KKP Restocking 205 Ribu Ekor Rajungan untuk Selamatkan Tangkapan Nelayan

TrubusNews
Binsar Marulitua
02 Juli 2020   14:00 WIB

Komentar
KKP Restocking 205 Ribu Ekor Rajungan untuk Selamatkan Tangkapan Nelayan

Ilustrasi rajungan (Foto : Binsar Marulitua)

Trubus.id -- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tetap melakukan penenebar benih di alam (restocking) rajungan selama  pendemi (Covid-19). Total benih rajungan yang telah dilakukan  restocking hingga saat ini sejumlah 205 ribu ekor. 

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto menyatakan bahwa kegiatan penebaran benih rajungan di perairan umum merupakan upaya pemerintah untuk menyelamatkan stok komoditas bernilai ekonomi tinggi yang sudah mulai langka untuk didapatkan oleh nelayan.

“Dengan nilai ekonomi dan pangsa pasar yang luas, komoditas seperti rajungan merupakan komoditas yang dapat menjadi andalan untuk menjaga stabilitas ekonomi masyarakat, khususnya nelayan dan pembudidaya. Pangsa pasar ekspor yang cukup besar untuk rajungan seperti Amerika Serikat dan Hongkong, namun masih banyak juga negara lain yang menaruh minat kepada hasil produksi rajungan Indonesia seperti China, Malaysia, Jepang, Singapura, Perancis, hingga Inggris,” jelas Slamet dalam keterangan tertulis yang diterima, Kamis (2/7/2020).

Slamet menambahkan bahwa KKP terus mendorong produksi rajungan, kepiting, maupun ikan endemik yang tergolong langka untuk keperluan restocking. Selain itu, upaya restocking ini juga sebagai upaya KKP dalam memperkaya stok rajungan di alam agar dapat menjaga ketahanan pangan masyarakat dan meningkatkan pendapatan.

“Dengan dukungan pemerintah berupa bantuan restocking ini, saya harap dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk kelestarian lingkungan dan peningkatan produksi serta kesejahteraan masyarakat,” pungkas Slamet.

Sementara itu Kepala BPBAP Takalar, Supito mengatakan bahwa selain bernilai ekonomis tinggi, rajungan merupakan komoditas yang teknologi pembenihan dan pembesarannya telah berhasil dikembangkan oleh KKP melalui BBPBAP Jepara dan BPBAP Takalar. 

Baca Lainnya : 43.000 Benih Lobster Hasil Penyelundupan Dilepasliarkan di Pulau Liwungan Pandeglang

“Budidaya kepiting rajungan ini memiliki beberapa keunggulan seperti waktu operasional produksi yang singkat serta dapat dibudidayakan secara polikultur dengan komoditas payau lainnya. Selain itu dapat juga dilakukan dalam skala rumah tangga untuk pembenihan dan dapat dibudidayakan dari sistem tradisional hingga semi intensif untuk pembesarannya,” tambah Supito.

Khusus untuk pembenihan, Supito juga menjelaskan bahwa penentuan lokasi panti pembenihan yang ideal untuk komoditas rajungan hendaknya memperhatikan beberapa elemen seperti kualitas air tawar maupun air laut yang layak bagi kehidupan larva serta akses yang mudah untuk mendapatkan induk  rajungan penghasil larva yang berkualitas. Di samping itu, akses untuk sarana transportasi menjadi nilai tambah lokasi untuk kemudahan pemasaran maupun jalur keluar masuk pembeli maupun pembudidaya.

“Dari sisi teknis, lokasi pembenihan harus dekat dengan pantai berpasir putih atau hitam yang tidak berlumpur, sehingga air laut tetap dalam keadaan jernih sepanjang tahun. Selain itu lokasi juga harus memiliki sumber air dengan salintas 30-34 ppt dan  jauh dari muara sungai sehingga bebas dari polutan. Yang tidak kalah penting ialah adanya jaringan listrik untuk memperkecil biaya operasional dalam pemeliharaan benih ini” tandas Supito.

Baca Lainnya : Sepanjang 2020, KLHK Lepasliarkan 18 Individu Orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting

Sebagai informasi, hingga akhir bulan Juni 2020 BPBAP Takalar telah berhasil memproduksi 310.400 ekor benih rajungan yang diperuntukkan sebagai bantuan langsung kepada pembudidaya maupun untuk kegiatan restocking di perairan umum.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: