Lindungi Serangan Hama dan Penyakit Hingga Jaga Kualitas, Kakao Pun Mengenakan Masker

TrubusNews
Astri Sofyanti
24 Sep 2020   09:29 WIB

Komentar
Lindungi Serangan Hama dan Penyakit Hingga Jaga Kualitas, Kakao Pun Mengenakan Masker

Regu Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (RPO) Gotong Royong asal Provinsi Gorontalo melindungi tanaman kakao dari serangan hama dan penyakit. (Foto : Dok. Kementerian Pertanian)

Trubus.id -- Sama halnya seperti manusia, untuk menjaga kesehatan, tanaman kakau ternyata juga memerlukan masker. Mungkin terdengar unik dan aneh, tapi inilah yang dilakukan Regu Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (RPO) Gotong Royong asal Provinsi Gorontalo. Tujuan penggunaan masker pada tanaman kakao adalah untuk melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit.

“Masker untuk tanaman penghasil bahan baku cokelat ini, merupakan sarung yang digunakan untuk membungkus buah kakao agar terlindung dari hama penggerek buah kakao,” kata penggerak RPO Gotong Royong, Slamet dalam keterangan tertulisnya.

Diakui Slamet, upaya pemasangan sarung pada buah kakao tersebut tetap dilakukan meski saat ini terjadi pandemi Covid-19. Upaya perlindungan tanaman kakao ini dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan.

“Di tengah pandemi ini, kami tetap gerak. Lha wong bukan hanya kita yang mau sehat tho, kakao ne juga kudu sehat, jadi OPT ne harus dibasmi, kalo dibiarin aja kakaonya mati kita malah jadi pusing malah jadi ga sehat kabeh,” ujarnya.

Sementara itu Tim Pendamping Petani Kakao, Gusti mengatakan OPT yang banyak menyerang kakao di lahan sekitar yaitu hama Penggerek Buah Kakao (PBK). Oleh karena itu, pihaknya menerapkan pemasangan sarung pada buah kakao.  

“Jika tidak dikendalikan, larva PBK mampu menyebabkan biji buah kakao saling lengket sehingga menyebabkan kualitas dan kuantitas produksi buah menurun hingga 70 persen. Kita lakukan sarungisasi biar ulatnya ga bisa masuk ke buah, kita aja disuruh pake masker, kakaonya jadi nya dimaskerin juga,” tutur Gusti.

Metode sarungisasi ini dilakukan saat buah masih sangat muda, pentil berukuran kurang lebih 8 cm. Dengan berbekal peralatan sederhana yang terdiri dari karet gelang, pipa paralon, dan plastik, metode sarungisasi ini dapat mencegah imago PBK meletakkan telur pada kulit buah kakao sehingga larva tidak akan menggerek ke dalam buah. Kedua ujung plastik dilubangi agar udara dapat bertukar dan tidak lembap.

Menurutnya, metode tersebut merupakan salah satu komponen Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang cenderung ramah lingkungan karena tidak menimbulkan residu kimiawi, resurgensi dan resistensi hama, serta sangat mudah dilakukan. Pemakaian plastik dapat berulang pada musim buah selanjutnya.

Dengan pemasangan sarung pada buah kakao, Slamet menyebutkan dari 1 hektar lahan bisa dihasilkan lebih dari 1 ton kakao. Harganya juga cukup baik, Rp38.000 untuk kakao fermentasi dan Rp20.000 untuk yang non fermentasi.

Dirinya berharap kerjasama dengan pihak pemerintah ini terus berjalan dan ditingkatkan dalam membangun kemandirian petani. Dengan semangat gotong royong, pengendalian kesehatan kakao dan menjaga kesehatan diri bisa dilakukan secara bersamaan.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: