Kurangi Pemborosan Sumber Daya Alam dengan Sistem Pertanian Presisi

TrubusNews
Astri Sofyanti
18 Sep 2020   15:49 WIB

Komentar
Kurangi Pemborosan Sumber Daya Alam dengan Sistem Pertanian Presisi

Ilustrasi - Pemanfaatan terknologi di sektor pertanian. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Sistem pertanian presisi (precision agriculture) sedang menjadi lingkup kajian yang strategis. Pertanian presisi merupakan sistem pertanian yang di input menggunakan teknik dan teknologi yang tepat untuk mengurangi masalah pemborosan sumber daya.

Lantas apa itu pertanian presisi?

Pertanian presisi adalah metode pertanian yang menggunakan inovasi teknologi termasuk panduan GPS, drone, sensor, pengambilan sampel tanah dan mesin presisi untuk menanam tanaman lebih efisien.  Pada akhirnya, teknik pertanian presisi membantu petani membuat keputusan yang lebih akurat tentang tanaman berdasarkan sifat unik dan kondisi ladang sehingga mereka dapat melakukan hal yang benar, di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat.

Pertanian presisi juga meningkat dengan adanya ancaman krisis pangan dan kelaparan.  Sebagai bagian dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, penting untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi pertanian untuk produksi pangan berkelanjutan.

Konsep tersebut menitikberatkan sistem telemonitoring. Meski belum populer, Agustami mengatakan sistem telemonitoring dapat diaplikasikan pada alat dan mesin pertanian.

“Secara umum, telemonitoring berarti proses mendapatkan data di suatu tempat dengan menggunakan sensor, dan data tersebut dikirim melalui jaringan nirkabel (wireless) yang dapat berupa Bluetooth atau jaringan lainnya,” kata Peneliti Pusat Penelitian Teknologi Tepat Guna Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agustami Sitorus saat menghadiri acara Stadium General yang diadakan oleh Prodi Teknik Biosistem Institut Teknologi Sumatera (ITERA) belum lama ini, mengutip dari siaran pers LIPI, Jumat (18/9/20).

Dirinya menambahkan bahwa data dari lapangan kemudian dapat diakses dari manapun dan kapanpun menggunakan perangkat telekomunikasi.

Agustami menyebutkan, kekurangan dari telemonitoring ini adalah harus tersedianya cloud server. “Selain itu kita juga harus mempertimbangkan kemananan data yang harus dilengkapi,” ungkapnya.

Dirinya meyakini, di era pertanian presisi, ketepatan dalam pengaturan waktu tanam membutuhkan data yang tepat dan cepat. “Data ini yang akan diolah dan menghasilkan informasi untuk mengambil keputusan. Sehingga, penggunaan telemonitoring berbasis IoT ini menjadi sebuah kebutuhan,” tuturnya.

“Saat ini, riset dituntut harus real-time, sehingga penambangan data harus dilakukan untuk memperoleh informasi yang valid. Di era ‘tsunami data’ ini, memahami data akan menghasilkan keputusan yang lebih baik, terlebih jika data tersebut dapat diakses setiap waktu,” ujarnya menambahkan.

Ia menyebutkan, perangkat yang digunakan untuk melakukan sistem telemonitoring pada umumnya meliputi perangkat keras dan perangkat lunak yang terdiri dari sensor, box panel/terminal, jaringan internet, dan penyedia database.

Agustami mengatakan, beberapa contoh aplikasi telemonitoring berbasis IoT dapat diterapkan pada mesin pengering mekanis untuk misalnya, mengetahui kadar air tanpa harus menghentikan proses pengeringan, mengetahui suhu, Rh, tekanan udara, dan lain-lain.

“Telemonitoring juga dapat diterapkan dalam efektivitas pengairan sawah melalui sistem irigasi telemonitoring untuk mengukur level air,” tutupnya.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: