Sagu Jadi Pilihan Terbaik Gantikan Beras, Begini Kata Ahli

TrubusNews
Astri Sofyanti
10 Juli 2020   14:38 WIB

Komentar
Sagu Jadi Pilihan Terbaik Gantikan Beras, Begini Kata Ahli

Ilustrasi - Tanaman sagu. (Foto : Badan Restorasi Gambut)

Trubus.id -- Sagu memiliki potensi produksi tinggi apabila dibudidayakan dengan baik untuk memastikan ketahanan pangan nasional. Padahal selama ini kita percaya bahwa beras merupakan makanan asli Indonesia, namun menurut temuan para peneliti, sagu ternyata juga dikonsumsi luas sejak dahulu di Indonesia.

Menilik sejarahnya, terdapat relief (pahatan) di Candi Borobudur, yang dibangun pada Abad ke-9 pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra, ditemukan cerita tentang palma atau palem (tanaman) seperti nyiur (kelapa), lontar, aren dan sagu. Menandakan pada zaman tersebut, masyarakat telah terbiasa mengolah sagu sebagai salah satu sumber pangan.

Baca Lainnya : Tanaman Sagu Bisa Jadi Solusi Tepat Cegah Kebakaran di Lahan Gambut

Prof. Bintoro juga menyajikan fakta menarik bahwa secara antropologi, masyarakat Jawa menyebut beras dengan istilah sego, sedangkan masyarakat Sunda menyebut beras dengan istilah sangu. Sego dan sangu berasal dari kata sagu.

Menjelajahi bermacam makanan khas pokok tradisional, sagu ditemukan di berbagai daerah. Di Papua, Maluku dan Sulawesi, bubur sagu menjadi makanan pokok penduduk asli dengan nama atau penyebutan yang berbeda, Kapurung di Sulawesi atau Papeda di Maluku/Papua. Di Kabupaten Meranti, Provinsi Riau, dimana sagu tumbuh bebas di ekosistem gambut yang basah, masyarakat terbiasa mengolah sagu menjadi berbagai jenis produk pangan olahan, seperti: mie sagu; lempeng sagu; sagu rendang; dan, sempolat atau bubur sagu dengan tambahan udang, ikan, cumi atau kerang serta sayur pakis.

Pengolahan sagu saat ini juga semakin modern. Pada industri pangan, tepung sagu mulai diteliti dan dikembangkan menjadi biskuit pendamping air susu ibu atau weaning food¸ sohun instan, dan kue kering. Sagu juga sudah diproduksi dan dipasarkan pada skala UMKM (Usaha Menengah, Kecil dan Mikro).

Prof. Bintoro mengatakan bahwa sagu memiliki nutrisi yang relatif lengkap dan baik bagi tubuh. Di dalam sagu, terdapat karbohidrat dalam jumlah yang cukup banyak serta protein, vitamin, dan mineral.

Baca Lainnya : Sagu Berpotensi Menjadi Pangan Fungsional Pengganti Beras

“Sagu adalah salah satu bahan pangan lokal Indonesia berpotensi, yang perlu lebih dieksplorasi pengembangan dan kegunaannya karena memiliki kadar karbohidrat dan serat yang tinggi. Dengan kandungannya, sagu menjadi solusi pangan pengganti nasi, dan bermanfaat bagi mereka yang mengidap penyakit celiac atau penyakit autoimun yang terjadi akibat mengonsumsi gluten,” kata Prof. Bintoro dalam diskusi daring yang mengusung tema Tanaman Sagu di Lahan Gambut: Potensi dan Tantangan Pengembangan, baru-baru ini.

Potensi Sagu

Melihat potensinya, Prof. Bintoro memaparkan bahwa sagu bisa menghasilkan produksi tinggi jika dibudidayakan dengan baik.

Bahkan dirinya mengatakan, sagu bisa menjadi alternatif makanan pokok yang dapat dimanfaatkan menjadi berbagai macam olahan untuk diversifikasi pangan. Sagu menjadi salah satu tanaman yang dapat memperkuat ketahanan pangan Indonesia di masa yang akan datang.

Meski begitu, dirinya menuturkan ada beberapa tantangan yang dihadapi untuk mendorong produksi sagu.

Di Indonesia, budidaya sagu dikembangkan di areal seluas total 5.539.637 hektare, tersebar di Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Kepulauan Riau, Kepulauan Mentawai, Papua, dan Papua Barat. Kapasitas produksi sagu saat ini hanya sebanyak 250.400 ton per tahun. Terdiri dari sagu rakyat sebanyak 241.000 ton per tahun, sagu perkebunan 6.000 ton per tahun, sagu rakyat Papua 400 ton per tahun, dan sagu perkebunan di Papua Barat sebanyak 3.000 ton per tahun.

Dirinya menambahkan bahwa sagu adalah vegetasi yang cocok tumbuh di lahan gambut. Lahan gambut memiliki pH yang asam dan biasanya dicirikan sebagai lahan yang miskin hara. Namun sagu dapat tumbuh di lahan dengan kondisi tanah seperti itu karena kemampuan tanaman sagu untuk bersimbiosis dengan berbagai mikroorganisme untuk memenuhi kebutuhan unsur haranya.

Sementara itu, Badan Restorasi Gambut (BRG) yang memiliki peranan untuk merestorasi ekosistem gambut Indonesia memanfaatkan potensi sagu. BRG saat ini secara intensif melakukan pendampingan pada masyarakat di kawasan gambut untuk membudidayakan sagu dan memproduki pangan olahan berbahan sagu. BRG mendorong pembudidayaan tanaman sagu di lahan gambut yang rusak, sebab secara ekologis pemanfaatan lahan gambut untuk budidaya sagu memiliki dampak positif jangka pendek maupun jangka panjang.

Selain bermanfaat untuk ekonomi, budidaya sagu diharapkan dapat membantu pencegahan kebakaran gambut.

“secara ekologis, pemanfaatan lahan gambut untuk budidaya sagu sangatlah tepat karena sagu tumbuh pada lahan gambut yang lembab, basah, hingga tergenang menjadikannya sesuai dengan tujuan restorasi gambut, yaitu mengembalikan fungsi hidrologi ekosistem gambut,” kata Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead melalui ketarangan tertulisnya.

Sementara untuk jangka panjang sagu dapat memberi keuntungan ekonomi karena dapat memperkuat ketahanan pangan nasional dan meningkatkan kualitas hidup dan sosial ekonomi masyarakat, terutama petani dan pengolah sagu.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: