Diminati Mancanegara, Sulawesi Selatan Mulai Kembangkan Budidaya Porang

TrubusNews
Astri Sofyanti
01 Juli 2020   13:00 WIB

Komentar
Diminati Mancanegara, Sulawesi Selatan Mulai Kembangkan Budidaya Porang

Tanaman porang kini mulai diminati pasar ekspor karena memiliki beragam manfaat. (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Tanaman porang saat ini mulai dilirik untuk dikembangkan secara luas. Pasalnya, produk dari komoditas ini memiliki manfaat yang luar biasa. Karena potensi ekspornya yang tinggi, kini Sulawesi Selatan mulai gencar melakukan pengembangan budidaya porang.

Porang sendiri merupakan tanaman umbi-umbian lain mengandung karbohidrat, mengandung lemak, protein, mineral, vitamin dan serat pangan. Karbohidrat merupakan komponen penting pada umbi porang yang terdiri atas pati, glukomannan, serat kasar dan gula reduksi.

“Tanaman porang memiliki banyak bermanfaat, namun sebagian masyarakat belum familiar dengan jenis tanaman ini. Porang kini diminati Cina dan Jepang. Porang sendiri minim karbohidrat, sehingga sangat bagus dikonsumsi untuk penderita diabetes,” kata Ketua Tim Penggerak PKK Sulawesi Selatan, Lies F Nurdin dalam siaran pers yang diterima, Rabu (1/7/20).

Istri Gubernur Sulawesi Selatan ini menilai tanaman porang memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi.

Melihat potensinya yang tinggi, Kepala Dinas Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Sulsel, Andi Ardin Tjatjo menjelaskan talas satoimo dan porang akan dikembangkan menjadi komoditi ekspor. Selain itu, juga bisa menjadi sumber ketahanan pangan keluarga. Namun, masih perlu dikembangkan secara lebih luas. Khusus porang, sentranya ada di sepuluh kabupaten. Seperti Bone, Soppeng, Wajo, Pinrang, dan hampir semua daerah di Luwu.

“Untuk talas satoimo produksinya belum besar. Baru sekitar 20 hingga 30 hektare per kabupatennya. Sedangkan porang sudah berkembang baik, karena hampir semua kabupaten sudah menanam,” ujarnya.

Dirinya mengungkapkan, harga porang juga cukup kompetitif. Saat ini harganya sekitar Rp9.000 per kilogram (kg).

“Jika populasinya dalam satu hektare, Rp40 ribu, dan satu tanaman menghasilkan 2 kilogram, maka hasilnya Rp720 juta diperoleh dalam delapan bulan,” ucap Andi.

Direktur PT Satoimo, Arifuddin, selaku pihak yang mengembangkan tanaman porang menilai tanaman ini akan menjadi komoditi primadona. Alasannya, pemeliharaan porang tidak serumit komoditi lain dan harganya cukup bagus. Walaupun masa panennya cukup lama, bisa setahun hingga dua tahun. Pasarnya saat ini, khusus di Makassar sudah ada empat hingga lima pabrik yang siap membeli porang sehingga tidak perlu ada kekhawatiran mengenai masalah pasar.

“Kita berharap pemerintah bisa membuat produk yang bisa dikonsumsi oleh masyarakat kita sendiri. Jangan hanya di ekspor ke Cina, Korea, dan Jepang. Porang memiliki serat yang sangat tinggi, dan karbohidratnya rendah. Beras porang itu namanya siratake, harganya Rp100 ribu per kilo,” bebernya.

Terpisah, Direktur Aneka Kacang dan Umbi Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Amiruddin Pohan mengatakan tanaman porang sebenarnya bukan jenis tanaman pangan yang baru di Indonesia. Menurutnya, tanaman porang sebenarnya sudah bertahun-tahun di tanam masyarakat tapi baru kali ini pemerintah hadir untuk meningkatkan produksi karena pasar sudah jelas.

“Porang memiliki potensi sebagai tanaman ekspor, yang sampai saat ini bahan bakunya masih  sangat kurang. kran ekspor terhadap porang terbuka lebar saat ini. Untuk sementara, yang diekspor itu berbentuk chips dan tepung. Karenanya kami berharap komoditi ini menjadi sumber ekonomi baru bagi petani. Khususnya di Sulsel,” pinta Amiruddin.

Sementara itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi menjelaskan bahwa ekspor sektor tanaman pangan tahun 2019 mencapai 200 ribu ton, senilai Rp2 triliun. Kacang hijau yang masa tanamnya singkat sekitar 2 bulan adalah salah satu komoditas tanaman pangan yang menjadi favorit untuk diekspo, jumlahnya mencapai 33 ribu ton.

“Selain itu ada Porang, jumlahnya mencapai 11 ribu ton. Potensi ekspor dari sektor tanaman pangan masih terbuka dan memiliki ceruk pasar yang besar. Porang salah satu produk Tanaman Pangan yang mempunyai potensi besar dan menjanjikan untuk bisa dikembangkan di pasar internasional. Sesuai dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dengan program Gratieks,” ungkap Suwandi.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: