LIPI Kembangkan Aplikasi MACADA, Perangkat Monitoring dan Pengelolaan Mangrove Indonesia

TrubusNews
Astri Sofyanti
06 Agu 2020   09:53 WIB

Komentar
LIPI Kembangkan Aplikasi MACADA, Perangkat Monitoring dan Pengelolaan Mangrove Indonesia

Ilustrasi - Hutan mangrove. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Indonesia merupakan negara dengan ekosistem mangrove terbesar di dunia, dengan 22 persen wilayah mangrove dari perhitungan secara global. Keberadaan mangrove penting untuk ekosistem pesisir.

Selain menjadi tempat mencari makan dan pembibitan keanekaragaman hayati wilayah pesisir, mangrove juga melindungi wilayah pesisir dari abrasi, ombak besar hingga tsunami. Pemantauan dan pengelolaan mangrove yang terstruktur dan berkala sangat penting untuk memetakan dan menjaga ekosistem mangrove.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Oseanografi bersama COREMAP-CTI mengembangkan aplikasi Mangrove Collection and Analysis of Data (MACADA) sebagai perangkat monitoring dan pengelolaan mangrove.

“Namun, saat ini area mangrove di Indonesia telah mengalami penurunan hingga 30 persen sejak tahun 1900-an akibat pembangunan dan aktivitas manusia,” ungkap Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Augy Syahailatua.

Augy menjelaskan, LIPI telah melakukan pemantauan bakau lebih dari 40 lokasi di Indonesia. “Penelitian LIPI telah menghasilkan ribuan kumpulan data struktur komunitas mangrove dari berbagai habitat yang kemudian digunakan untuk mengembangkan alat pemantau mangrove, salah satunya berupa aplikasi MACADA,” tambahnya.

Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, I Wayan Eka Dharmawan, menerangkan aplikasi berbasis Androidini berfungsi dalam melakukan input data dan analisis langsung dari situs lapangan saat melakukan monitoring.

“Aplikasi MACADA adalah salah satu dari tiga alat bantu pemantauan yang telah dikembangkan dari dataset COREMAP,” jelas Wayan.  

Dirinya menjelaskan, aplikasi ini menyediakan parameter struktur komunitas seperti kepadatan, ukuran morfologi, frekuensi, dominasi dan indeks kesehatan mangrove.

Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Yahya Ihya Ulumuddin, menyebutkan penentuan status kesehatan mangrove penting dalam menentukan aksi-aksi pengelolaan yang lebih efektif, seperti penentuan area konservasi dan rehabilitasi.

Saat ini, LIPI telah menerbitkan buku panduan Mangrove Health Index atau indeks kesehatan mangrove, yang digunakan dalam pelatihan MHI Internasional,” ujar Yahya.

Yahya mengungkapkan, MHI dibangun berdasarkan tiga parameter struktur tegakan hutan mangrove, yaitu kerapatan kanopi (dalam %), rata-rata diameter batang pohon (dalam cm) dan jumlah tegakan tiang atau pohon mangrove yang berukuran kecil (diameter batang < 5 cm).

“Indeks ini dapat menggambarkan status kesehatan mangrove, baik dari sisi vegetasi dan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Sehingga, MHI ini diharapkan dapat membantu   pengelola ekosistem mangrove dalam menentukan aksi-aksi pengelolaan,” tutup Yahya.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: