KKP Fokus 5 Daerah Percontohan Sistem Klaster Tambak Udang Berkelanjutan 

TrubusNews
Binsar Marulitua
21 Juli 2020   10:12 WIB

Komentar
KKP Fokus 5 Daerah Percontohan Sistem Klaster Tambak Udang Berkelanjutan 

Ilustrasi. Hasil panen udang (Foto : KKP)

Trubus.id -- Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo mengatakan akan terus mendorong intensifikasi dan pengembangan tambak sistem wanamina atau silvofishery.

Perihal tersebut diungkapkan saat panen parsial udang vaname di Desa Margasari Kecamatan Labuhan Maringgai Kabupaten Lampung Timur, Minggu (19/7/2020).
 
"Saya melihat hamparan tambak disini yang produktivitasnya besar adalah tambak yang sudah intensifikasi dengan jumlah rata - rata panen mendekati 20 ton, harga udang saat Pandemi covid-19 ini menunjukkan harga yang bagus dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi", kata Edhy.
 
Menteri Edhy juga  berharap, agar hamparan yang ada dapat dimanfaatkan dengan tidak mengesampingkan kelangsungan hidup tumbuh - tumbuhan, terutama mangrove sehingga hutan mangrove juga dapat dimanfaatkan untuk budidaya perikanan lainnya.
 
"Budidaya tambak udang tidak boleh merusak ekosistem mangrove, jadi perlu dijaga keseimbangan lingkungannya. Nanti dalam pengembangannya, disamping ada yang melalui intensifikasi, juga kita akan kembangkan sistem silvofihery yakni tumpang sari antara mangrove dengan udang/ikan", jelas Edhy.

Dalam rangka menggenjot produktivitas di hulu guna mencapai target peningkatan produksi udang sebesar 250% pada tahun 2024, KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) telah menyiapkan program strategis untuk pengembangan budidaya udang nasional, termasuk di Provinsi Lampung.

“DJPB telah merancang percontohan sistem klaster tambak udang berkelanjutan di berbagai daerah di Indonesia”, ungkap Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto 

Baca Lainnya : Gunakan Tambak Intensif, KKP Targetkan Pantai Selatan Jawa Jadi Sentra Budidaya Udang

Slamet menjelaskan bahwa tahap awal di tahun ini percontohan akan difokuskan di lima daerah dulu yakni di Kabupaten Lampung Selatan, Sukabumi, Sukamara, Garut dan Buol.
 
“Model tersebut mengedepankan pengelolaan teknis yang lebih terintegratif dan ramah lingkungan. Dengan percontohan ini diharapkan akan memicu pembudidaya maupun pihak investor dalam mereflikasi model sejenis”, tegas Slamet.
 
Slamet menambahkan bahwa kita akan fokuskan dalam upaya perbaikan produktivitas yakni melalui intensifikasi. Kita akan upgrade produktivitas tambak tradisional melalui input teknologi, sehingga produktivitas bisa ditingkatkan dari semula 1 ton/ha/siklus menjadi berkisar 10 - 20 ton/ha/siklus. 

Dengan begitu akan ada tambahan produksi udang minimal 400.000 ton per tahun. Saat ini KKP tengah melakukan pemetaan lahan potensial di berbagai daerah untuk dioptimalkan.
  
Sementara Agus Sujono pimpinan UD. Anugerah sebagai salah satu pembeli udang hasil tambak Binaan, mengungkapkan bahwa pihaknya mampu membeli udang dari hasil tambak sebanyak 200 hingga 300 ton setiap bulannya.

Baca Lainnya : Percontohan Tambak Udang Berkelanjutan Segera Dibangun di Perhutanan Sosial Lampung Selatan 
 
Menurut Agus, walaupun dalam masa pandemi ini harga untuk komoditi udang cukup bersaing dipasaran dikarenakan beberapa negara tidak memproduksi.
 
"Untuk harga udang relatif terjangkau untuk pasar dalam negeri, sedangkan untuk pemenuhan pasar luar Negeri, harga cukup kompetitif yaitu untuk harga perkilo dengan  size 30/Rp. 94.000, 40/Rp. 83.000,  50/Rp. 73.000,  60/68.000 dan  100/Rp. 57.000,-" ungkap Agus.
 

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: