Peran LIPI dalam Pemanfaatan Biodiversitas untuk Masyarakat

TrubusNews
Astri Sofyanti
25 Nov 2020   15:27 WIB

Komentar
Peran LIPI dalam Pemanfaatan Biodiversitas untuk Masyarakat

LIPI gelar webinar program Week of Indonesia-Netherlands Education Programs 2020. (Foto : Dok. LIPI)

Trubus.id -- Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko menjelaskan penelitian yang telah dilakukan LIPI dalam meningkatkan pemanfaatan biodiversitas meliputi riset biodiversitas lokal dan non-biodiversitas.

“Membahas tentang biodiversitas tidak hanya tentang spesies flora dan fauna, namun banyak hal penting yang terhubung. Biodiversitas meliputi spesies, genetik dan ekosistem,” kata Handoko, saat membuka webinar program Week of Indonesia-Netherlands Education Programs 2020 (WINNER 2020) dengan tema “Biodiversity for Society dan Society for Diversity”, Selasa (24/11/20).

Diakui Handoko, jika dikaitkan dengan pemanfaatannya ada banyak hal yang telah diaplikasikan LIPI diantaranya genom, bioremediasi, bioprospekting, bioenergi, biocompound, biomaterial, dan lainnya yang telah menjadi fokus penelitian,” lanjut Handoko.

Hal ini meliputi upaya konservasi ex-situ melalui kebun raya, melakukan penyimpanan dan koleksi specimen atau data fisik, data digital, molekuler, pemanfaatan berbagai teknologi riset untuk meningkatkan nilai ekonomi sehingga membawa implikasi ekonomi dan wisata bagi masyarakat.

Selain itu, dirinya mengatakan, hal penting yang saat ini dilakukan LIPI adalah mengelola data secara layak melalui national repository scientific system dan tahun depan akan dimulai Eksporasi Widya Nusantara. Dalam setahun akan banyak ekspedisi yang dilakukan dengan menggunakan kapal riset sendiri untuk mengantisipasi Covid-19.

Sementara itu, Peneliti bidang Mikrobiologi LIPI, Atit Kanti sebagai salah satu keynote speaker webinar menjelaskan biodiversitas adalah ciri dan identitas bangsa yang melekat dalam budaya Indonesia.

“Pusat Penelitian Biologi LIPI dibangun sebagai pusat bioresources nasional untuk mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan dan pemicu pertumbuhan ekonomi,” ungkap Kepala Pusat Penelitian Biologi tersebut.

Dalam paparannya, Atit menekankan bahwa biodiversitas adalah sumber daya pembangunan nasional untuk mendukung kesehatan manusia melalui obat-obatan, vaksin dan lain-lain. Upaya konservasi sebagai kunci keberlanjutan dapat didukung melalui taksonomi.  Selain itu, biodiversitas menjadi sumber kebijakan ilmu pengetahuan. “Kebijakan itu berawal dari membangun pondasi pengetahuan melalui riset dan eksplorasi untuk pengkoleksian data dengan metode taksonomi guna melakukan klasifikasi, sehingga dapat memetakan biodiverstas yang dimiliki,” ujarnya.

“Melalui pemetaan tersebut kita dapat melakukan penilaian, menentukan status dan tren, melakukan pengawasan dan menentukan model, sehingga dapat merumuskan kebijakan dalam bentuk informasi, perencanaan, rekomendasi kebijakan, model dan tools,” ujarnya.

Herbarium Bogoriense, Museum Zoological Bogor (MZB), dan InaCC merupakan fasilitas yang telah disediakan LIPI untuk menyimpan berbagai koleksi riset hayati. Melalui dukungan 400 lebih peneliti, LIPI melakukan penelitian untuk penyiapan materi kebijakan, menyiapkan pedoman teknis penelitian, melakukan dokumentasi melalui sistem informasi data dan melakukan diseminasi hasil penelitian serta layanan ilmiah.

Atik Retnowati, Peneliti bidang Botani LIPI menjelaskan beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mempercepat proses deskripsi dan identifikasi spesies flora. Di antaranya dengan pelatihan taksonomi, penambahan dana dari pemerintah untuk melakukan riset lapangan untuk pengumpulan spesies yang belum teridentifikasi, melakukan kolaborasi internasional dengan para ahli taksonomi, join publikasi dan berbagi referensi koleksi juga mengoptimalkan nasional kolaborasi. Tak hanya itu, memperkuat integrasi antara taksonomi profesional dan taksonomi amatir perlu dilakukan.

“Taksonomi amatir biasanya memberikan kontribusi penting bagi ilmu taksonomi, karena mereka tidak menyadari kebaruan temuan yang mereka temukan. Hal ini dapat menghasilkan riset yang lebih baik,” ujar Atik.

Sedangkan peneliti Bidang Zoologi dari Puslit Biologi LIPI, Cahyo Rahmadi menekankan pentingnya peran MZB bagi masyarakat.  

“MZB adalah fasilitas terlengkap yang menyimpan hampir tiga juta spesies. Kami terus melakukan pengumpulan, penyimpanan dan pemeliharaan koleksi khususnya dari wilayah Asia, Wallacea, dan New Guinie. Koleksi ini tak hanya bermanfaat bagi Indonesia, tapi juga bagi masyarakat global. Ibaratnya kita memelihara warisan masyarakta global dan kita sebagai penjaga sejarah alam Indonesia,” paparnya.

“Koleksi yang dimiliki LIPI dapat menjadi media pembelajarn bagi seluruh masyarakat yang ingin mengetahui mamalia hingga serangga kecil. Terkait isu kepunahan, MZB menyediakan koleksi sebagai media komparasi dalam riset zoologi,” tutur Cahyo.

Dalam webinar ini, turut menghadirkan Peter Van Welzen (Senior Researcher dari Naturalis Biodiversity Center Netherlands) dan Willem Renema (Naturalis Biodiversity Researcher Group Leader dari Naturalis Biodiversity Center Netherlands) sebagai panelis.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Kementan Ungkap Alasan Harga Pupuk Bersubsidi Naik

Peristiwa   20 Jan 2021 - 09:13 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          

Masalah Subsidi Pupuk, Begini Solusi Pakar IPB

Peristiwa   19 Jan 2021 - 08:37 WIB
Bagikan: