trubus.id -- Dosen IPB University dari Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan (ESL), Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM), Ujang Sehabudin turut berkomentar terkait gejolak kenaikan kedelai di pasaran yang meresahkan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) produsen tahu dan tempe.

Ujang mengatakan dari sisi produksi kedelai dunia, sebenarnya tidak terjadi gejolak produksi, namun dari sisi permintaan terjadi peningkatan permintaan (shock) yang cukup besar, khususnya dari Negara China sebagai negara importir terbesar kedelai karena dampak pulihnya China dari pandemi Covid-19. Dengan kondisi tersebut, ditambah dengan rendahnya produktivitas kedelai nasional, menyebabkan Indonesia sangat tergantung kepada impor karena produksi domestik tidak mampu memenuhi permintaan domestik.  Secara teori, jika terjadi ekses demand, maka harga akan meningkat, apalagi jika ekses tersebut tidak mampu dipenuhi dari impor.

“Meningkatnya harga kedelai tersebut tentunya memukul industri tempe-tahu yang umumnya adalah UMKM sebagai pengguna utama kedelai, yang berdampak terhadap meningkatnya biaya produksi. Untuk menutupi meningkatnya biaya produksi tersebut, tentunya harga jual produk (tempe-tahu) harus ditingkatkan. Namun tidak segampang itu meningkatkan harga tersebut, karena terkait dengan daya beli masyarakat apalagi di masa pandemi Covid-19 ini dimana ekonomi masyarakat mengalami penurunan yang hebat. Padahal selama ini tempe tahu identik dengan makanan/pangan murah. Sehingga, jika harga ditingkatkan akan kontra produktif dan terbukti UMKM produsen tempe tahu lebih baik menyetop produksi untuk sementara sambil menunggu kondisi harga kedelai kembali turun,” jelasnya dalam keterangan resminya yang diterima Redaksi Trubus.id.

Untuk itu, upaya yang bisa dilakukan untuk mengatasi gejolak (meningkatnya) harga kedelai tersebut dapat dilakukan dari dua sisi, sisi supply dan sisi demand, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Dalam jangka pendek, perlu adanya subsidi (pemerintah) terhadap importir kedelai misalnya subsidi biaya transportasi impor, sehingga harga kedelai di pasar domestik bisa turun. Namun apakah pemerintah memiliki cukup anggaran, dan apakah hal tersebut lebih prioritas dibanding subsidi lainnya, apalagi di masa pandemi Covid-19 ini.

Dalam jangka panjang, perlu mendorong produksi nasional melalui program intensifikasi (peningkatan produktivitas). Misalnya penggunaan varietas unggul, teknologi budidaya dan ektensifikasi (perluasan /pembukaan areal baru). Namun upaya ekstensifikasi ini harus diarahkan pada lahan-lahan terlantar yang belum termanfaatkan bukan lahan yang produktif seperti lahan sawah.

Kebijakan lainnya adalah memberikan subsidi harga (jual) kedelai kepada petani yang memproduksi kedelai. Hal ini disebabkan karena harga kedelai lokal lebih mahal dibandingkan kedelai impor, sehingga kedelai lokal sulit bersaing dengan kedelai impor.  

“Beberapa tahun lalu IPB University dan Kementerian Pertanian pernah mengembangkan program Budidaya Jenuh Air (BJA) untuk komoditas kedelai di areal pasang surut di beberapa provinsi. Dari sisi produksi, cukup berhasil bahkan di Provinsi Jambi mencapai produksitivitas terbaik sekitar 4 ton/hektar (produktivitas nasional berkisar 1-1,5 ton per hektare). Saat itu pemerintah menetapkan harga referensi kedelai lokal Rp7.700 per kg, namun kenyataannya harga di tingkat petani (tengkulak) hanya Rp6000-Rp6500 per kg, sehingga harga tersebut tidak menguntungkan bagi petani,” jelasnya.

Kebijakan selanjutnya adalah mencari dan mengembangkan alternatif komoditas substitusi kedelai, misalnya kacang koro. Ini perlu dilakukan agar selain mengurangi ketergantungan terhadap kedelai impor, juga mengembangkan komoditas khas lokal  yang tentunya lebih adaftif dan memiliki keunggulan komparaatif dibandingkan kedelai impor.

“Selain itu, agar gejolak kenaikan harga kedelai dapat teratasi, sementara ini kita bisa mengurangi konsumsi tahu-tempe dan menggantikannya dengan produk yang secara kandungan gizi setara,” pungkasnya.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: