Proyek Food Estate di Kalteng Mulai Digarap pada Oktober 2020

TrubusNews
Binsar Marulitua
04 Juli 2020   16:00 WIB

Komentar
Proyek Food Estate di Kalteng Mulai Digarap pada Oktober 2020

Ilustrasi sawah di lahan gambut (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengungkapkan, tanah seluas 28 ribu hektare lahan yang akan dijadikan food estate di Kalimantan Tengah (Kalteng) siap diujicobakan pada musim tanam Oktober 2020.  

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono menjelaskan, Food Estate adalah program yang masuk strategis Nasional (PSN) Tahun 2020 hingga 2024. area pengembangan food estate berada di eks pengembangan lahan gambut (PLG). Namun, mayoritas atau sekitar 148.000 hekter sudah berupa tanah aluvial dan tidak terdapat gambut. 

Adapun dari lahan 165.000 hektar, seluas 85.500 hektar sudah menjadi sawah yang dikelola oleh petani eks migran dahulu. Dari jumlah ini, 28.300 hektar masih dalam kondisi irigasi baik dan 57.200 hektar perlu dilakukan rehabilitasi irigasi. 

Kemudian, sisanya seluas 79.000 hektar merupakan area semak belukar yang dulunya merupakan sawah, sehingga perlu dilakukan pembersihan (land clearing).

"Karena musim tanamnya April-September dan Oktober-Maret. Kami mempersiapkan musim tanam Oktober-Maret," kata Menteri basuki di Kantor Kementerian PUPR pada Jumat (3/7/2020) kemarin.

Baca Lainnya : KLHK Ungkap Lahan Gambut Dalam Tidak Bisa Dijadikan Sawah di Kalimantan Tengah 

Menteri Basuki juga menjelaskan, kementerian PUPR akan fokus untuk merehabilitasi jaringan irigasi. Basuki menyebut pihaknya tengah memperbaiki saluran pengairan (water management) sebelum Kementerian Pertanian (Kementan) mengambil alih dengan membangun saluran cacing di petak sawah, penggarapan pupuk, dan pembibitan.

Selain itu, proyek food estate juga melibatkan Kementerian Pertahanan yang bertugas menyalurkan tenaga kerja dibantu oleh Kementerian Desa, Pembangunan Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) sebagai pengelola wilayah dan penduduk transmigrasi.

"Kami programkan 2 tahun selesai. Jadi 2021-2022 semua sudah selesai. Selanjutnya Kementerian Pertanian bisa masuk," tambahnya. 

Selain itu, proyek food estate juga melibatkan Kementerian Pertahanan yang bertugas menyalurkan tenaga kerja dibantu oleh Kementerian Desa, Pembangunan Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) sebagai pengelola wilayah dan penduduk transmigrasi.

Baca Lainnya : Optimalisasi 165.000 Hektare Lahan Pangan di Kalteng Ditargetkan Selesai 2022

Sementara, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ditunjuk sebagai penyedia pupuk garapan petani.

"BUMN mendukung kami tapi aktornya adalah Kementan, Kemenhan juga ditugasi Pak Presiden untuk membantu menyiapkan tenaga kerjanya karena akan dijadikan food estate yang modern, tidak manual tapi harus dengan skilled labours (pekerja terampil)," lanjut Basuki. 

Anggaran proyek food estate Kalteng ini terbagi di beberapa kementerian. Pada Kementerian PUPR keseluruhan penggarapan rehabilitasi irigasi diperkirakan butuh biaya Rp 2,9 triliun.

Untuk pengerjaan desain rehabilitasi irigasi pada tahun ini dana yang dikeluarkan sebesar Rp49 miliar, yang berasal dari APBN 2020. Sementara kebutuhan dana Kementan diperkirakan mencapai Rp 2,1 triliun.

Namun pada tahun ini, mengeluarkan dana Rp 180 miliar untuk pengadaan alsintan, sarana produksi seperti benih, pupuk, dan pestisida.

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Ini 5 Daerah di Jawa Barat dengan Kasus Covid-19 Tertinggi

Peristiwa   11 Agu 2020 - 09:18 WIB
Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: