LIPI Bagikan Hasil Survei Persepsi Masyarakat terhadap Covid-19 dan Satwa Liar

TrubusNews
Astri Sofyanti
07 Juli 2020   13:00 WIB

Komentar
LIPI Bagikan Hasil Survei Persepsi Masyarakat terhadap Covid-19 dan Satwa Liar

Ilustrasi - Pandemi global. (Foto : Pexels/Anna Shvets)

Trubus.id -- Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko mengungkapkan bahwa hingga saat ini jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia masih terus bertambah. Kondisi ini menjadi keprihatinan kita semua tak hanya Indonesia bahkan dunia.

“Pandemi Covid-19 mengubah berbagai aspek kehidupan mulai dari budaya, lifestyle, hingga mengubah interaksi sosial masyarakat,” kata Handoko dalam Webinar dengan tema Zoonosis dan Satwa Liar, “Hasil Survei Persepsi Masyarakat terkait Covid-19 dan Satwa Liar”, yang disiarkan secara langsung oleh Youtube LIPI, Selasa (7/7/20).

SARS-CoV-2 merupakan virus penyebab Covid-19, virus ini merupakan kelompok famili Coronaviridae yang secara alami ditemukan di beberapa kelompok satwa liar seperti tikus, kelelawar dan satwa liar lainnya. Banyaknya berita yang menyebut jika satwa liar sebagai pembawa virus SARS-CoV-2 menyebabkan beberapa pihak mengambil kebijakan dan langkah yang kontra produktif.

Zoonosis merupakan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya. Gangguan pada ekologi, seperti perambahan hutan, perburuan, dan intensifikasi pertanian menjadikan habitat asli satwa liar terganggu. Hal ini menyebabkan interaksi antara manusia dengan satwa liar menjadi lebih sering terjadi dan meningkatkan potensi penyebaran zoonosis.

“LIPI sebagai lembaga riset yang memiliki kewenangan ilmiah terkait keanekaragaman hayati di Indonesia memandang perlu untuk memberi pertimbangan ilmiah untuk arahan kebijakan terkait zoonosis dan satwa liar,” ujarnya.

Diakui Handoko, penelitian ini merupakan salah satu bentuk respon LIPI pada isu zoonosis, Covid-19 dan satwa liar yang banyak beredar di kalangan masyarakat termasuk salah satunya kebijakan beberapa daerah menyikapi pencegahan penularan melalui langkah membasmi satwa liar. Penelitian yang diawali dengan metode survei ini kemudian diperkaya dengan Focus Group Discussion bersama para pihak dari pemanfaat satwa liar, lembaga swadaya masyarakat dan instansi pemerintah yang memiliki kewenangan terkait zoonosis dan satwa liar.

Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI, Atit Kanti, menjelaskan, perlunya mitigasi dan kesiapsiagaan bagi para pihak terkait pengelolaan satwa liar.

“Dengan webinar ini diharapkan semua dapat mensosialisasikan perlunya mitigasi dan kesiapsiagaan bagi para pihak terkait pengelolaan satwa liar dan potensi munculnya penyakit akibat pemanfaatan yang tidak memperhatikan prinsip keberlanjutan dan kelestarian lingkungan,” jelas Atit.

Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Herry Jogaswara, menerangkan, penelitian ini berawal dari adanya kebijakan pemerintah daerah dalam pemusnahan satwa liar.

“Kami ingin mengetahui instrumen apa yang mereka buat, karena hanya sedikit responden yang setuju mengenai pemusnahan satwa liar,” jelas Herry.

Kemudian, Peneliti zoonosis Pusat Penelitian Biologi LIPI, R. Taufiq Purna Nugraha, survei ini memang berangkat dari kegelisahan, yaitu adanya miskonsepsi dari sebuah peraturan daerah.

“Pendekatan yang mengusung sinergisme manusia dan alam seperti konsep One Health harus dikedepankan. Tidak dapat dipungkiri lagi banyak kemunculan berbagai penyakit infeksius baru dikarenakan ketidak imbangan dalam pengelolaan ketiga unit tersebut,” tutur Taufiq.

Peneliti ekologi manusia Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Sanusi, menyampaikan bahwa faktor utama yang berperan dalam pandemi akibat zoonosis ini adalah manusia. Bahkan ada pemerintah daerah yang melegalkan pembunuhan massal terhadap beberapa jenis satwa liar.

“Padahal satwa liar tersebut hanyalah pembawa, sedangkan faktor utamanya adalah ulah manusia selain faktor alam itu sendiri,” tutup Sanusi.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: