Misi Trubus Bina Swadaya dalam SEAL Asia 2020

TrubusNews
Binsar Marulitua
16 Sep 2020   10:00 WIB

Komentar
Misi Trubus Bina Swadaya dalam SEAL Asia 2020

Iustrasi ISEA (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Insititute Solidarity Economy of Asean (ISEA) menginisiasi untuk ketiga kalinya penyelenggaran konferensi Social Enterprise Advocacy and Leveraging Conference in Asia (SEAL Asia) di Bangkok, Thailand pada 16-17 September 2020. Konferensi yang dilaksanakan secara daring ini menjadi  pertemuan lembaga sosial, pengusaha sumber daya alam, intrapreneur sosial, dunia usaha dan akademisi dari sekitar 10 negara Asia.

Konferensi  SEAL Asia 2020 yang dilaksanakan bersama Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik (UNESCAP) akan meluncurkan platform “We Live Food”. Platform ini nantinya bertumpu pada pemberdayaan perempuan, penghidupan dan pangan dalam rantai nilai pertanian  dan berkomitmen untuk menempatkan perempuan dan laki-laki petani, nelayan dan produsen skala kecil sebagai pusat inisiatif menuju ketahanan pangan dan pembangunan pertanian yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Selain itu, Platform ini juga mendorong komitmen dalam mengejar platform menuju Kesehatan untuk Semua; Pekerjaan Layak untuk Semua dalam Rantai Nilai Berkelanjutan; Revitalisasi Pedesaan, Kewirausahaan Pemuda dan Sosial serta Inovasi Teknologi menuju Pembangunan Berkelanjutan.

Presiden sekaligus pendiri ISEA, Marie Lisa Dacanay mengatakan, dasar dalam  membuat platform “We Live Food”  mengacu pada proyek pengembangan pertanian  pada tahap pertama sepanjang 2015-2017 yang dilaksanakan di Filipina, Indonesia, Vietnam, Thailand.

  • Presiden sekaligus pendiri ISEA, Marie Lisa Dacanay memberikan pemaparan dalam konfersi pers penyelenggaran konferensi Social Enterprise Advocacy and Leveraging Conference in Asia (SEAL Asia)  Selasa (15/9/2020). Konferensi SEAL Asia menjadi  pertemuan lembaga sosial, pengusaha sumber daya alam, intrapreneur sosial, dunia usaha dan akademisi dari sekitar 10 negara Asia di Bangkok, Thailand pada 16-17 , Selasa (15/9/2020)

 

Karena tingginya minat  peran serta wanita pada tahap pertama, SEAL 2020 melajutkan pengambangan tahap kedua sejak 2018 yang fokus pada 8 elemen peningkatan kualitas nilai pasokan pertanian. 

Delapan elemen yang diteliti untuk memperbaiki peneilitain sebelumnya adalah, teknologi yang tepat dan inovasi yang berorientasi pada masyarakat, substansi yang akan dibagikan, keamanan dan ketahaan pangan, pemberdayaan dan produsen kecil, produksi dan konsumsi berkelanjutan.

Selain itu  platform tersebut juga menyajikan partisipasi wanita dan bagaiamana memproyeksikan pendapatan.

 Implikasi platform ini  adalah penyesuaian kebijakan kualitas pasokan pertanian.  

“Wanita menjadi peran utama dalam peningkatan kualitas pasokan pertanian. Saya berharap pertemua ini menghasilkan peran besar dalam Platform yang akan diluncurkan besok ” Jelas Marie Lisa Danacay, dalam konfrensi pers secara daring, Selasa (15/9/2020).

Sekretaris Eksekutif Yayasan Bina Swadaya, Emilia Prasetyo juga turut memberikan pandangan terkait  peran Bina Swadaya pada konferensi SEAL 2020 ini.  Ia menjelaskan pendemi Covid-19 telah menyebabkan buruknya perekonomian sehingga menyebabkan krisis pangan.

Dukungan yang diberikan Bina Swadaya untuk membantu krisis pangan ini adalah melatih karyawan yang mengalami pemutusan hubungan kerja akibat terdampak  covid-19, menjadi petani dalam skala kecil dan menengah.

“Permasalahan yang ditemui dalam masa Covid-19 logistik menjadi hambatan dalam suplai hasil pertanian,” ungkap Emil.

 

Emil menjelaskan, selama ini  Bina Swadaya juga turut berpartisipasi dalam  mendorong para petani mendapatkan keringan modal, memberikan modal untuk produsen penghasil benih. Dukungan lain yang diberikan Bina Swadaya adalah pendampingan teknis untuk membuat kompos yang berdampak pada peningkatan prouksi kompos.

Selanjutnya pendampingan teknis untuk mendapatkan legalitas produk.

Tidak hanya itu, Bina Swadaya juga turut berperan dalam pelatihan daring khusunya untuk kepada melakukan pertanian di kota dan mengadakan pertanian.

Hingga kini, pernerima manfatt dari pelatihan tersebut berjumlah, 3862 orang yang terdiri dari 60 grup. Pelatihan daring sebanyak 3253 orang. Pinjaman Modal 6038 Orang.

"Peserta latihan yang terdampak covid-19 adalah 1875 orang,”tambahnya.

Untuk skala industri, lanjut Emil, Bina Swadaya juga mendorong peningkatan teknik produksi berskala teknologi informasi, diversivikasi produk seperti produk tumbuhan obat. Langkah lainnya adalah pemanfaatan orang-orang yang terdampak pemutusan hubungan kerja  kembali ke desa sebagai tenaga kerja.

Dalam hal  sektor pemrosesan dan distribusi adalah pengembangan produk makanan olahan beku, produk inovasi gula kelapa, garansi produk keamanan pangan. Di sektor pemasaran beralih pada pemsaran secara on line dari yang tradisional ke on line. Dan melatih kretivitas dalam berpromosi dan menjual langsung. 

“Di tingkat konsumen mudah untuk membeli on line karena tersedia online. Kemudahan mendapatkan produk organik,”tuturnya.

Emil juga memaparkan, melalui SEAL 2020 ini,  Bina Swadaya mendorong pencapian untuk memperkuat sector produksi pangan untuk lembaga pertanian dengan memperkuat produksi utama pangan ke petani kecil. Memberdayakan wanita dan pria memproduksi pangan dalam skala kecil

Selain itu, memperkenalkan wanita sebagai peran utama dalam mengambil kebijakan dalam rantai pertanian.

“Karena wanita memainkan peranan penting dalam menentukan kebijakan dan intervensi  untuk membuat peluang pada pasar baru,” pungkasnya.

Selain Presiden sekaligus pendiri ISEA, Marie Lisa Dacanay dan Sekretaris Eksekutif Yayasan Bina Swadaya, Emilia Prasetyo, turut memberikan pemaparan dalam konfrensi pers yang  dipandu moderator Ping Manonongdo adalah  CEO Bote Central dan penggerak utama Aliansi Kopi Filipina, Reyes dan  Direktur Eksekutif dan Pendiri Bersama Earth Net Foundation / Green Net Cooperative, Vitoon Panyakul. 

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: