TBS dan JKMC Gelar Pelatihan Bertani di Pekarangan Rumah untuk Menjaga Ketahanan Pangan Keluarga

TrubusNews
Syahroni
08 Agu 2020   20:02 WIB

Komentar
TBS dan JKMC Gelar Pelatihan Bertani di Pekarangan Rumah untuk Menjaga Ketahanan Pangan Keluarga

P Sigit Herwanto, Trainer Agribisnis dari Toko Trubus saat memaparkan materi tentang aquaponik di Kelas Trubus, Sabtu (8/8). (Foto : Trubus Bina Swadaya)

Trubus.id -- Trubus Bina Swadaya (TBS) bersama Jaringan Katholik Melawan Covid-19 (JKMC) kembali menggelar pelatihan pertanian secara daring, Sabtu (8/8) pagi. Rangkaian pelatihan yang bertujuan untuk mewujudkan kemandirian pangan ini sendiri merupakan salah satu bentuk komitmen TBS dan JKMC dalam mendampingi masyarakat terdampak pandemi dalam upaya memenuhi ketersediaan pangan keluarganya. Pelatihan yang digelar melalui Kelas Trubus kali ini mengangkat tema ‘Kemandirian Pangan Keluarga, Bertani di Pekarangan Rumah’. 

Patut diketahui, Kelas Trubus merupakan media pelatihan secara daring yang kerap digandeng instansi pemerintah maupun swasta dalam mempelajari berbagai materi agribisnis dengan narasumber terpercaya. Di Kelas Trubus, peserta tak hanya diberi materi secara lisan maupun tulisan, namun mereka juga bisa melihat langsung para narasumber mempraktikkan materi yang telah mereka sampaikan. Pascapelatihan, peserta juga masih akan diberikan pendampingan secara daring melalui grup whatsapp hingga satu periode musim tanam. 

Dalam Kelas Trubus kali ini, P Sigit Herwanto, Trainer Agribisnis dari Toko Trubus serta Rudi Paeru, praktisi dan penulis buku agribisnis, berbagi pengalaman dalam memanfaatkan pekarangan rumah agar bisa menghasilkan bahan pangan dan meningkatkan perekonomian. 

Materi pertama yang disampaikan Sigit terkait dengan metode akuaponik berupa budidaya ikan dan sayuran dalam ember sesuai dengan bentuk bantuan yang telah disalurkan JKMC dan TBS di berbagai wilayah. Ia menjelaskan, ikan sebenarnya tidak bisa hidup di kolam yang sempit. Namun berkat kehadiran tanaman dan bakteri, ikan kini bisa hidup dan saling menguntungkan di dalam satu wadah yang kecil. 

“Agar kesepakatan ketiga komponen ini menghasilkan sesuatu yang baik buat manusia maka ada 4 syarat yang harus terpenuhi. Yang pertama, ikannya harus yang mudah dalam pemeliharaannya. Lalu yang kedua, adaptif terhadap lingkungannya. Terakhir, sebaiknya memiliki nilai ekonomi, seperti ikan lele,” jelas Sigit kepada puluhan peserta yang hadir dari berbagai penjuru wilayah Indonesia.

Dari segi tanaman, syarat yang harus diperhatikan agar akuaponik yang dijalankan menghasilkan tentunya juga bernilai ekonomi. Namun, tanaman itu juga harus toleran terhadap nitrit seperti bayam dan kangkung, mudah dibudidayakan dan berumur pendek sehingga ketika panen ikan, peserta juga sudah bisa berulang kali memanen sayuran.

Sigit kembali menjelaskan, acap kali ia mendapat pertanyaan dari warga terkait perbedaan hidroponik dan akuaponik. Dalam kesempatan itu ia pun kembali menjelaskan bahwa metode hidroponik dilakukan secara kimia, sementara akuaponik murni tanpa kimia atau organik.

“Sebenarnya akuaponik dan hidroponik ada 2 sisi yang saling berbeda. Yang pertama hidroponik adalah bercocok tanam yang dilakukan secara kimia. Sementara akuaponik yang kita lakukan adalah organik tanpa tambahan bahan kimia. Kemudian perbedaan lain, pada hidroponik nutrisi didapat dari pupuk, kalau akuaponik dari bakteri. Namun, yang paling mencolok adalah hasil yang didapat. Hidroponik hasilnya lebih tinggi karena terkontrol sementara akuaponik lebih rendah karena dihasilkan secara alami,” ujarnya lagi.

Karena itu, untuk menjaga ketahanan pangan di masa pandemi, ia menilai, akuaponik ini sangat cocok diterapkan di mana saja karena sumberdaya yang dibutuhkan tidak banyak. Untuk jenis ikan yang dibudidayakan juga bisa disesuaikan dengan ketersediaan bibit di wilayah masing-masing. [RN]

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: