UGM Uji Alat Tes Cepat Covid-19 Buatan Sendiri pada 25 Puskesmas di Sleman

TrubusNews
Binsar Marulitua
19 Juni 2020   12:12 WIB

Komentar
UGM Uji Alat Tes Cepat Covid-19 Buatan Sendiri pada 25 Puskesmas di Sleman

Tenaga medis dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Sleman mengadakan tes cepat Covid-19 dengan alat buatan sendiri, RDT RI-GHA Covid-19pada Kamis (18/6/2020) (Foto : UGM)

Trubus.id -- Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Sleman mengadakan tes cepat Covid-19 dengan alat buatan sendiri, pada Kamis (18/6/2020). Dengan alat RDT RI-GHA Covid-19, skrining atau deteksi dini Covid-19 dilakukan pada 25 puskesmas di Sleman, Jawa Tengah. 

Dekan FKKMK, Ova Emilia, mengatakan wabah Covid-19 memberikan hikmah tersendiri, salah satunya memacu banyak pihak berpikir inovatif bagaimana cara menolong diri sendiri.

“Banyak inovasi muncul dalam situasi keterbatasan wabah pandemi Covid-19, salah satunya alat yang dikembangkan oleh tim FKKMK UGM, Airlangga dan Universitas Mataram yaitu alat rapid tes yang diberi nama GHA Covid-19, yang menunjukan kepanjangan Gadjah Mada Hematika Airlangga. Ini rapid test yang dikembangkan bersama-sama anak bangsa Indonesia," jelas Ova Emilia. 

Baca Lainnya : Dosen UGM Ungkap Faktor Laut Indonesia Membaik Selama Pandemi Covid-19

Ia berharap dengan dilakukan tes dengan alat ini kepada petugas kesehatan di puskesmas maka puskesmas-puskesmas mendapat jaminan kesehatan dan para petugas kesehatan dapat diketahui statusnya serta aman sehingga hal ini berdampak masyarakat tidak takut lagi berkunjung ke fasilitas kesehatan.

Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Ika Dewi Ana menyatakan RI-GHA COVID-19 merupakan sebuah alat deteksi dini berbasis antibodi. Keunggulan alat rapid tes untuk Covid-19 ini adalah cepat, hasil dapat dibaca dalam 15 menit, spesifik, mudah digunakan. 

Biaya produksi terjangkau dan dalam jangka panjang, RI-GHA COVID-19 dapat mendukung pemantauan perkembangan Covid-19 di Indonesia seperti untuk upaya contact tracing dan surveilans.

Salah satu peneliti, Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Sofia Mubarika Haryana, mengatakan pembuatan inovasi uji diagnosis cepat (rapid diagnostic test/ RDT) Covid-19 yang berbasis antibodi untuk mendeteksi IgM dan IgG yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan Covid-19.

"Di samping untuk skrining, GHA COVID-19 dapat juga digunakan untuk memonitor OTG, ODP, PDP, atau pasca infeksi. Selain biayanya yang murah, rapid diagnostic test ini memiliki kelebihan dapat deteksi cepat 5-10 menit, mudah, praktis, sensitivitas yang tinggi serta sangat spesifik," terangnya.

Sebagian bahan, katanya, masing mendatangkan dari luar dengan perbandingan 50:50 sehingga alat rapid test inipun jauh lebih murah. Ia berharap dengan adanya RI-GHA Covid-19 di fasilitas layanan kesehatan dan komunitas maka tidak ada lagi pasien yang terlambat ditangani.

“Awal kita memproduksi 10 ribu, dan selanjutnya kita akan memperbesar produksi, dan Departemen Kesehatan sudah memesan 2 juta," imbuhnya.

Bupati Sleman, Sri Purnomo,., menyambut baik pelaksanaan rapid test untuk petugas kesehatan puskesmas-puskesmas di Sleman. Ia berharap alat rapid test RDT-GHA Covid-19 dapat diperbanyak sesuai dengan standar WHO.

Baca Lainnya : Hespridin pada Kulit Jeruk Bisa Tangkal Corona, Begini Cara Sajinya

Dengan alat rapid test yang harganya lebih murah tentu akan lebih terjangkau dan bisa dilakukan tes dimana-mana. Dengan alat yang lebih sederhana diharapkan masyarakat yang ada di Yogyakarta dan di Indonesia banyak yang bisa melakukan rapid test sehingga statusnya semakin jelas disaat memasuki new normal.

“Covid-19 ada di sekitar kita dan tidak perlu takut untuk bekerja dan menjalankan roda perekonomian, ketika kita tahu cara pencegahannnya. Tentunya cara-cara semacam ini memberi rasa aman pada orang tua yang menyekolahkan anaknya di Yogyakarta karena sebentar lagi kita akan menyambut datangnya para mahasiswa baru," tuturnya.

Beberapa peneliti lain yang terlibat mengembangkan RI-GHA COVID-19 yaitu Tri Wibawa, ahli virologi sekaligus Guru Besar FK-KMK UGM,  Mulyanto, Alumni FK-KMK UGM yang juga seorang peneliti Laboratorium Hepatika Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Selanjutnya  Fedik Abdul Rantam, ahli Virologi dan Prof. Cita Rosita Sigit Prakoeswa, Guru Besar Universitas Airlangga Surabaya.


 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: