LIPI Dorong Pembentukan Kelompok Kerja Nasional Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami

TrubusNews
Binsar Marulitua
16 Juni 2020   16:30 WIB

Komentar
LIPI Dorong Pembentukan Kelompok Kerja Nasional Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami

Ilustrasi rumah terdampak bencana gempa bumi (Foto : LIPI)

Trubus.id -- Badan Informasi Geospasial mengungkapkan Indonesia merupakan wilayah rawan bencana gempa bumi dan tsunami. Untuk mengatasi dan  meminimalisir resiko ketika gempa bumi atau tsunami terjadi maka diperlukan mitigasi bencana yang terencana.

Peneliti senior bidang geologi Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman Natawidjaya menjelaskan bahwa ada tiga prinsip yang harus diketahui untuk mitigasi bencana terencana seperti gempa bumi dan tsunami. 

Ketiga prinsip tersebut yaitu pengetahuan dan pemahaman sumber bencana melalui riset yang serius, instrumentasi yang tepat sesuai dengan sumber dan tujuannya, dan tindakan mitigasi yang efektif sesuai dengan karakter sumber bencana, kondisi wilayah dan masyarakat.

”Kita harus meningkatkan mitigasi itu tidak hanya regional, nasional, tapi harus disesuaikan dengan sumber bencana setiap wilayah,” ungkap Danny beberapa waktu lalu. 

Baca Lainnya : Menyoal Fenomena Munculnya Ribuan Cacing Tanah ke Permukaan dan Pertanda Ilmiah Gempa Bumi

Danny menjelaskan, tindakan mitigasi bencana yang bisa dilakukan ialah melalui penataan tata ruang yang aman bencana; membuat aturan kode bangunan tahan gempa; digalakannya pendidikan dan penyiapan masyarakat yang tangguh terhadap bencana, sesuai dengan karakter sumber bencana di setiap wilayah serta harus spesifik.

 “Juga penerapan sistem peringatan dini bencana oleh pemerintah maupun secara mandiri, dan terakhir analisis bahaya dan risiko,” jelasnya.

Menurut Danny, kondisi sumber gempa, tsunami dan gerakan tanah di indonesia sangat banyak dan beragam. Setiap wilayah berbeda beda karakter sumber gempa atau tsunaminya dan juga bahayanya, keberagaman ini jelas harus diketahui dan dipahami sebaik-baiknya sehingga usaha mitigasi bencananya termasuk untuk Early Warning System (EWS) menjadi lebih sulit sehingga perlu program riset yang serius.

 Selain itu, Danny menjelaskan bahwa prioritas mitigasi gempa berdasarkan dua aspek yaitu tingkat bahaya dan risikonya, serta tingkat kemungkinan akan terjadinya bencana.

Baca Lainnya : Hespridin pada Kulit Jeruk Bisa Tangkal Corona, Begini Cara Sajinya

Mengingat kompleksnya monitoring, mitigasi dan sistem peringatan dini gempa dan tsunami, khususnya karena keberagaman karakteristik sumber dan kondisi wilayah maka perlu dibentuk kelompok kerja nasional yang multidisiplin dan lintas instansi.

“Seperti misalnya Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN) yang dibentuk untuk update Peta Seismic Hazard Indonesia secara berkala,” pungkas Danny

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: