Pentingnya Implementasi Budaya K3 dalam Lingkungan Kerja TBS Grup

TrubusNews
Astri Sofyanti
17 Sep 2020   15:42 WIB

Komentar
Pentingnya Implementasi Budaya K3 dalam Lingkungan Kerja TBS Grup

Ilustrasi - Safety first. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- World Health Organization (WHO) telah menetapkan Coronavirus Disease (COVID-19) sebagai pandemi global setelah menjangkiti lebih dari 29.000.000 orang dan menyebabkan kematian lebih dari 900.000 orang di 114 negara hingga 16 September 2020.

SARS-CoV 2 atau coronavirus menjadi ancaman serius bagi negara-negara di dunia karena penyebarannya yang sangat cepat.

Hingga saat ini, belum ditemukan obat antivirus COVID-19. Sejumlah negara sejauh ini terus berupaya meneliti dan mengembangkan vaksin corona, tetapi masih dalam tahap pengujian dan butuh beberapa bulan untuk mengetahui efektivitasnya. Pandemi ini hanya bisa ditekan dengan memutus rantai penyebaran infeksi.

Sementara, jumlah kasus positif corona di Indonesia terus bertambah, dari 2 kasus yang diumumkan pertama kali pada 2 Maret lalu kini menjadi 228.993 kasus dan 9.100 kematian hingga 16 September 2020.

Pemerintah, pengusaha, hingga pekerja tengah menghadapi tantangan besar dalam upaya memerangi pandemi COVID-19, serta melindungi keselamatan dan kesehatan di lingkungan kerja. Pandemi COVID-19 turut menyoroti risiko keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang meningkat akibat penyebaran COVID-19.

Pandemi COVID-19 menjadi momentum seluruh pihak untuk lebih memahami pentingnya penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lingkungan kerja. Dalam upaya peningkatan K3 di lingkungan kerja, Trubus Bina Swadaya menggelar diskusi daring dengan topik “Strategi Menumbuhkan Kepedulian K3 di Lingkungan Kerja” yang diselenggarakan oleh Tim Pokja K3 TBS pada Selasa (15/9).

“K3 merupakan kunci penting, khususnya untuk memberikan perlindungan kepada karyawan di lingkungan kerja TBS, yang berangkat dari penanganan pandemi COVID-19 yang terjadi sejak Maret lalu,” kata Susapto, Advisor Pokja K3 TBS.

Sapto mengatakan, Trubus Bina Swadaya membentuk satuan tugas kelompok kerja K3 (Pokja K3) pada 9 Juli lalu, sebagai upaya penanganan penanggulangan COVD-19 di lingkungan kerja TBS.

Adapun tugas Pokja K3 TBS meliputi, menyusun SOP perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), mensosialisasi dan memantau PHBS, memastikan sarana pendukung keperluan PHBS, menyusun SOP K3 untuk TBS, memastikan adanya inovasi dan pengembangan upaya-upaya penciptaan dan keselamatan dan kesehatan kerja, serta perbaikan terus-menerus yang harus dilakukan oleh satuan tugas Pokja K3 terkait dengan SOP K3 dan menyusun anggaran.

“TBS membentuk Pokja K3 karena adanya kesadaran dan upaya untuk menciptakan keselamatan dan kesehatan di lingkungan kerja. Di sisi lain juga kami (warga TBS) membutuhkan pengetahuan dan wawasan untuk meningkatkan kinerja dan kapasitas Pokja K3,” ujar Sapto.

Sehingga menurutnya, penambahan wawasan terkait K3 sangat perlu diperoleh warga TBS. “Dengan penuh rasa kegembiraan, kami menyambut Pak Hendra dari Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, FKUI untuk memfasilitasi pengembangan wawasan terkait K3,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Hendra, S.KM., M.KKK., Dosen Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja FKUI, menjelaskan bahwa K3 dirumuskan oleh International Labour Organization (ILO) dan World Health Organization (WHO).

Berdasarkan definisinya menurut ILO dan WHO, ada lima poin penting dari K3. Pertama, K3 bertujuan meningkatkan dan memelihara derajat tertinggi, baik secara fisik, mental, maupun kesejahteraan sosial di semua jenis pekerjaan.

“Di dalam definisi K3 tidak dibeda-bedakan jenis pekerjaan seseorang, apa pun pekerjaannya, siapa pun orangnya harus dijamin kesehatannya baik, fisik, mental maupun sosialnya,” tegas Hendra.

Kedua, K3 bertujuan mencegah penurunan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan. Dalam artian, pekerja yang diperbolehkan bekerja adalah mereka yang sehat. Untuk menjaga agar pekerja selalu dalam keadaan selamat dan sehat, maka untuk menumbuhkan kepedulian, K3 perlu dilaksanakan.

Ketiga, melindungi pekerja dari risiko yang timbul dari faktor-faktor yang dapat mengganggu kesehatan setiap pekerjaan.

Keempat, menempatkan dan memelihara kondisi lingkungan kerja yang sesuai. Seseorang yang bekerja harus ditempatkan di tempat yang layak dan sesuai. Jika tempat kerjanya tidak sesuai, tidak memenuhi tujuan K3, baik dari sisi fisiologis maupun psikologisnya.

“Tempat kerja harus nyaman bagi pekerja dari aspek fisiologis, biologis maupun secara psikologis,” ujarnya.

Terakhir, menciptakan keserasian antara pekerjaan dan pekerja. Menurutnya, ini menunjukkan, seseorang tidak boleh diberikan pekerjaan yang melampaui kemampuan dan kompetensinya. Tujuan K3 pada akhirnya adalah pekerja harus tetap sehat, selamat, bugar dan bisa bekerja dengan optimal sehingga produktivitas pekerjaan yang ditargetkan oleh perusahaan bisa tercapai dengan maksimal.

“K3 memiliki dua komponen penting, yakni keselamatan dan kesehatan pada pekerjaan. K3 adalah upaya-upaya untuk menciptakan pekerjaan menjadi sehat dan selamat. K3 tidak hanya sebatas spanduk ataupun SOP yang ada di kertas tapi tidak diimplementasikan dengan baik, pelaksanaan K3 belum optimal,” tutup Hendra.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: