Presiden AOI: Dengan PAMOR Indonesia, Petani Organik Bisa Lebih Sejahtera

TrubusNews
Syahroni
11 Nov 2020   19:51 WIB

Komentar
Presiden AOI: Dengan PAMOR Indonesia, Petani Organik Bisa Lebih Sejahtera

Emilia Setyowati, Presiden AOI masa jabatan 2020-2023. (Foto : Trubus Bina Swadaya)

Trubus.id -- Aliansi Organis Indonesia (AOI) kembali menggelar Rapat Umum Anggota (RUA) yang ke 7 kalinya, 2-3 November 2020 lalu. Tak seperti sebelumnya, rapat yang digelar setiap 3 tahun sekali ini dilakukan secara virtual melalui aplikasi zoom karena dampak pandemi covid-19 yang tengah melanda.

Dalam RUA kali ini, Sekretaris Eksekutif Yayasan Bina Swadaya, Emilia Setyowati terpilih menjadi Presiden AOI masa jabatan 2020-2023. Dalam tugasnya 3 tahun ke depan,ia akan didampingi 4 Dewan Perwakilan Anggota (DPA) lain yaitu Pius Mulyono (Jawa Tengah) , Elsje P. Mansula (Banten), Anas Nasrulloh (Kalimantan Barat), Bibong Widyarti (DKI Jakarta).

Sebagai presiden AOI yang baru, Emil, sapaan akrab Emilia menegaskan komitmennya untuk terus berupaya melakukan penguatan bagi gerakan pertanian organis dan perdagangan adil (fair trade). Untuk itu, ia sudah menyiapkan langkah-langkah strategis dalam penguatan kelembagaan masyarakat, baik kelompok tani, kelompok ibu-ibu maupun kelompok pemuda melalui pengorganisasian berbasis kegiatan yang mampu menjadi daya gerak masyarakat dalam aneka kegiatan yang bersifat konservasi lingkungan maupun penguatan ekonomi seperti dalam konsep Sosial Solidarity Ekonomi.

“Pertama AOI akan mengadvokasi kegiatan untuk memperjuangkan regulasi di sektor pertanian organis. Karena regulasi-regulasi-nya itu kan kadang kala sangat memberatkan petani. Terutama tentang sertifikasi. Sehingga kita mulai melakukan penjaminan grup atau kelompok itu melalui Penjaminan Mutu Organik (PAMOR) Indonesia,” jelas Emil kepada Trubus.id.

Ia menjelaskan, Pamor itu untuk penjaminan produk petani sendiri dengan basis komunitas atau kelompok. Jadi untuk petani-petani yang memang tidak melakukan transaksi di ritail modern, kemudian yang tidak melakukan ekspor, produk organik mereka sebenarnya sudah bisa dijamin dengan Pamor itu untuk memenuhi kebutuhan lingkungan di sekitarnya atau bahkan pasar dalam negeri.

“Kalau di pasar dalam negeri, produk organik (hasil pertanian maupun bibit) bisa mengadopsi sertifikasi peer to peer sertification ini. Harapannya sih Aliansi Organis Indonesia ini bisa berjalan beriringan dengan para stakeholder, program pemerintah, swasta, kemudian petani sendiri dan juga masyarakat. Bersama-sama kita bisa menjadikan (pertanian) organik itu sebagai bagian dari sistem pertanian yang berkelanjutan (Sustainable agriculture),” jelasnya lagi.

Selain itu, tantangan lain yang akan dia hadapi adalah merubah sifat produk pertanian organik dari ekslusif menjadi inklusif untuk meningkatkan permintaan. Ia menjelaskan, rantai pasok produk organik tak seperti produk anorganik. Ia menyebut, rantai pasok produk pertanian organik lebih pendek dari yang lain. Karena itu produk pertanian organik bersifat ekslusif sehingga harganya masih relative mahal.

Menurutnya, untuk mengembangkan pertanian organik di Indonesia, tantangannya kemudian adalah merubah produk organik ini dari yang eksklusif menjadi inklusif sehingga bisa diterima dan bisa dimanfaatkan oleh banyak orang sehingga berdampak pada kesejahteraan petani organik itu sendiri.

“Mahal kan (produk organik), jadi ekslusif kan. Organik itu identik dengan ekslusif karena punya high quality. Jadi sebenarnya yang diterima itu yang grade-grade A gitu. Nah bagaimana dengan grade B, grade C? Apakah bisa organik ini menjadi produk yang inklusif gitu? Itu tantangannya. Produk pertanian organik yang bisa dipakai oleh semua kalangan,” jelas Kak Emil.

Untuk itu ia berharap, AOI nantinya menjadi Top of Mind dari semua kegiatan pertanian organik untuk semua aktivitas dan yang terlibat di dalamnya. Apalagi AOI adalah satu-satunya organisasi yang memiliki SPOI (Statistik Pertanian Organik Indonesia).

“SPOI itu kan yang punya juga AOI. SPOI Itu menjadi rujukan bahkan oleh pemerintah maupun privat sector pelaku. Nah sebenarnya kan bargaining positionnya sudah jelas cukup tinggi,” urainya lagi.

Terakhir, Kak Emil berharap, secara global semua pihak bergerak bersama untuk meningkatkan pertanian organik di Indonesia agar para petani organic juga jadi lebih sejahtera dan lingkungan juga terjaga.

Sebelumnya patut diketahui, Pada RUA kali ini, AOI merevisi dan menetapkan AD/ART, memberikan laporan pertanggungjawaban DPA periode 2017-2020, serta mengesahkan garis besar haluan program (GBHP). Selain itu, pelaksanaan RUA juga menerima anggota baru AOI dan pemilihan Dewan Perwakilan Anggota (DPA).

Anggota baru yang diterima pada RUA 2020 berjumlah 22 anggota terdiri dari 12 private sektor, 6 LSM, tiga individu dan satu organisasi petani. Dengan pengesahan anggota baru, jumlah anggota AOI saat ini adalah 122 anggota antara lain NGO/LSM sebanyak 43, private sektor sebanyak 26, individu sebanyak 37 dan organisasi petani sebanyak 16. Dengan jumlah anggota AOI yang bertambah diharapkan gerakan pertanian organik di Indonesia makin kuat dan mencapai visi misi AOI. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Metode Rekristalisasi, Solusi Daur Ulang Sampah Medis

Peristiwa   15 Jan 2021 - 10:52 WIB
Bagikan:          
Bagikan: