Pantau Gambut, Doni Monardo: Asap Karhutla Tingkatkan Potensi Bahaya Covid-19

TrubusNews
Binsar Marulitua
24 Juni 2020   12:00 WIB

Komentar
Pantau Gambut, Doni Monardo: Asap Karhutla Tingkatkan Potensi Bahaya Covid-19

Kepala BNPB, Doni Monardo didampingi Menteri LHK Siti Nurbaya saat memberikan keterangan pers usai Rapat Terbatas (ratas), Selasa (23/6/2020). (Foto : Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)

Trubus.id -- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan, terus melakukan pemantauan lahan gambut di seluruh Indonesia untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diprediksi terjadi selama kurun waktu Juni hingga Agustus 2020.

Asap Karhutla berpotensi menyebabkan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) yang diprediksi bisa memperburuk pandemi virus corona SARS-CoV2 (Covid-19). 

“Asap yang pekat inilah bisa timbulkan ancaman kesehatan bagi masyarakat, terutama mereka yang miliki asma atau ISPA. Dampaknya adalah berbahaya bagi mereka yang menderita penyakit asma ini apabila terpapar Covid-19,” katan Doni usai rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo, Selasa (23/6/2020) kemarin. 

Doni meminta semua daerah harus semaksimal mungkin menghindari timbulnya asap pekat kebakaran hutan dan lahan. Dengan demikian kerja keras dari berbagai komponen masyarakat sangat diperlukan.

Baca Lainnya : Deforestasi Netto 2018-2019 Capai 462,4 Ribu Hektare, KLHK Sebut Rendah dan Stabil

Sebagai informasi, luas lahan karhutla tahun 2019 capai 2,59 juta hektare (ha). Selain luasan lahan yang lebih tinggi, karhutla tahun 2019 juga menyebabkan terjadinya perlintasan asap ke luar wilayah Indonesia (transboundary haze) selama 10 hari.

Tahun 2018 luas lahan karhutla hanya 510.564 ha dan tak terjadi transboundary haze. Sementara tahun 2017 transboundary haze selama 2 hari dari luas lahan terbakar 165.484 ha.

Tahun 2016, lahan yang terbakar seluas 438.363 ha. Kebakaran tersebut menyebabkan transboundary haze selama 2 minggu dari akhir Agustus hingga awal September.

Sementara kebakaran terbesar terjadi pada 2015 yang menyebabkan transboundary haze selama lebih dari 2 bulan dari pertengahan tahun hingga awal Desember. Pada tahun tersebut luas lahan yang terbakar seluas 2,59 juta ha.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan jajaranya bahwa di tengah pandemi Covid-19, pemerintah juga memiliki pekerjaan besar untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau. Dia menitikberatkan kepada penggunaan teknologi serta koordinasi setiap instrumen lembaga.

Baca Lainnya : KLHK Tidak Gunakan Metode GFW untuk Umumkan Penurunan Deforestasi Indonesia

Presiden menjabarkan bahwa utamanya dalam mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan adalah manajemen lapangan yang harus terkoordinasi dengan baik untuk memantau area-area rawan. Pemanfaatan teknologi sistem dashboard dalam hal ini akan sangat membantu untuk meningkatkan pengawasan.

“Saya sudah melihat langsung dashboard [di Riau] menggambarkan situasi di lapangan secara rinci dan detail. Saya kira kalau seluruh wilayah yang rawan kebakaran ini bisa dibuat seperti itu, saya kira pengawasan akan lebih mudah,” kata Presiden.

Selain teknologi, Presiden kembali mengingatkan bahwa infrastruktur pengawasan hingga ke tingkat paling bawah harus digunakan secara optimal. Seperti diketahui, setiap wilayah memiliki Bintara Pembina Desa (Babinsa), Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkantibmas), dan kepala desa.

Baca Lainnya : Menteri LHK Ungkap Penurunan Deforestasi Tahunan Indonesia Capai 3,5 Hektare pada 1996 hingga 2000

Pemanfaatan seluruh infrastruktur pengawasan akan membuat penanggulangan dapat dilakukan sedini mungkin. Seperti yang telah berkali-kali dikatakan Presiden bahwa pemadaman api di hutan dan lahan harus dilakukan saat api masih kecil, bukan saat sudah membesar dan merepotkan.

Presiden juga meminta ketegasan penegakan hukum terkait kebakaran hutan dan lahan.

“Kita tahu 99 persen kebakaran hutan karena ulah manusia baik sengaja atau kelalaian. Oleh karena itu penegakan hukum harus tegas dan tanpa kompromi untuk masalah ini,” katanya.

Terakhir, jokowi menyampaikan pesan untuk mencegah kebakaran di lahan gambut. Hal ini dapat dilakukan dengan penataan ekosistem gambut secara konsisten, seperti menjaga inti muka air tanah.

 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: