Pemulihan Ekonomi Nasional Imbas Covid-19 melalui Food Estate

TrubusNews
Astri Sofyanti
28 Sep 2020   11:29 WIB

Komentar
Pemulihan Ekonomi Nasional Imbas Covid-19 melalui Food Estate

Lahan food estate. (Foto : Dok. Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR)

Trubus.id -- Guna melakukan pemulihan ekonomi imbas dari pandemi Covid-19, Direktorat Jenderal (Ditjen) Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) menarget sejumlah program kerja pada 2021.

“Program tersebut bermuara pada peningkatan kualitas dan kuantitas produksi, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan petani guna akselerasi pemulihan ekonomi nasional (PEN) imbas dari pandemi Covid-19,” kata jelas Dirjen Hortikultura Kementan, Prihasto Setyanto, dalam keterangannya tertulisnya yang diterima, Senin (28/9/20).

Dirinya mengatakan, program tersebut sebagian besar merupakan lanjutan dari program yang sudah dikerjakan. Sebelumnya, Menteri Pertanain (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menuturkan, program kerja Kementan 2021 akan diperkuat demi percepatan pemulihan ekonomi nasional (PEN) dan pembangunan pertanian berkelanjutan.

Pengembangan 15 agroeduwisata berbasis hortikultura yang diperkuat dengan model pertanian korporasi menjadi salah satu kegiatan yang hendak dilakukan pada 2020. Kemudian, menggenjot budi daya ramah lingkungan melalui gerakan pengendalian massal (gerdal) karena tingginya permintaan produk tersebut di ‘Benua Biru’.

“Dalam rapat bersama Atase Pertanian (Atani) Indonesia di Roma, diketahui permintaan pasar produk-produk organik di Eropa cukup tinggi. Ini peluang yang harus kita ambil karena potensi Indonesia cukup besar. Jika itu tercapai, tentu kontribusi terhadap devisa negara meningkat,” tutur Anton, sapaan Prihasto.

Ditjen Hortikultura juga akan membentuk tim market intelligence untuk mengetahui persis apa yang dibutuhkan dunia. Sehingga, pengembangan lebih terencana dan terukur karena telah dilakukan pemetaan dan penyesuaian sebelumnya.

Untuk itu, Kementan akan mengajak petani mengurangi penggunaan pestisida kimia lantaran cara tersebut berdampak buruk terhadap produk yang dihasilkan, ekosistem, dan pendapatan petani. Sosialisasi dan edukasi bakal diperkuat dengan optimalisasi peran petugas pengendali organisme pengganggu tanaman (POPT).

Selanjutnya, melakukan pembinaan secara berkesinambungan dan akan menghidupkan kembali Kelompok Kerja (Pokja) Lalat Buah mengingat hama tersebut paling ditakuti di dunia lantaran sukar diberantas dan spektrumnya luas.

“Kami juga akan memberikan berbagai insentif dan memfasilitasi sertifikasi organik sebagai jaminan mutu produk,” katanya.

Ada sekitar 200 kelompok, baik penghasil produk segar maupun olahan, yang akan mendapatkan registrasi pada 2021. Salah satunya pembudidaya florikultura dracaena mengingat peluang ekspornya besar dan atsiri karena prospektif.

Program lainnya, edukasi pertanian modern sarat teknologi dan menyalurkan sarana produksi pascapanen. Sehingga, mutu produk terjaga dan menarik minat konsumen.

“Ketika produk kita berkualitas dan dipasarkan dengan kemasan yang baik dan bagus tentu harga yang diterima lebih baik. Konsumen juga akan setia memakai produk yang dihasilkan,” tambahnya.

Lebih lanjut diakui Anton, bebijakan peningkatan mutu, kualitas, produksi, hingga olahan, termasuk di dalamnya daya saing produk, kami arahkan sesuai GAP (Good Agricultural Practices) dan GHP Good Handling Practices) karena diamanatkan pada PP Nomor 86/2019 tentang Keamanan Pangan dan sesuai tuntutan pasar global.

Terkait kelestarian lingkungan, khususnya pengendalian polusi karbon, Anton mengungkapkan, Ditjen Hortikultura bakal mengintensifkan budi daya buah-buahan yang berkontribusi besar. Mangga, durian, manggis, kelengkeng, dan jeruk, misalnya.

“Kita tidak semata-mata mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga lingkungan dengan meningkatkan stok karbon untuk menangkal polusi yang diakibatkan dari berbagai aspek serta meminimalisasi perubahan iklim demi masa depan,” ucapnya lagi.

Pada Program Kerja Tahun 2021 ini juga dilanjutkan pembangunan lumbung pangan (food estate) hortikultura berbasis korporasi di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbas), Sumatera Utara (Sumut). Ini merupakan program jangka menengah yang dikembangkan sejak 2020.

“Food estate Humbahas menjadi proyek prestisius karena kami melibatkan seluruh stakeholder, dari petani, pemerintah, akademisi, hingga swasta untuk membangun kawasan pertanian skala besar. Sehingga, efek dominonya betul-betul dirasakan, seperti ada potensi lapangan pekerjaan untuk 11.440 kepala keluarga (KK) pada tahun pertama,” pungkasnya.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Tiga Cagar Biosfer Indonesia Diakui UNESCO

Peristiwa   31 Okt 2020 - 14:05 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          

Presiden Jokowi Ajak Pemuda Tekuni Pertanian

Peristiwa   31 Okt 2020 - 11:55 WIB
Bagikan: