Padi Inpari IR Nutri Zinc, Produk Biofortifikasi Solusi Atasi Stunting di Indonesia

TrubusNews
Astri Sofyanti
28 Juli 2020   09:12 WIB

Komentar
Padi Inpari IR Nutri Zinc, Produk Biofortifikasi Solusi Atasi Stunting di Indonesia

Padi Inpari IR Nutri Zinc. (Foto : bbpadi.litbang)

Trubus.id -- Status gizi buruk pada ibu hamil dan bayi merupakan faktor utama yang menyebabkan anak balita mengalami stunting. Ada banyak sekali hal-hal yang dapat memicu terjadinya gizi buruk ini. Bahkan hingga kini stunting masih menjadi ancaman di Indonesia. Kondisi ini mengancam kemampuan daya saing bangsa, karena anak-anak dengan kondisi tunting tidak hanya tergangu pertumbuhan fisiknya saja, tapi juga perkembangan otaknya. Bahkan pencegahan stuting masih menjadi salah satu fokus utama pemerintah saat ini.

Salah satu penyebab stunting adalah kurangnya asupan zinc (Zn) ke dalam tubuh, terutama bagi ibu hamil dan anak dalam masa pertumbuhan (balita). Stunting terjadi akibat kekurangan gizi kronis terutama pada masa 1.000 hari pertama usia batita (usia anak di bawah tiga tahun).

Dalam mengatasi masalah stunting, Kementerian Pertanian dinilai memiliki peran penting karena upaya penanggulangan kekurangan gizi Zn dapat dilakukan dengan suplementasi, fortifikasi, dan biofortifikasi.

Merespon hal tersebut, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementan melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Barat bersama dengan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya, Kalbar, melakukan panen varietas Inpari Nutri Zinc sebagai dukungan terhadap upaya pencegahan kekerdilan pada anak atau stunting.

Kepala Balitbangtan Fadjry Djufry di Jakarta, Senin (27/7/20) mengatakan pihaknya telah menghasilkan varietas unggul baru (VUB) padi biofortifikasi Inpari IR Nutri Zinc yang memiliki kandungan Zn 6 persen lebih tinggi daripada Ciherang.

“Selama ini masyarakat mengonsumsi beras tanpa memperhatikan kelengkapan gizi. Kekurangan gizi Zn juga menjadi salah satu faktor penyebab kekerdilan atau stunting di masyarakat,” kata Fadjry dikutip dari ANTARA, Selasa (28/7/20).

Biofortifikasi pada Inpari IR Nutri Zinc diharapkan dapat membantu peningkatan nilai gizi sekaligus mengatasi kekurangan gizi.

Sebelumnya diketahui, Kementerian Pertanain pada 2019 lalu melepas varietas padi Inpari IR Nutri Zinc dengan SK Menteri Pertanian 168/HK.540/C/01/2019. Padi fungsional ini dikembangkan untuk mencegah terjadinya stunting telah tersebar ke berbagai pelosok tanah air.

Berdasarkan data deskripsi yang dikeluarkan melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian tahun 2019, bahwa kandungan Zn pada varietas tersebut sebesar 34,51 ppm sementara varietas lain seperti Ciherang memiliki kandungan 24.06 ppm.

Dalam panen padi Inpari Nutri Zinc di Desa Parit Baru, Kecamatan Sungai Raya, Sabtu (25/7/20) lalu diperoleh hasil rata-rata 6,28 ton per hektare.

Rata-rata hasil tersebut didapat dari ubinan yang dilakukan oleh BPS Kubu Raya bersama dengan koordinator BPP Sungai Raya sesaat sebelum panen dilaksanakan. Hasil ubinan 5,2 ton per hektare pada daerah yang tanahnya agak keras dan tersampel pada daerah bekas serangan tikus dan 7,36 ton per hektare pada daerah yang tanahnya berlumpur, sehingga didapat rata-rata hasil 6,28 ton per hektare.

Kepala BPTP Kalbar Akhmad Musyafak menjelaskan Varietas Inpari IR Nutri Zinc merupakan hasil inovasi Badan Litbang mempunyai kadar Zinc 3 kali lipat lebih tinggi dari beras pada umumnya, yang sangat baik untuk digunakan sebagai pencegah stunting.

“Bupati ingin melakukan pencegahan stunting sehingga akan mengembangkan padi IR Nutri Zinc sebanyak mungkin, saran kami kalau bisa 40 persen sawah di Kabupaten Kubu Raya ditanami Nutri Zinc,” ungkapnya.

Dirinya mengakui bahwa padi Nutri Zinc sudah banyak diminati, namun di Kalimantan Barat yang pertama merespons adalah Bupati Kubu Raya.

“Tetapi kabupaten lain sudah mulai akan mengembangkan bahkan Bapak Gubernur juga sudah mulai minta dinas pertanian provinsi untuk mengembangkan Nutri Zinc,” jelasnya.

Akhmad meyakini jika varietas ini ditanam dan dikonsumsi oleh masyarakat desa, akan mampu dapat mencegah gejala stunting yang mungkin terjadi.

Selain itu, jika hal ini dapat diedukasikan kepada kalangan menengah atas, maka nilai jual beras Nutria Zinc juga bisa lebih mahal dari beras yang biasa.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kubu Raya Gandhi Satyagraha mengatakan padi Nutri Zinc akan disebarluaskan di seluruh Kubu Raya sebagai upaya mengatasi masalah stunting di wilayah tersebut yang memiliki angka stunting cukup tinggi di Kalimantan Barat.

Diakuinya, lokasi Desa Parit Baru sebagian akan dijadikan areal tanam benih dan dijadikan sentra benih padi Nutri Zinc yang nantinya akan ditanam kembali di seluruh Kubu Raya termasuk Kuala Mandor B, Kubu, Batu Ampar, Terentang dan Rasau Jaya.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: