Terancam Punah, KKP Gandeng Masyarakat Lepasliarkan 300 Tukik Pantai Paloh, Kalimantan Barat

TrubusNews
Astri Sofyanti
16 Juli 2020   13:21 WIB

Komentar
Terancam Punah, KKP Gandeng Masyarakat Lepasliarkan 300 Tukik Pantai Paloh, Kalimantan Barat

Pelepasliaran 300 tukik di Pantai Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. (Foto : Dok. KKP)

Trubus.id -- Sebanyak 300 ekor tukik dilepasliarkan di Pantai Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Pelepasliaran yang dilakukan oleh Balai Pengelolaaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak bersama kelompok masyarakat sekitar merupakan bentuk komitmen Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam melakukan upaya perlindungan dan pelestarian penyu di habitat alaminya.

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Dirjen PRL), Aryo Hanggono mengungkapkan, semua jenis penyu laut di Indonesia telah dilindungi berdasarkan Permen LHK No. 106 tahun 2018 tentang Jenis dan Satwa yang Dilindungi. Selain itu, penyu juga termasuk dalam daftar merah The International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan masuk dalam apendiks I Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES).

“Penyu sudah terancam punah, maka tugas dan kewajiban kita bersama untuk memastikan upaya konservasi penyu ini. Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, TNI AL, pihak kepolisian, dan NGO, serta seluruh elemen masyarakat harus bersinergi mengelola ekosistem pesisir dan laut. Untuk perlindungan dan pelestarian penyu di Indonesia, KKP juga telah menerbitkan Surat Edaran No. SE 526 tahun 2015 tentang Pelaksanaan Perlindungan Penyu, Telur, Bagian Tubuh, dan/atau Produk Turunannya,” kata Aryo melalui keterangan tertulis yang diterima, Kamis (16/7/20).

Merspon hal tersebut Kepala BPSPL Pontianak Getreda M. Hehanussa menerangkan Tukik yang dilepasliarkan pada Kamis (9/7) merupakan hasil dari relokasi yang dilakukan oleh enumerator BPSPL Pontianak. Menurutnya, selain melakukan pelepasliaran tukik, BPSPL Pontianak sekaligus melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait perlindungan dan pelestarian penyu tepatnya di Pos Monitoring Pantai Sungai Belacan, Paloh.

“Sebagai upaya perlindungan dan pelestarian penyu, BPSPL Pontianak telah melakukan kegiatan monitoring dan pendataan populasi penyu di Pantai Paloh sejak tahun 2016. Bersama dengan WWF Indonesia, BPSPL Pontianak memberdayakan masyarakat lokal setempat yang tergabung dalam Pokmaswas Kambau Borneo dan Wahana Bahari untuk dijadikan sebagai enumerator yang bertugas melakukan pendataan,” tutur Gatreda di Pontianak.

Gatreda melaporkan bahwa penyu yang dominan ditemukan yaitu penyu hijau. Tercatat lebih dari 2.000 ekor yang mendarat tiap tahunnya, bahkan pada tahun 2019 yang lalu mencapai 4.000-an ekor Penyu Hijau yang mendarat.

“Supaya tetap terjaga kelestariannya, telah disediakan hatchery di pos monitoring sebagai tempat relokasi telur penyu. Telur penyu yang berhasil menetas menjadi tukik nantinya akan dilepasliarkan lagi ke laut,” ujarnya.

Pantai Paloh merupakan pantai peneluran penyu terpanjang di Indonesia. Selain itu, Pantai Paloh termasuk dalam Kawasan Konservasi Perairan Daerah sesuai dengan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Barat Nomor 1 Tahun 2019 tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Provinsi Kalimantan Barat.  Sepanjang 63 km Pantai Paloh menjadi habitat peneluran penyu. Berdasarkan data enumerasi BPSPL Pontianak sejak tahun 2016, jenis penyu yang ditemukan yaitu Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricate), dan Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea).”

Getreda mengatakan upaya perlindungan dan pelestarian penyu ini tidak akan bisa berjalan dengan efektif jika belum ada kesadaran dari seluruh kalangan masyarakat akan pentingnya peran penyu dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Selain menggandeng masyarakat, pelepasliaran tukik turut melibatkan Dinas Perikanan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sambas, WWF Indonesia, Pasukan Pengamanan Perbatasan (Pamtas) RI 641, Pos TNI AL Paloh, Pos TNI Temajuk, Resort Paloh BKSDA Kalimantan Barat, Polsek Paloh, Camat Paloh, dan Kepala Desa Sebubus.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan: