Wujudkan Ketahanan Pangan Keluarga Melalui Akuaponik

TrubusNews
Astri Sofyanti
06 Agu 2020   14:10 WIB

Komentar
Wujudkan Ketahanan Pangan Keluarga Melalui Akuaponik

Ilustrasi - Budikdamber. (Foto : Trubus.id)

Trubus.id -- Guna mewujudkan ketahanan pangan keluarga ditengah pandemi virus corona (Covid-19) Plataran UMKM menggandeng Trubus memberikan pelatihan online Ketahanan Pangan Keluarga melalui kegiatan micro farming yang meliputi akuaponik. Micro farming adalah pertanian keluarga dengan memanfaatkan lahan terbatas di pekarangan rumah melalui pertanian produktif.

Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah, swasta, LSM, dan berbagai stakeholder untuk meningkatkan pendapatan keluarga dengan menawarkan program-program yang bisa membantu masyarakat khususnya yang terdampak Covid-19 dan masyarakat tidak mampu agar tetap berpenghasilan.

Kepala Divisi Social Entrepreneurship dan Incubation BRI, Djoko Purwanto mengatakan, selama pandemi Covid-19, kegiatan mikro farming dan ternak skala rumah tangga menyumbang pendapatan keluarga hingga 50 persen dari pendapatan normal.

“Micro farming menyumbang pendapatan keluarga hingga 50 persen dari pendapatan normal. Sehingga tidak hanya dikonsumsi keluarga saja, tapi juga menjadi sumber panghasilan keluarga,” kata Kepala Divisi Social Entrepreneurship dan Incubation BRI Djoko Purwanto dalam webinar Plataran UMKM edisi Ketahanan Pangan Keluarga bersama Trubus, Rabu (5/8/20).

Foto: Akuaponik konsep budikdamber

Peneliti dan Konsultasi Aquaponik, Yudi Sastro menjelaskan akuaponik adalah sistem produksi sayuran yang diintegrasikan dengan budidaya hewan air di dalam suatu lingkungan simbiosis.

Yudi menambahkan, di situasi pandemi seperti saat ini, masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Meski di rumah saja, masyarakat di dorong untuk tetap produktif. “Di mulai dari pekarangan kita bisa memulai sesuatu yang besar. Situasi pandemi mayarakat dituntut untuk menanaman mainset entrepreneur,” jelas Yudi.

Yudi mengatakan ada 3 dampak dari menjalankan buddiaya tanaman melalui sistem akuaponik:

Pertama, dampak sosial pengembangan akuaponik mulai dari meningkatkan kesadaran masyarakat akan pangan, meningkatkan ketahan pangan khususnya di wilayah perkotaan, hingga meningkatkan pengetahuan memproduksi pangan sehat bebas cemaran.

Kedua, dampak lingkungan pengembangan akuaponik yakni mempertahankan kualitas air dan tanah dari cemaran akibat budidaya konvensional, tidak menyebabkan eutrofikasi serta kerusakan habitat, biaya produksi budidaya tanaman dan ikan terjangkau dan tidak merusak lingkungana kibat penggunaan pupuk berbahan kimia.

“Terakhir, dampak ekonominya yaitu meningkatkan keberagaman produksi pangan lokal, menyediakan lapangan pekerjaan, memperpendek rantai transportasi pangan, mengurangi dampak krisis seperti pandemi Covid-19, efisien dalam penggunana air, tidak memerlukan lahan luas, hingga tidak memerlukan pupuk dan pestisida dalam budidaya tanaman,” beber Yudi.

Sementara untuk budikdamber (budidaya ikan dalam ember) yang beberapa wkatu belakangan ini viral, sebenernya juga menerapkan prinsip akuaponik dengan tiga subsistem yaitu tanaman, ikan dan bakteri.

“Budikdamber ini sangat efisien. Kita tidak perlu memberikan pupuk ataupun menyiram. Pemberian pupuk untuk tanaman berasal dari kotoran ikan, sementara untuk penyiraman tanaman berasal dari air kolam. Sehingga cocok sekali di terapkan di pekarangan,” ungkapnya.

Konsep budikdamber ini adalah konsep integrasi ikan lele dan kangkung dengan teknik akuaponik sederhana hanya menggunakan ember.

“Penemu budikdamber ini adalah seorang Dosen dari Politeknik Negeri Lampung, Juli Nursandi, yang kemudian beragam modelnya disempurnakan oleh Trubus,” tutup Yudi.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: