Dr Mulyoto Pangestu Sebut Bioteknologi Embrio Persingkat Masa Transmisi Generasi

TrubusNews
Astri Sofyanti
21 Des 2020   16:17 WIB

Komentar
Dr Mulyoto Pangestu Sebut Bioteknologi Embrio Persingkat Masa Transmisi Generasi

Dr Mulyoto Pangestu, dosen dari Faculty of Medicine, Nursing and Health Sciences Monash University. (Foto : Dok. IPB)

Trubus.id -- Bioteknologi embrio dapat mempersingkat transmisi generasi ketika diaplikasikan untuk tujuan seleksi genetik, terutama pada sapi. Jika menggunakan reproduksi Bioteknologi Embrio biasa, satu generasi pada sapi dibutuhkan waktu hingga dua tahun untuk mencapai pubertas serta ditambah sembilan bulan untuk masa kebuntingan. Dengan teknik stem cell, induksi primordial germ cells, dan produksi embrio secara in vitro bisa mempersingkat masa transmisi menjadi dalam hitungan minggu.

Hal ini disampaikan Dr Mulyoto Pangestu, dosen dari Faculty of Medicine, Nursing and Health Sciences Monash University saat menjadi narasumber dalam Kuliah Tamu Luar Negeri yang mengangkat topik Embryo Biotechnology Update. Dalam kuliah tamu yang digelar Departemen Anatomi, Fisiologi dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB University ini, Mulyoto juga menyampaikan tentang manfaat bioteknologi embrio dan modifikasi genetik dalam bidang modifikasi produk, animal model untuk penyakit, uji obat, editing gen, dan produksi embrio secara generatif dan non-generatif.

Penerima Young Inventor Award kriopreservasi metode beku-kering spermatozoa ini juga menekankan pentingnya penentuan fase estrus pada hewan resipien jika ingin berhasil dalam mengaplikasikan bioteknologi embrio pada hewan terutama pada sapi.

Diakuinya, kriopreservasi ini penting dalam proses penyimpanan gamet dan embrio serta mengatasi kendala proses transportasi untuk tujuan konservasi. Terkait isu etika dalam penggunakan bioteknologi embrio, kita bisa melihat film-film seperti Twins, My Sister’s Keeper dan the Man Behind the Gun.

“Intinya, sebagaimana teknologi yang lain, bioteknologi embrio dapat digunakan untuk kebaikan atau sebaliknya untuk kejahatan. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya, bioteknologi embrio haruslah diawasi oleh suatu komite etik yang akan menjamin teknologi ini tidak disalahgunakan dan hanya digunakan untuk kemaslahatan masyarakat atau komunitas,” pungkas alumnus Universitas Diponegoro dan Monas University ini.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Kementan Ungkap Alasan Harga Pupuk Bersubsidi Naik

Peristiwa   20 Jan 2021 - 09:13 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          

Masalah Subsidi Pupuk, Begini Solusi Pakar IPB

Peristiwa   19 Jan 2021 - 08:37 WIB
Bagikan: