Bikin Cabai Tahan 30 Hari, Balitbangtan Kembangkan Mesin Penyimpan Buatan

TrubusNews
Astri Sofyanti
20 Juli 2020   12:00 WIB

Komentar
Bikin Cabai Tahan 30 Hari, Balitbangtan Kembangkan Mesin Penyimpan Buatan

Ilustrasi - Cabai merah keriting. (Foto : Trubusid/Astri Sofyanti)

Trubus.id -- Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) terus berupaya mengembangkan berbagai inovasi untuk meningkatkan ketahanan pangan yang berguna bagi masyarakat, salah satunya adalah inovasi Controlled Atmosphere Storage (CAS).

Kepala Balai Besar Litbang Pascapanen (BB Pascapanen (Dr. Prayudi Syamsuri mengungkapkan, CAS mampu menyimpan cabai 2 hingga 3 ton cabai hingga 30 hari. Selain kapasitas menengah, pihaknya juga menyediakan sistem CAS-Mini berkapasitas 20 kilogram.

“Mesin ini mengontrol suhu di dalam kabin penyimpanan pada suhu 7 derajat Celsius sehingga mampu memperlambat proses pembusukan,” ujarnya melalui keterangan tertulisnya.

Baca Lainnya : Balitbangtan Kenalkan Biobestari Agritan, Padi Gogo dengan Produktivitas Rata-Rata 5,8 Ton per Hektare

Seperti kita tahu, cabai merupakan salah satu komoditas penyebab inflasi nasional, terlebih di masa pandemi Covid-19 karena control yang tidak terus menerus sehingga memperburuk kondisi cabai. Rantai pemasaran yang cukup panjang sedikitnya melibatkan lima stakeholder, mulai dari petani hingga ke tangan konsumen menjadikan tingginya risiko kerusakan cabai.

Prayudi mengakui, generasi pertama mesin penyimpan tersebut, masih menggunakan aliran gas manual yang diatur setiap hari dengan kapasitas 20 kilogram. Hasilnya, umur simpan cabai keriting bisa tahan 4 - 5 minggu dengan kerusakan cukup minimal. Selain pengaturan suhu, unsur-unsur penting dikontrol dalam mesin tersebut, seperti kadar oksigen dan karbon dioksida di dalam mesin CAS.

Sayangnya, lanjut Prayudi, selain kapasitasnya yang kecil, pengaturan gasnya masih manual dan tingkat pemakaiannya masih boros. Tahun berikutnya BB Pascapanen pun mengembangkan teknologi mesin penyimpan dengan sistem CAS otomatis. Selain pengaturan gas otomatis, menggunakan aliran gas tabung, kapasitasnya pun sudah meningkat hingga 40 kilogram dan dikombinasikan dengan teknologi MAS (Modified Atmosphere Storage).

“Pengaturan gas, monitoring karbon dioksida dan oksigen pada CAS otomatis dilakukan oleh sistem. Konsumsi gas pun lebih irit dan tingkat presisi karbon dioksida dan oksigen termonitor pun sudah jauh lebih baik dari generasi sebelumnya,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Balitbangtan Dr. Fadjry Djufry mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan mesin penyimpan generasi ketiga yang berkapasitas 2-3 ton. Sehingga bisa menampung cabai petani namun pengumpul sekaligus di sentra produksi.

Baca Lainnya : Balitbangtan Akan Optimalkan Lahan Gambut Tingkatkan Produksi Pangan Nasional

Mesin penyimpan generasi ketiga ini dinamain CAS midi system. Selain kapasitasnya lebih besar, mesin ini juga tidak lagi menggunakan gas tabung atau elpiji (liquefied petroleum gas), namun menggunakan gas generator sehingga biayanya lebih hemat.

“Dari hasil uji komisioning yang telah kita lakukan, cabai keriting yang diaplikasikan denga teknologi CAS dapat bertahan selama 30 hari dengan tingkat kerusakan dibawah 10 persen,” kata Fadjry.

Dirinya mengatakan, mesin penyimpan CAS midi system diharapkan bisa memenuhi kebutuhan penyimpanan di tingkat sentra produksi saat harga cabai jatuh. Selain itu juga dapat menjadi penyangga stok saat pasokan cabai bergejolak.

“Kementan siap menyediakan mesin penyimpan dalam jumlah memadai di tingkat sentra produksi cabai,” tutup Fadjry.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: