Menteri Edhy: Ikan Sidat Indonesia Berkualitas Ekspor, KKP Siap Kembangkan Berskala Industri

TrubusNews
Astri Sofyanti
13 Juli 2020   11:00 WIB

Komentar
Menteri Edhy: Ikan Sidat Indonesia Berkualitas Ekspor, KKP Siap Kembangkan Berskala Industri

Ikan sidat. (Foto : Dok. KKP)

Trubus.id -- Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengatakan bahwa komoditas sidat merupakan salah satu anugerah kekayaan alam di perairan Indonesia. Mengingat potensinya yang besar, dirinya berencana mengembangkan budidaya ikan sidat berskala industri.

“Dengan melimpahnya jumlah benih sidat di Indonesia yang dapat ditemukan seperti di muara sungai pesisir selatan pulau Jawa, bahkan hingga ke Sulawesi, harus dapat kita manfaatkan guna meningkatkan produksi budidaya dan nilai ekspor. Indonesia saat ini merupakan peringkat 10 di dunia sebagai pengekspor sidat dengan kualitas terbaik dengan harga yang termasuk paling mahal di dunia, dan hal itu akan coba kita terus tingkatkan,” kata Edhy ketika melakukan kunjungan ke lokasi budidaya ikan sudat di di Desa Bomo Kecamatan Blimbingsari Banyuwangi, Jawa Timur, baru-baru ini.

Dirinya menjelaskan bahwa saat ini di seluruh dunia untuk budidaya sidat baru pada tahap pembesaran dengan benih yang masih mengandalkan hasil tangkapan di alam, namun sedang diupayakan untuk dapat dilakukan pembenihannya.  

Pengembangan budidaya ikan sudat berskala industri di Banyuwangi, Jawa Timur. Foto: Dok. KKP

“Perusahaan dengan segmen usaha pembesaran sidat hendaknya dapat melibatkan seluruh elemen masyarakat seperti dengan mengimplementasikan kemitraan model inti plasma, dengan perusahaan sebagai intinya,” ucapnya.

Baca Lainnya : KKP Sebut Pendapatan Pembudidaya Ikan Semakin Menanjak

Pihaknya menyatakan bahwa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berkomitmen untuk dapat mencarikan solusi untuk permasalahan yang timbul seperti perizinan dan pemasaran.

“Kesulitan yang ada akan kami coba jembatani dan dicarikan solusi bersama pemerintah daerah dan elemen masyarakat lain untuk peningkatan produktivitas budidaya sidat ini,” beber Edhy.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto menyatakan bahwa KKP siap untuk terus mendorong pengembangan budidaya sidat di kawasan potensial, namun mengingat benih yang masih didapatkan dari alam perlu untuk dilakukan pengelolaan secara bertanggung jawab guna menjaga keberlangsungan habitat sidat tetap lestari.

Dirinya mengatakan, guna menjaga kelestarian dan keberlangsungan populasi sidat, pemerintah juga telah mengatur dalam Peraturan Menteri Kementerian Kelautan dan Perikanan RI No 19 tahun 2012 mengenai larangan pengeluaran benih sidat dari wilayah Indonesia, dimana untuk ukuran kurang dari atau sama dengan 150 gram per ekor dilarang untuk diekspor.

“Perlu dijalin kesepakatan antara pemerintah pusat, daerah, pelaku usaha, nelayan, pembudidaya, peneliti, akademisi serta pemerhati lingkungan untuk membangun komitmen pengelolaan sidat di Indonesia yang bertanggung jawab dan lestari. Penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan serta penggunaan benih untuk budidaya dengan ukuran sesuai ketentuan turut menjadi faktor penunjang keberhasilan usaha budidaya yang dilakukan,” ungkap Slamet.

Menurutnya, selama siklus hidupnya ikan ini berperan sebagai ikan air tawar yakni mulai dari fase glass eel, elver hingga dewasa, kemudian menjadi ikan laut saat akan memijah hingga stadia telur.  Setelah memijah, ikan dewasanya akan mati. Lokasi pemijahan Anguilla bicolor bicolor memijah dekat perairan lepas palung Mentawai Sumatera, sedangkan Anguilla marmorata di bagian barat Pasifik Utara. Sebaran Elver di Pelabuhan Ratu dan Cilacap, pantai selatan Jawa, ada sepanjang tahun dan puncaknya pada bulan Desember hingga Februari dengan komposisi terbanyak jenis Anguilla bicolor bicolor dan sedikit Anguilla marmorata.

Menurut data sementara, hasil produksi sidat di Indonesia pada tahun 2019 mencapai 515.18 ton atau mengalami kenaikan produksi hingga 59 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Sementara itu Head of Aquaculture JAPFA Group, Ardi Budiono menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan kemitraan dengan beberapa pengusaha lokal untuk dapat membesarkan benih sidat dari ukuran glass eel sampai menjadi elver atau proses Shirasu jika menggunakan istilah dari perusahaan. Proses ini memakan waktu kurang lebih 4-5 bulan hingga benih mencapai ukuran 2-3 gram.

Baca Lainnya : Ratusan Ikan Dari Ambon Diterbangkan ke Jakarta untuk Pasien Covid-19

“Setelah mencapai ukuran 2 sampai 3 gram per ekor, kami tampung hasilnya di perusahaan untuk dapat dibesarkan hingga mencapai ukuran panen yakni 250 gram per ekor. Proses selanjutnya adalah dikirimkan ke pabrik pengolahan, untuk dijadikan produk olahan siap santap. Model integrasi budidaya dan pengolahan sidat ini merupakan satu-satunya di Indonesia,” jelas Ardi.

Selain proses produksi yang terintegrasi, Ardi menambahkan bahwa perusahaan juga menerapkan protokol yang ketat pada setiap proses produksi, apalagi di tengah kondisi wabah Covid-19 yang masih mélanda dunia.

Sebagai informasi, JAPFA Group berhasil memproduksi rata-rata lebih dari 100 ton sidat per tahun, atau 380 ton sidat dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. Total nilai ekspor yang tercatat sepanjang tahun 2019 mencapai Rp437 milar, sedangkan pada bulan Januari hingga Juni tahun 2020 total nilai ekspor telah mencapai Rp216 miliar.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: