Hentikan Penyebaran Covid-19 dengan Peningkatan Kualitas Udara di Lingkungan Kerja

TrubusNews
Astri Sofyanti
23 Sep 2020   11:15 WIB

Komentar
Hentikan Penyebaran Covid-19 dengan Peningkatan Kualitas Udara di Lingkungan Kerja

Ilustrasi - Stop Covid-19. (Foto : pixabay.com)

Trubus.id -- Kasus Covid-19 yang terjadi di sejumlah kota besar di Indonesia seperti Jakarta, makin meningkat seiring munculnya klaster-klaster baru di lingkungan kerja. Virus Sars-CoV-2 yang berukuran 0,1 mikron, selain mampu berada di permukaan benda, juga mampu untuk bertahan dan menyebar di udara. Untuk itu, diperlukan upaya strategis untuk menghentikan penyebaran Covid-19 dengan strategi peningkatan kualitas udara lingkungan kerja.

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko menyatakan bahwa LIPI sangat peduli terhadap peningkatan kualitas udara di lingkungan kerja agar pekerja dapat bekerja secara aman.

“LIPI berkerja keras dalam penanganan pencegahan Covid-19 dan berupaya mewujudkan terciptanya lingkungan kerja yang aman dari penyebaran Covid-19,” kata Handoko melalui siaran persnya, Rabu (23/9/20).

“Salah satu upaya tersebut, LIPI bersama Dewan Riset Daerah Jakarta serta mitra terkait, turut berupaya dalam bidang riset ilmu pengetahuan dan teknologi guna mendukung antisipasi Covid-19 di lingkungan kerja,” tambahnya.

Kepala Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI, Nurul Taufiqu Rochman menyebutkan, salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas lingkungan kerja adalah meningkatkan sirkulasi udara pada ruang kerja.

“Peningkatan sirkulasi udara di area ruang kerja dapat dilakukan dengan cara mengoptimalkan ventilasi udara dan sinar matahari masuk ruangan kerja, serta pembersihan filter AC,” jelasnya.

Namun menurut Nurul, upaya itu dirasa masih belum cukup, perlu ditambahkan edukasi bagi pekerja untuk meningkatkan kesadaran SDM akan pentingnya kesehatan lingkungan kerja.

Ia menyebutkan, Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang disebabkan oleh virus Sars-CoV-2 pada kasus tertentu dapat menimbulkan penyakit berat pada manusia seperti pneumonia, gagal ginjal, hingga sindrom pernafasan akut yang menyebabkan kematian. “Hal itu bisa terjadi dari penularan droplet dan aerosol yang mengandung virus pada hidung atau mulut dari orang yang terjangkit melalui udara, saat ia batuk atau bersin,” terangnya.

Lebih lanjut Nurul menekankan, hasil dari droplet yang mengandung virus, mampu menempel pada permukaan benda dan bertahan selama 2 sampai 3 hari. “Selain itu, virus ini juga dapat berada pada udara (airborne),” tuturnya.

Ia menjelaskan, partikel aeorosol yang berukuran kurang dari 5 mikron mampu menyebar di udara dalam waktu 3 hingga 8 jam.

“Dengan demikian, orang yang rentan bila menghirup aerosol dapat terinfeksi jika aerosol itu mengandung virus dalam jumlah cukup. Faktor ini dapat diperparah oleh kualitas udara pada lingkungan tersebut,” ucapnya.

Sebelumnya, Satgas Penanganan Covid-19 menyebutkan penambahan kasus baru virus Corona banyak berasal dari lingkungan kerja. Masalah sirkulasi udara yang buruk, kurangnya menjaga jarak, dan tidak disiplin dalam penggunakan masker, diperkirakan menjadi penyebabnya.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Tiga Cagar Biosfer Indonesia Diakui UNESCO

Peristiwa   31 Okt 2020 - 14:05 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          

Presiden Jokowi Ajak Pemuda Tekuni Pertanian

Peristiwa   31 Okt 2020 - 11:55 WIB
Bagikan: