LIPI Rekomendasikan Teknologi Penanganan Daging Kurban yang Aman di Masa Pandemi Covid-19

TrubusNews
Astri Sofyanti
18 Juni 2020   11:00 WIB

Komentar
LIPI Rekomendasikan Teknologi Penanganan Daging Kurban yang Aman di Masa Pandemi Covid-19

Ilustrasi - Proses pemotongan daging kurban usai di sembelih. (Foto : Trubusid/Hadi Nugroho)

Trubus.id -- Perayaan Hari Raya Idul Adha tahun ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya, seluruh umat muslim tahun ini akan merayakan Idul Adha di tengah situasi pandemi Covid-19. Kondisi ini membuat masyarakat harus beradaptasi dengan era normal baru (new normal) yang mengharusnya masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan di setiap kegiatan, salah satunya dalam pelaksanaan penyembelihan hewan kurban.

Lantas, bagaimana cara yang direkomendasikan dalam pengelolaan daging kurban pasca penyembelihan di masa pandemi Covid-19?

Kepala Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Satriyo Krido Wahono mengatakan, manajemen pengelolaan hewan kurban harus memperhatikan beberapa aspek, seperti aspek ilahiyyah (ibadah dan taqarrub) dan insaniyaah (kemanusiaan, sosial, dan ekonomi).

“Aspek kesejahteraan hewan menjadi isu yang juga diperhatikan, untuk menghasilkan produk daging kurban yang berkualitas dan sesuai dengan syariat,” jelas Satriyo mengutip siaran pers di laman resmi LIPI.

Dirinya mengungkapkan, kegiatan dimulai dari pemeliharaan hewan kurban, penjualan, pengiriman penyembelihan, hingga pembagian kepada masyarakat harus memperhatikan aspek keamanan pangan yang berpedoman pada ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal).

Membeli Hewan Kurban secara Daring

Penerapan pembatasan soaial di tengah adaptasi new normal dilakukan sebagai upaya mencegah penyebaran virus corona membuat mobilitas masyarakat terbatas. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk melakukan pembelian dan penjualan hewan kurban secara daring.

“Untuk meminimalisir kontak langsung, masyarakat bisa memanfaatkan daring untuk membeli atau menjual hewan kurban dengan mengetahui data gigi, foto hewan kurban secara fisik, dan bobot badan digital. Disarankan juga agar calon pembeli hewan kurban telah mengenal penjual,” jelas Awistaros Angger Sakti, peneliti domba dari Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam LIPI.

Teknologi Preservasi Daging

Sebagian besar daging mengandung protein dan bahan-bahan organik yang sifatnya mudah rusak sehingga perlu perhatian khusus. Kerusakan pada daging pasca penyembelihan dapat disebabkan tiga faktor yakni pertama faktor biologis (akibat mikrobiologi). Kedua faktor oksidasi (zat kimia), terakhir karena faktor dehidrasi dan enzimatik.
 
Untuk mengatasi kerusakan daging agar tidak membusuk sehingga aman dikonsumsi masyarakat, memperpanjang waktu simpan, dan memperbaiki kualitas produk maka distributor daging dapat menggunakan teknologi presevarsi daging sebelum dikemas.

“Pengemasan daging kurban terlebih dahulu dengan memanfaatkan teknologi sebelum didistribusikan adalah cara yang aman guna melindungi produk dan konsumen dari paparan penyakit,” tutur peneliti Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam LIPI, Andi Febrisiantosa.
 
Terdapat tujuh teknologi preservasi daging yaitu cold storage, dehydrating, salting and curing, smoking and cooking, canning, irradiation, dan standardization, blending and emulsification.

“Setelah dilakukan preservasi, daging dikemas dengan memeperhatikan aspek pengemasan yakni kemasan harus melindungi dari perubahan fisik, kimiawi, dan biologis serta efisien agar masyarakat yang akan mengonsumsi daging kurban tetap terlindungi,” ucap Andi.

Sebelumnya, Kementerian Pertanian telah mengeluarkan Surat Edaran tentang Pelaksanaan Kurban di Masa Pandemi Covid-19 agar berjalan aman.

Pelaksanaan kurban diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 114/Permentan/ PD.410/9/2014 tentang Pemotongan Hewan Kurban. Sehubungan dengan pelaksanaan pemotongan kurban pada Hari Raya Idul Adha 1441 H, pemerintah berupaya melakukan penyesuaian tentang pelaksanaan kurban, mengingat saat ini Indonesia masih berada dalam situasi pandemi Covid-19.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Dirjen PKH Kementan), I Ketut Diarmita, mengatakan, kegiatan kurban yang meliputi penjualan hewan kurban dan pemotongan hewan kurban perlu dilakukan penyesuaian terhadap prosedur new normal atau kenormalan baru dalam situasi pandemi Covid-19.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: