Sekolah Rimba: Sekolah Merdeka? 

TrubusNews
Binsar Marulitua
27 Agu 2020   00:29 WIB

Komentar
Sekolah Rimba: Sekolah Merdeka? 

Perintis dan pelaku pendidikan alternatif 'Sokola Rimba', Butet Manurung saat mengajarkan Orang Rimba dari Suku Anak Dalam membaca dan menulis. (Foto : Aulia Erlangga)

Trubus.id -- Apa yang Orang Rimba ceritakan tentang hidup Indonesia pagi hari ketika usianya beranjak 75 tahun?  

Mijak Tumpang, Orang Rimba dari Bukit 12 di Jambi tidak tahu kapan tepatnya terlahir sebagai orang Indonesia. Pohon 'sentubuh' yang ditanam bersama tali air-ari  sebagai penanda umur telah hilang ditebang perambah hutan.

Tetapi dirinya bercerita, bisa berbesar hati dan tetap bangga karena Orang Rimba untuk pertama kalinya bisa  mengadakan upacara pengibaran bendera merah putih 17 Agustus 2020, meski dalam tutupan hutan yang tak lagi rapat. 

"Tentang Kemerdekaan ini aku ukur pada Orang Rimba sendiri. Kita baru baru ini melaksanakan upacara 17 Agustus, kemerdekaan, pertama kali bendera dinaikan dan dihadiri di Orang Rimba," jelas Mijak, murid baca tulis  'Sokola Rimba' yang kini menempuh pendidikan Hukum Tata Negara jenjang  Strata I .

Kesan tersebut menjadi salah satu yang membekas diungkapkan Mijak, dalam diskusi "Sekolah Rimba: Sekolah Merdeka?".  Diskusi yang diadakan oleh Trubus Bina Swadaya (TBS) dihadiri pembicara pendiri Sokola Rimba, Butet Manurung, pengajar Ciliwung  Merdeka, Sumardi Sandyawan dan dipandu moderator anggota pengawas Yayasan Bina Swadaya, Sri Palupi pada Selasa (25/8/2020) pukul 09.00 WIB - 11.00 WIB. 

Orang Rimba, Mijak Tampung saat memberikan pandangan dalam diskusi "Sekolah Rimba: Sekolah Merdeka?".

Mijak menjelaskan,  pandangan Orang Rimba tentang kemerdekaan itu adalah cara menjunjung tinggi derajat adat Orang Rimba dengan berkontribusi menyumbang pangan bagi Indonesia.  Salah satunya, membangkitkan kembali konsep kemandirian pangan melalui bercocok tanam 'behuma betanom' yang sebenarnya sudah diturunkan dari leluhur Orang Rimba sejak zaman dahulu. 

Kegiatan behuma betanom memiliki makna penting, karena Orang Rimba percaya dalam sebatang padi terdapat dewa yang termasuk dewa utama. Dewa ini biasa disebut 'orang depadi' yang memberikan pemakanan berupa padi yang berisi dan subur bagi Orang Rimba.

Upacara saat awal tanam (nugal) dan saat panen (melabuhko uluh tahun) adalah rangkaian interaksi yang dijalin antara para rerayo (orang tua) dengan 'orang do padi' sekaligus dewa-dewa tanaman lain yang ada di ekosistem padi tersebut.

Tetapi, behuma betanom mengalami perubahan akibat pengaruh dari luar kawasan rimba, seperti wilayah Orang Rimba yang berkurang akibat  konversi besar-besaran area hutan yang menjadi kawasan  hak pengusahaan hutan (HPH), permukiman transmigrasi dan perkebunan hutan tanaman industri.

Saat ini, Mijak yang tergabung dalam Kelompok Makekal Bersatu akan kembali melaksanakan behuma betanom pada kebun percontohan yang telah digarap semenjak Mei 2020 lalu. Kebun percontohan ditanami berbagai jenis tanaman pangan khas rimba yakni padi, ubi kayu, pilo, cabe, keladi, hubi, kemalung dan tebu.

Selain itu ada beberapa tanaman pendamping lain seperti pisang, kunyit, jahe, dan tanaman herbal yang bermanfaat jika ada yang sakit. Dalam kebun ini, juga dibangun beberapa komponen penting seperti kolam lele, rangkiang untuk menyimpan padi, lokasi penggilingan padi, dan juga pengolahan tebu menjadi air gula atau biasa disebut penangkilon. 

Mijak berharap, dengan behuma betanom bisa memberikan contoh kepada Orang Rimba untuk tidak berpengaruh dari produk produk pasar dari luar rimba. Selain itu, tidak hanya berpangku tangan pada bantuan pangan pemerintah seperti bantuan beras miskin (raskin) karena dinilai tidak mendidik dan memanjakan.

"Sebaiknya negara bertanggung jawab terhadap komunitas dengan banyak program pemerintah yang harusnya disesuaikan dengan aturan adat Orang Rimba  dan memajukan pemikiran dengan diberikan bantuan pelatihan, juga mengembangkan hutan dan punya penghasilan" tambahnya. 

 

Mengawal Pembangunan dengan Pendidikan Berbasis Adat Istiadat 

Sementara itu, Butet Manurung menjelaskan, ekploitasi sumber daya alam selalu menjadi masalah utama bagi masyarakat adat Indonesia tidak terkecuali Orang Rimba. Di Indonesia, setidaknya 26% penduduk tinggal di dalam (2,48%) dan di sekitar kawasan hutan (23,42%, dari Survey Kehutanan 2014).

Praktik-praktik pengelolaan lingkungan tradisional yang terbukti lestari dan berkelanjutan ini mendapat tantangan besar dari paham pembangunan modern, yang melihat perubahan sosial sebagai gerak linier dari masyarakat tradisional menuju masyarakat modern yang berorientasi pada masyarakat barat.  

Kemajuan hanya dinilai dari capaian indikator kesejahteraan ekonomi, bukan kemajuan sumber daya alam. Kini tersisa sekitar 3.500 jiwa Orang Rimba dalam kawasan hutan Taman Nasional Bukit 12 seluas 60.000 hektare. 

"Tetapi ada sekitar 1200 Orang Rimba yang tidak mempunyai hutan dan tinggal di sepanjang jalan lintas Sumatera. banyak yang meminta minta di situ," jelas wanita berusia 48 tahun tersebut. 

Aktivis pendidikan dan perintis 'Sokola Rimba', Butet Manurung dalam diskusi "Sekolah Rimba: Sekolah Merdeka?"

Butet juga menambahkan, Orang Rimba sebenarnya sudah memiliki mekanisme ketahanan pangan perangkat pengetahuan tradisional dan sistem pendidikan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Terbukti bahwa Orang Rimba mampu hidup secara berkelanjutan dan berkecukupan selama ratusan tahun dengan mengandalkan pengetahuan tradisionalnya tersebut, bahkan ketika orang-orang kota diterpa krisis pangan akibat pendemi Covid-19.  

Orang Rimba mengenal istilah  'nuaron',  merupakan kebun buah hutan yang juga merupakan hasil dari daur ulang limbah dapur Orang Rimba.

Sampah-sampah buah yang menyuburkan tanah serta biji-bijinya yang menjadi bibit mendorong perputaran keragaman hutan. Wilayah jelajah nomadik Orang Rimba menjadi mekanisme penciptaan nuaron- nuaron baru di area rimba Jambi.

Tradisi lainnya, menjalankan prosesi 'melabouh ke ulu tahun', sebuah upacara syukuran dengan mengundang beberapa anggota komunitas untuk menikmati hasil panen bersama . Orang Rimba percaya akan pamali untuk mengambil hasil dari perkebunan orang lain, yang boleh memanen hasil kebun hanyalah orang yang menanamnya.

Tradisi unik lainnya adalah 'melangun'. Melangun adalah adat yang mendorong Orang RImba untuk berpindah tempat tinggal dikarenakan ada anggota keluarga yang meninggal atau terkena musibah.

Tradisi ini merupakan tradisi berduka komunitas untuk menghargai anggota keluarga yang meninggal. Melangun ini secara tidak langsung menjadi mekanisme rehabilitasi alamiah bagi area hutan yang ditinggalkan.

Selain itu, lanjut  Butet, ada istilah 'nyangku' yang merupakan skema saling bantu di mana kelompok yang tidak memiliki makanan meminta ke kelompok yg punya sumber pangan. Nanti saling berbalas (resiprositas) .  

Merupakan mekanisme asuransi pangan melalui penyimpanan budi kepada anggota komunitas lainnya. Di saat terjadi remayau (krisis pangan), anggota komunitas lainnya tersebut akan berbagi hasil buruan serupa

"Orang Rimba tabu memakan hewan ternak dan apapun yang dihasilkan dari ternak  seperti susu, keju, telur dan haram. Tetapi jika mereka berburu mendapatkan kancil mereka harus berbagi kepada kelompok lainnya, jika kelompok tidak mau berbagi, maka percaya akan dihukum oleh dewa-dewa,"tambahnya. 

Butet menjelaskan lebih lanjut, dalam konteks perubahan, pendidikan  'Sokola Rimba' yang didirikan hampir 17 tahun lalu, adalah sebagai strategi adaptasi budaya.  Sekolah atau pengetahuan baru  Sokola mengisi kemampuan beradaptasi sambil tetap menghargai proses transfer pengetahuan lokal yang selama ini ada, sehingga Orang Rimba bisa menjalani kehidupan yang mereka inginkan (self-determination). 

Pendidikan yang dibawa  Sokola Rimba sifatnya harus mendukung dan melengkapi adat istiadat bukan menggatikan yang sudah ada. Pendidikan ditempatkan sebagai bagian dari sistem pengetahuan sebagai unsur kebudayaan yang bersifat universal. Selama alam sekitar masih ada, selama itu pula kebudayaan akan operasional bagi kehidupan dan mengukuhkan identitas komunitas.

Kenapa Orang Rimba tidak diajarkan sekolah formal, kenapa sekolah mau hadir? Butet menjawab,  sekolah formal tidak mengakomodasi cara belajar lokal dan sifat alamiah yang dinamis di alam bebas.

Program di sekolah formal tidak mengajarkan kemampuan yang sesuai dengan potensi alam seperti mengajarkan menjadi pemburu dan pencari jejak yang ulung. Jadi, sekolah formal juga tidak mengakomodasi sistim budaya lokal. 

"Kita yang membuat sekolah dengan waktu semau mereka, mereka terkadang membaca di atas pohon atau memanjat menghitung daun-daun. Sementara sekolah formal yang sudah berdiri di pinggir kampung-kampung sangat menyita waktu dan ada beberapa hal yang dianggap tabu malah berlawanan dengan adat istiadat. Mereka menggap ruang dalam rumah atau sekolah sebagai sebuah kandang hewan,  dan mereka lebih senang menggunakan cawat sebagai busana bukan seragam merah-putih" tambahnya. 

Sokola Rimba juga megajarkan literasi finansial seperti dampak masuknya pasar, dampak plastik terhadap lingkungan, dampak penyedap rasa MSG untuk kesehatan dan efek konsumsi-konsumsi baru yang datang.

Selain itu, Sokola Rimba juga menerapkan prinsip-prinsip yang adaptif terhadap kondisi dan permasalahan lingkungan sekitar untuk belajar mencari solusi atas musibah lingkungan seperti banjir, kabakaran hutan, dan bencana alam lainnya termasuk melawan berbagai penyakit-penyakit. 

"Definisi-definisi lokal harus dipelajari sebagai versi lokal, itulah menurut saya yang memerdekaann mereka bukan dengan konsep luar yang dipaksakan kepada mereka yang malah menjadi terasing dan tak normal,"

"Pendidikan harus lebih dulu sebelum pembangunan," tambahnya. 

Baca Lainnya : Muratara, Sekolah Gedung Pertama Bagi Suku Anak Dalam

Sementara itu pengajar Ciliwung Merdeka, Sandyawan Sumardi menganggap kemerdekaan saat ini sebagai utopia, kerinduan koletif masyarakat Indonesia. Itulah yang menjadi alasan semenjak tahun 2000, dirinya mendirikan sanggar Ciliwung Merdeka. 

Kata "Merdeka" mempunyai konteks bukan sebenanya telah menjadi merdeka melainkan merdeka untuk terlibat ikut menentukan dan membangun sistim. Bukan sekedar merdeka dari penjajahan, atau merdeka dari sistim yang memaksa menggusur. 

"Tetapi kita sendiri harus bisa memproklamirkan diri untuk bisa merdeka untuk menjadi aktor dalam perubahan itu sendiri. merdeka terlibat dalam pembangunan ekosistem di dalam keanekaragaman hayati dan berakar dalam masyarakat," jelasnya

Pria yang akrab disapa sebagai Romo Mulung ini menganggap,  kemerdekaan yang dimiliki Orang Rimba dalam mewujudkan kemandirian pangan jangan terlalu banyak dicampuri untuk menumbuhkan kemandirian mereka sendiri.  

 


 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan: