Benarkah Mengonsumsi Telur Infertil Berbahaya untuk Kesehatan?

TrubusNews
Binsar Marulitua
15 Juni 2020   08:00 WIB

Komentar
Benarkah Mengonsumsi Telur Infertil Berbahaya untuk Kesehatan?

Ilustrasi telur Infertil (Foto : Istimewa)

Trubus.id -- Kementerian Pertanian (Kementan) telah melarang  peredaran Telur ayam HE alias hatched egg (HE) seperti telur infertil melalui payung hukum Permentan No. 32 Tahun 2017 tentang Penyediaan, Peredaran dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi. Benarkah mengonsumsi telur infertil berdampak buruk pada kesehatan?

Penemuan adanya telur infertil berawal dari sidak yang dilakukan Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan, Kota Tasikmalaya di Pasar Cikuburuk, Selasa (9/6/2020). Di tangan pedagang, telur-telur kiriman dari Lampung itu dihargai lebih murah dari telur ayam ras.

Secara fisik, ciri telur ayam infertil bisa dibedakan dengan warna cangkang yang pucat atau keputihan dan jika diteropong dengan senter seringkali tampak bintik merah. Harganya pun lebih murah dari harga ayam ras pada umumnya yang biasanya dijual di atas Rp 20.000 per kilogram di pasar. 

"Telur infertil memiliki bercak tak sempurna berwarna putih bernama blastodisc pada kuning telurnya. Biasanya bercak tersebut berukuran sekitar dua milimeter," jelas Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Dirjen PKH Kementan), I Ketut Diarmita.

Baca Lainnya : Lumbung Pangan Baru, Pemerintah Akan Garap Konsep Food Estate di Pulau Pisang Kalteng

I Ketut Diarmita, menjelaskan telur infertil sebenarnya bisa dikonsumsi asal belum busuk. Sebab daya simpan telur fertil atau yang disebut telur HE (hatching egg) lebih pendek sehingga lebih cepat membusuk atau hanya bertahan 7 hari.

Selain itu, potensi risiko kesehatan bagi masyarakat apabila mengkonsumsi telur infertil dari breeding farm ini.

"Karena adanya residu fumigasi dari formaldehid dan ikut terkonsumsi serta masuk dalam saluran pencernaan manusia,"jelasnya. 

I Ketut Diarmita menjelaskan telur infertil berbeda dengan telur tetas, yang memang secara khusus dijual untuk metode penetasan. Telur tetas ini berasal dari induk yang telah dibuahi oleh pejantan.

Sedangkan telur infertil adalah telur tetas atau hatching egg (HE) yang tidak dibuahi oleh sel sperma dari ayam jantan. Pembuahan telur HE melalui Inseminasi Buatan (IB) atau pencampuran dengan pejantan dalam pemeliharaannya. 

Telur infertil ini merupakan ayam ras yang telah melewati masa inkubasi 18 hari (dalam mesin setter/inkubator).

Sementara itu, kepala program studi gizi kesehatan FK-KMK UGM, R Dwi Budiningsari mengatakan, telur infertil dikhawatirkan dapat menimbulkan masalah kesehatan jika dikonsumsi

Namun, berdasarkan studi dari Universitas Gajah Mada (UGM), tidak ada perbedaan nilai gizi antara telur ayam yang fertil atau infertil.

"Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan perbedaan kandungan nutrisi antara telur yang dibuahi dan telur infertil," kata kepala  R Dwi Budiningsari dikutip dari situs resmi UGM. 

Baca Lainnya : Lumbung Pangan Baru, Pemerintah Akan Garap Konsep Food Estate di Pulau Pisang Kalteng

Menurutnya, kedua kategori telur tersebut sama-sama bisa dan aman untuk dikonsumsi, tetapi dengan catatan keduanya masih sama-sama layak atau belum busuk. Daya simpan telur fertil atau yang disebut juga telur HE (hatching egg) lebih pendek sehingga lebih cepat membusuk yaitu hanya bertahan selama 7 hari. 

Sedangkan telur ayam ras yang dihasilkan peternak layer bisa bertahan selama 30 hari di suhu ruangan. 
 
Perbedaan mendasar antara telur fertil dan infertil ini terletak pada ada tidaknya sperma ayam jantan. Telur infertil bukan telur untuk ditetaskan. Telur yang terbentuk tidak mengandung sperma ayam pejantan.

Sedangkan pada telur fertil merupakan telur yang dapat ditetaskan karena di dalamnya terdapat sperma pejantan.
 
Ketua PERGIZI Pangan DIY ini menjelaskan bahwa ayam betina bisa bertelur, baik melalui kawin dengan pejantan maupun tidak melalui proses perkawinan. Ayam betina tetap menghasilkan telur tanpa perkawinan selama masih diberikan makanan dengan baik.

Sementara pada telur fertil bisa ditetaskan karena dibuahi oleh pejantan.
 
"Telur ayam fertil maupun infertil semuanya aman dimakan. Yang membedakan hanya ada sperma atau tidak di dalamnya,"terangnya. 
 
Sementara terkait kandungan gizi pada telur ayam, dia menyebutkan telur ayam kaya akan nilai gizi terutama protein yang bernilai tinggi.  Telur digunakan sebagai standar protein sejumlah makanan atau diistilahkan dengan Protein Senilai Telur (PST). 

Kandungan protein telur dijadikan standar dan diberi nilai maksimal yaitu 100. Sementara itu pada bahan pangan lainnya disetarakan dengan kandungan protein telur yang umumnya mempunyai nilai di bawah 100. 
 
Tak hanya itu, dalam telur ayam juga terkandung lemak. Lalu, berbagai macam vitamin seperti vitamin A, B, D, E. Selain itu, juga terkandung beragam mineral seperti zat besi, fosfor, selenium, serta asam amino lengkap yang diperlukan bagi tubuh.

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan:          
Bagikan: