Menko PMK: Ada 3 Kunci Utama Penguatan Ketahanan Pangan di Masa Pandemi Covid-19

TrubusNews
Astri Sofyanti
27 Okt 2020   10:43 WIB

Komentar
Menko PMK: Ada 3 Kunci Utama Penguatan Ketahanan Pangan di Masa Pandemi Covid-19

Ilustrasi - Hamparan sawah. (Foto : pexels/Artem Beliaikin)

Trubus.id -- Hingga kini, tanda-tanda berakhirnya pandemi Covid-19 masih belum terlihat. Dampak pandemi Covid-19 pun masih terasa pada berbagai aspek, termasuk aspek keluarga. Dengan berbagai penyesuaian yang dilakukan untuk memutus rantai penyebaran, pemerintah mendorong berlakunya kebijakan seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sehingga memaksa masyarakat untuk mengubah pola aktivitas dan gaya hidupnya.

Tentunya, penyesuaian tersebut juga dapat meningkatkan tekanan sosial dan emosional yang pastinya akan berdampak pada ketahanan dan kesejahteraan keluarga.

Oleh karena itu, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB University mengadakan The 3rd International Seminar on Family and Consumer Issues (ISFCI) yang bertema “Penguatan Ketahanan Keluarga Saat Covid-19” melalui platform Zoom Meeting dank Youtube Departemen IKK, Senin (26/10).

Prof Dr Arif Satria, Rektor IPB University mengatakan bahwa kegiatan tahunan tersebut diadakan dalam rangka berbagi pengalaman dan sebagai pembelajaran bersama untuk mencapai ketahanan nasional dengan unsur keluarga sebagai pondasi utamanya.

Lebih lanjut dikatakannya, di situasi sulit saat ini, berbagai unit fundamental dan vital masyarakat sangat terpengaruh sehingga membuat keluarga harus berhadapan dengan berbagai tantangan yang unik dan membawa perubahan yang signifikan pada hidup mereka. Perubahan tersebut dapat membawa pengaruh besar pada kesehatan mental dan fisik semua anggota keluarga. Sehingga perlu adanya ketahanan keluarga sebagai kunci untuk menjaga stabilitas dan fleksibilitas keluarga dalam menghadapi berbagai perubahan selama pandemi.

“Dalam kegiatan ini, akademisi maupun masyarakat dapat memperoleh pengetahuan mengenai ketahanan keluarga dan konsumen selama pandemi, dengan berkaca dari pengalaman-pengalaman negara tetangga yang telah berhasil dalam menghadapi isu tersebut,” kata Arif melalui keterangan tertulis yang diterima Trubus.id, Selasa (27/10/20).

Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Prof Dr Muhadjir Effendy juga menyampaikan bahwa dalam memutus rantai penyebaran Covid-19, proteksi diri adalah metode yang paling efektif. Caranya dengan menerapkan protokol kesehatan yang berlaku dan menjadikannya kebiasaan baru. Kebiasaan baru tersebut menurutnya juga mestinya diterapkan dalam keluarga, disamping dengan dukungan faktor proteksi berupa proses komunikasi yang aktif serta keseimbangan peran dan fungsi masing-masing anggota keluarga sehingga ketahanan keluarga dapat terjaga.

“Ada tiga kunci kemajuan utama dalam ketahanan keluarga yaitu sistem kepercayaan keluarga, pola organisasi, dan proses komunikasi,” ujarnya.

Dr Tin Herawati, Ketua Departemen IKK IPB University mengatakan, “Thailand dinilai oleh WHO telah sukses sebagai model dalam menghadapi pandemi Covid-19. Ada beberapa faktor pendukung keberhasilan tersebut, selain kebijakan dan kecepatan tanggap dari pemerintahnya. Faktor kultural yang melekat pada masyarakat di Thailand juga mengambil andil yang besar.”

Assit Prof Kaewta Nopmaneejumruslers dari Mahidol University mengatakan bahwa tradisi berbagi serta penciptaan atmosfer yang hangat antar sesama warga Thailand juga membantu untuk saling menguatkan dalam menghadapi situasi pandemi. Ia menyebutkan bahwa ada tiga hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan ketahanan dalam keluarga yaitu mengurangi sumber tekanan, mendukung hubungan yang responsif serta meningkatkan keterampilan hidup.

“Cara paling penting untuk membangun ketahanan keluarga adalah melalui hubungan yang responsif antara keluarga (baik anak dan orang tua) dan juga pengasuh harus memiliki keterampilan bagaimana memelihara ketahanan tersebut,” ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakannya, Jepang yang terkenal di dunia sebagai salah satu negara yang memiliki angka harapan hidup yang tinggi, yaitu rata-rata di atas 80 tahun. Mereka memiliki resep tersendiri untuk menjaga ketahanan keluarga, terutama bagi lansia.  Dr Asami Ota dari University of Niigata Prefecture mengatakan bahwa dalam situasi pandemi ini, masalah kerawanan pangan, gaya hidup yang buruk, serta perasaan terisolasi dari masyarakat merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi status sosisl ekonomi dari anak-anak dan lansia.

“Sehingga pembangunan hubungan sosial dalam bentuk komunitas merupakan salah satu metode yang dinilai sangat baik untuk mengurangi kelainan kognisi pada lansia hingga kerawanan pangan pada masyarakat dengan status ekonomi yang rendah,” jelasnya.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          

Metode Rekristalisasi, Solusi Daur Ulang Sampah Medis

Peristiwa   15 Jan 2021 - 10:52 WIB
Bagikan:          
Bagikan: