KKP Latih 2.501 Pembudidaya Produksi Pakan Mandiri Secara Online

TrubusNews
Binsar Marulitua
12 Juni 2020   21:00 WIB

Komentar
KKP Latih  2.501  Pembudidaya Produksi Pakan Mandiri Secara Online

Sejumlah peserta mempraktikan membuat pakan ikan secara mandiri. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyelenggarakan “Pelatihan Pembuatan Pakan Ikan” secara online pada Kamis (11/6/2020).  (Foto : Humas KKP)

Trubus.id -- Tingginya harga pakan menjadi tantangan bagi para pembudidaya untuk memperluas usahanya. Hal tersebut mendorong Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan  (Puslatluh KP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyelenggarakan “Pelatihan Pembuatan Pakan Ikan” secara online pada Kamis (11/6/2020). 

Dalam pelatihan tersebut tercatat sebanyak 2.501 peserta dari 33 provinsi di Indonesia hadir mengikuti pelatihan ini.  Para peserta  datang dari latar belakang profesi yang beragam di antaranya penyuluh perikanan, aparatur negara, mahasiswa, guru, dosen, karyawan swasta, buruh, ibu rumah tangga, pencari kerja, tenaga medis, hingga TNI/Polri. 

Melalui pelatihan pembuatan pakan kali ini, BP3 Tegal selaku fasilitator pelatihan  pun memberikan materi cara pembuatan pakan dari bahan-bahan lokal yang ada di sekitar masyarakat. 

Selain itu, disampaikan inovasi berupa tahapan-tahapan baru untuk menghasilkan pakan mandiri yang berkualitas dan efisien. Hasilnya, pakan yang dihasilkan memiliki beberapa keunggulan. Salah satunya yaitu harga yang relatif lebih murah sehingga dibandingkan embudidaya bisa menghemat biaya pakan hingga 50%. 

“Kalau dari pabrikan harganya bisa Rp12.000/kg. Sementara kalau kita buat sendiri harganya bisa berkisar Rp5.000-Rp7.000/kg, tergantung kualitas bahan baku yang digunakan,” ujar Rianto, pelatih BP3 Tegal yang memfasilitasi pelatihan kali ini. 

Ia mengatakan bahwa memang Food Convention Ratio (FCR) rasio antara berat pakan yang diberikan dengan berat total (biomassa) yang dihasilkan dalam satu sikulus periode budidayayang dihasilkan pakan mandiri lebih rendah dibandingkan dengan pakan produksi pabrik. Namun, angka FCR yang dihasilkan masih cukup baik dan menguntungkan.

“FCR pakan fabrikan biasanya 1, sedangkan FCR pakan kita berada di kisaran 1,2-1,4. Memang lebih rendah namun dengan selisih harga yang lebih murah 50% itu saya rasa masih sangat menguntungkan untuk pembudidaya,” papar Rianto. 

Selain itu, pakan mandiri ini juga memiliki keunggulan dalam kecernaannya yang cukup tinggi. Dengan begitu, waktu pertumbuhan ikan tak jauh berbeda dibanding bila menggunakan pakan produksi pabrik. 

Dengan berbagai keunggulan yang menggiurkan tersebut, Kepala BRSDM Sjarief Widjaja mengingatkan para peserta latih bahwa diperlukan manajemen usaha yang baik untuk menghasilkan produksi pakan serupa.

Pertama, para peserta harus memastikan bahwa bahan baku pembuat pakan yang dibutuhkan tersedia di wilayah sekitarnya. 

“Diperlukan beberapa bahan baku untuk membuat pakan. Beberapa di antaranya jagung, bungkil kelapa, dedak, dan rucah ikan. Kita harus pastikan bahwa bahan baku ini tersedia di sekitar kita sehingga kita tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi yang besar untuk mengumpulkannya,” jelas Sjarief. 

Kedua,ia mengarahkan para peserta untuk membuat perhitungan matang tentang volume pakan yang dibutuhkan oleh pembudidaya di kawasan sekitar produksi. Para peserta diminta untuk menata jadwal produksi agar langsung terserap oleh pembudidaya sekitar. Dengan begitu, pakan tidak perlu disimpan terlalu lama karena akan memakan biaya. 

“Teman-teman coba nanti mulai buat simulasi jadwal tanam, tebar ikan, produksi material pakan, dan produksi pakan kita. Ini harus ditata dengan teratur,” pesannya. 

Sjarief menyampaikan bahwa produksi pakan masih memiliki potensi yang sangat besar. Pasalnya, perikanan budidaya akan berkembang dalam lima tahun mendatang. 

“Luas area budidaya Indonesia itu hampir 2 juta hektar sedangkan yang sudah terkelola baik sampai saat ini baru 400.000 hektar. Artinya, masih banyak area budidaya kita yang belum dioptimalkan. Ini menjadi peluang bagi kita,” ucapnya

Ia berharap, pelatihan pembuatan pakan ini bisa melahirkan pengusaha-pengusaha ikan mandiri sehingga kebutuhan pakan masyarakat bisa terpenuhi. 

“Saya harap nanti pakan hasil produksi kita itu minimal bisa memenuhi 1 kecamatan di tempat kita tinggal. Semoga apa yang kita pelajari hari ini bisa bermanfaat dan menjadi penopang untuk ekonomi rumah tangga kita,” tandasnya.


 

  0


500 Karakter

Artikel Terkait

Bagikan:          
Bagikan: