Kementan Kembangkan 14 Varietas Jagung Produksi Tinggi di 2020, Apa Saja?

TrubusNews
Astri Sofyanti
06 Juli 2020   12:00 WIB

Komentar
Kementan Kembangkan 14 Varietas Jagung Produksi Tinggi di 2020, Apa Saja?

Jagung. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan penanaman jagung tahun 2020 seluas 4,49 juta hektare dengan produktivitas lebih tinggi. Salah satu inovasi yang dilakukan yakni dengan mendorong penggunaan varietas jagung berproduksi tinggi di kawasan sentra jagung, tujuannya untuk mendongkrak produktivitas jagug nasional.

Sebagaimana diketahui, jagung merupakan salah satu komoditas yang ditargetkan agar dapat dipenuhi sendiri untuk pakan ternak dan konsumsi dan agar petani jagung semakin sejahtera.

“Rata- rata produktivitas jagung lokal saat ini sekitar 6,4 ton per hektare. Kementan menargetkan produktivitas tersebut naik menjadi 8 hingga 9 ton per hektare. Kementan telah memiliki banyak varietas yang potensinya 11 ton per hektare. Jadi target ini kita optimis wujudkan,” kata Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Suwandi di Jakarta, Senin (6/7/20).

Dirinya menyebutkan minimal ada 14 varietas jagung produksi tinggi yang dikembangkan di kawasan yakni Nasa umur panen 103 hari setelah tanam (hst) potensi produksinya 13,7 ton per hektare, JH37 potensinya 12,5 ton per hektare, JH45 sebesar 12,6 ton per hektare, JH30 sebesar 12,6 ton per hektare, Pertiwi 7 sebesar 12,25 ton per hektare, NK7202 sebesar 12,9 ton per hektare, B59TX sebesar 12,7 ton per hektare, P36 sebesar 13 ton per hektare, BISI 321 sebesar 14,75 ton per hektare, BISI 819 sebesar 14,19 ton per hektare, P37 sebesar 12,1 ton per hektare, DMI 1 sebesar 12,5 ton per hektare, DMI 2 sebesar 12,4 ton per hektare dan varietas Makmur4 potensi produksinya 11,9 ton per hektare. Meski demikian, Suwandi menekankan ini adalah sekedar contoh potensi produksi sesuai diskripsi benih, belum aktual produksi.

“Semua varietas jagung tersebut memiliki potensi hasil diatas 11 ton per hektare dan apabila benih ditanam tidak tepat sesuai kondisi dan persyaratan, maka hasilnya belum tentu mencapai setinggi potensi. Justru ini menjadi tantangan bagi petani untuk berbudidaya secara baik sehingga mampu menghasilkan provitas tinggi minimal mendekati potensi,” tuturnya.

Oleh karena itu, ia mengharapkan kepada para petani agar teliti sebelum membeli dan memperhatikan diskripsi benih disesuaikan dengan kondisi agroekosistem setempat dan kebutuhan. Misalnya pada wilayah kekeringan dan pada lahan ada naungan lebih cocok pakai varietas JH-37, untuk di wilayah dataran tinggi cocok varietas JH 30 dan pertiwi 7, misalnya varietas BISI 321 bisa ditanam di musim kemarau, atau silakan dipilih sesuai diskripsi varietas dan wilayah agroekosistem.

“Ini masih banyak varietas benih jagung yang tidak disebutkan satu persatu, karena banyak jenisnya. Di setiap wilayah petani memiliki selera pilihan benih berbeda-beda berdasar pengalamannya. Silahkan para petani pilih dan ikuti aturan persyaratan budidaya,” ujarnya menambahkan.

Suwandi menambahkan beberapa sentra produksi jagung saat ini sudah bisa mencapai target produktivitas 8 hingga 9 ton per hektare. Peningkatan produktivitas dapat menjamin tercukupinya kebutuhan jagung.

“Kementan jamin produksi jagung, biasanya musim tanam sama mengikuti musim padi. Pola tanam bisa monokultur, bisa tumpangsari, bisa tumpang sisip, pergiliran tanam atau pola lain. Jagung ditanam di lahan sawah, lahan kering, tadah hujan maupun integrasi dengan tanaman kelapa sawit dan lainnya, terpenting tersedia air bisa ditanam jagung. Dimana, penanaman dilakukan secara terus menerus sehingga musim panen terus berlanjut sepanjang waktu,” tutup Suwandi.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: