KLHK Dorong Budidaya Paludikultur pada Program Food Estate di Kalteng

TrubusNews
Binsar Marulitua
26 Juni 2020   08:00 WIB

Komentar
KLHK Dorong Budidaya Paludikultur pada Program Food Estate di Kalteng

Ilustrasi Persawahan di lahan gambut (Foto : Binsar Marulitua)

Trubus.id -- Pemerintah berencana mengembangkan food estate di lahan eks-Pengembangan Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektar di Kalimantan Tengah (Kalteng) sebagai antispasi penyusutan sawah di Pulau Jawa. Pengembangan food estate diharapkan dapat menjadi penyangga pasokan beras nasional. 

Food estate ini merupakan suatu daerah yang ditetapkan sebagai lumbung pangan baru di Indonesia. Lokasi lumbung pangan baru yang juga merupakan bagian dari Program Strategis Nasional (PSN) Tahun 2020 hingga 2024 tersebut berada di Kabupaten Pulang Pisang, Provinsi Kalteng.

Menyikapi hal tersebut, Wakil Menteri Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Alue Dohong mengungkapkan tidak semua kawasan eks PLG bisa di kembangkan untuk persawahan. Hal tersebut disebabkan karena gambut-gambut dalam tidak cocok untuk menanam padi. 

"Jadi tidak benar jika ada anggapan bahwa seluruh kawasan eks PLG akan dibuka kembali seluruhnya lahan sawah, karena Pemerintah sangat paham dan mengerti bahwa gambut-gambut dalam tidak akan cocok untuk tanam padi, melainkan akan dipulihkan dan dikonservasi," tegas Wamen LHK Alue Dohong. 

Baca Lainnya : Sebar Teknik Agroforestry, Petani Ini Tuai Panen di Lahan Gambut Tanpa Membakar

Meski demikian, Wamen Alue Dohong mendorong konsep budidaya tanaman Paludikultur pada lahan gambut. Selain memiliki peran menguatkan ketahanan pangan nasional, menumbuhkan perekonomian masyarakat, Paludiklutur menjanjikan untuk perbaikan dan restorasi gambut yang  berkorelasi positif pada reduksi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan  mitigasi iklim.

"Dengan Paludikultur dapat mereduksi karhutla, karena Paludikultur mensyaratkan kondisi lahan yang tetap basah dan lembab, maka lahan gambut yang basah ini akan mencegah gambut mudah terbakar akibat kekeringan pada musim kemarau," tambahnya. 

Baca Lainnya : Tahap Pertama, Pemerintah Fokus pada 164 Hektare Lahan Gambut untuk Garap Sawah Baru

Wamen Alue menekankan yang utama dari Paludikultur adalah untuk menyelamatkan ekosistem gambut dengan mendorong penanaman tanaman endemik kawasan gambut baik tanaman keras/pepohonan maupun tanaman semusim/budidaya.

Tanaman yang dibudidayakan dalam konsep Paludikultur harus mampu mendorong terbentuknya gambut baru melalui akumulasi sisa biomassa dari budidaya dengan konsep Paludikultur, yang akhirnya akan memperbaiki ekosistem gambut terdegradasi.

"Yang paling penting itu harus berkontribusi pada pembentukan gambut, kalau tidak kita belum bisa sebut sebagai Paludikultur," imbuhnya.

Baca Lainnya : Lumbung Pangan Baru, Pemerintah Akan Garap Konsep Food Estate di Pulau Pisang Kalteng

Dirinya menjelaskan jika saat ini telah tercatat sekitar 534 jenis spesies tanaman endemik lahan gambut seperti sagu, ramin, jelutung, belangiran, gelam, dan lain sebagainya, dan juga ada 81 jenis jumlah tersebut di atas merupakan jenis hasil hutan bukan kayu (HHBK) seperti purun, kangkung, pakis-pakisan dan lain sebagainya yang merupakan jenis yang dapat dikembangkan dalam Paludikultur. 

Di luar jenis-jenis endemik disebutnya tidak cocok disebut Paludikultur. 

"Mis-konsepsi dan mis-interpretasi tentang Paludikultur kerap terjadi, yaitu mengartikan semua tanaman yang bisa hidup dan bertahan tumbuh di gambut dianggap Paludikultur, seperti tanaman kopi arabika, nanas, karet dan kakau," jelasnya. 

Baca Lainnya : Optimalisasi 165.000 Hektare Lahan Pangan di Kalteng Ditargetkan Selesai 2022

Untuk mendukung penerapan paludikultur di lahan gambut, Wamen alue Dohong  pun mengajak semua pihak untuk bersinergi melakukan kajian-kajian untuk menentukan jenis-jenis tanaman Paludikultur yang mampu mendukung ketahanan pangan nasional.

Hal ini merupakan jembatan menjaga kelestarian ekosistem gambut yang akan berkontribusi banyak pada penurunan karhutla,  meningkatkan perekonomian dan kesehatan masyarakat serta berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim. 

 

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: