Sederet Alasan Harga Beras Masih Tinggi Walaupun Produksi Domestik Diklaim Surplus

TrubusNews
Binsar Marulitua
21 Juli 2020   06:00 WIB

Komentar
Sederet Alasan Harga Beras Masih Tinggi Walaupun Produksi Domestik Diklaim Surplus

Ilustrasi. Petani merontokan gabah (Foto : Binsar Marulitua)

Trubus.id -- Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) mengungkapkan, meningkatkan impor menjadi salah satu solusi untuk mengurangi harga disaat kebutuhan dalam negeri tidak mencukupi. Beras dari luar negeri yang lebih murah akan membuka persaingan sehat. 

"Namun, saat ini impor masih sangat dibatasi,” jelas Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania.

Galuh menjelaskan, tingginya harga beras, diperburuk oleh tarif impor dan pembatasan kuantitatif yang dikenakan pada beras. Tarif Rp 450 / kilogram diberlakukan untuk semua jenis beras impor, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 6/2017.

Terlepas dari klaim bahwa pasokan beras Indonesia berlimpah dan dapat diakses dengan harga terjangkau, masyarakat Indonesia masih berjuang dengan harga beras yang tinggi. 

"Sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 57/2017, harga tertinggi untuk beras ditetapkan Rp9.450 / kilogram untuk beras medium dan Rp12.800 / kilogram untuk beras premium,"tuturnya. 

Baca Lainnya : Proyek Food Estate di Kalteng Mulai Digarap pada Oktober 2020

Galuh juga menerangkan, saat ini, produktivitas beras dalam negeri tidak cukup tinggi untuk menjaga harga stabil dalam menghadapi permintaan Indonesia yang terus meningkat. Produktivitas beras musiman telah mengalami fluktuasi sejak 2013, mencapai rata-rata hanya 5,19 ton / ha per tahun.

Sementara pemerintah mengklaim bahwa hasil beras dalam negeri telah meningkat setiap tahun dan seringkali menghasilkan surplus beras domestik, mereka terus secara konsisten mengimpor beras dari luar negeri.

“Tentu saja ini bertentangan dengan klaim bahwa produksi dalam negeri dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri. Bersama dengan rantai pasokan yang panjang dan infrastruktur yang tidak memadai untuk menjangkau jarak kepulauan Indonesia yang luas, mereka berkontribusi sebagai faktor utama pada harga beras yang tinggi, yaitu biaya logistik," ujarnya

Selanjutnya, terang Galuh, Undang-Undang Pangan Nomor 18/2012 memprioritaskan pengembangan produksi tanaman pangan domestik. Undang-undang tersebut menekankan pada larangan impor jika produksi dalam negeri cukup untuk memenuhi permintaan.

Dengan demikian, impor hanya berlaku ketika permintaan domestik melebihi penawaran terbatas.

"Peraturan ini dimaksudkan untuk melindungi produsen dalam negeri dari pasar internasional dan untuk mencegah mereka menerima harga rendah untuk tanaman mereka,"tambahnya. 

Selain pembatasan tarif dan kuantitatif, impor beras juga dipersulit oleh proses impor yang panjang. Pemerintah telah menunjuk Badan Urusan Logistik (Bulog) sebagai importir tunggal beras kualitas sedang, yang memberi mereka monopoli atas komoditas tersebut. 

Dengan demikian, keputusan untuk mengimpor beras hanya dapat dilakukan setelah kesepakatan dicapai melalui rapat koordinasi antara beberapa kementerian di Indonesia.

“Sayangnya, dibutuhkan waktu yang relatif lama untuk membuat keputusan akhir karena analisis masalah yang berkepanjangan, perbedaan kepentingan masing-masing kementerian, dan dilema data yang terlalu tinggi. Misalnya, untuk menetapkan kuota impor yang diperlukan untuk mengantisipasi permintaan konsumsi dan untuk cadangan stok untuk musim kemarau yang diprediksi. Pada akhirnya, impor beras masih sangat bergantung pada lampu hijau Presiden yang akan diberlakukan,” ungkapanya lagi.

Sebagai informasi, Konsumsi beras nasional per kapita pada 2017 adalah sebesar 97,6 kilogram dan diperkirakan meningkat 1,5% per tahun menjadi 99,08 kilogram per kapita pada tahun 2025. Peningkatan ini terjadi seiring dengan laju pertambahan penduduk. 

Jumlah penduduk Indonesia tercatat 264 juta orang pada 2018, meningkat sebesar 1,27% dari 2017. Dengan demikian, memastikan ketersediaan dan keterjangkauan beras sangat penting untuk memberi makan populasi yang terus bertambah.

 

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: